25 Nov 2012

TeruntukMu

Kata yang berujung do'a,
Permintaan yang kadang memaksa
Meski amarah seringkali membabi buta
Akan do'a yang tidak menyentuh bibir kenyataan yang ada.

Derai air mata oleh dosa yang pilu,
Ku lantunkan Al-Qur'an dalam bisu
Tasbih yang kusebut selalu
Ku agungkan namaMu dalam syahdu.

CiptaanMu yang melampaui batas luar biasa
Sang bagaskara ataupun purnama
Kata syukur yang terkadang lupa
Nyatanya Kau ada, meski bias dalam mata.

Tuhan, seringkali ku berbicara akan lelah
Tentang semua perbuatan yang bermuara pada salah
Walau diri berkata kuat, ku akui aku lemah
Tak sanggup akan hidup yang membuatku jengah.

Maaf yang selalu ku ucap kini
Meski kadang ku lakukan lagi
Bertubi-tubi tangis ini membucah kembali
Akan perih yang kurasa sampai saat ini.

Selalulah bersamaku,
Kadang kumerasa tak ada yang peduli terhadapku
Acuh yang berkepanjangan selalu
Kesepian yang membuncah dalam pilu.

Aku mencintaiMu,
Ku yakin Kau tahu itu
Meski cintaku tak sebesar cintaMu
Yakinkan ku Kau memang mencintaiku.

Apa lagi yang ku lupa?
Maaf, syukur, do'a atau dosa?
Atau permintaan yang memaksa?
Sandarkan diriku pada kenyataan, bukan fatamorgana.

Semuanya ku serahkan padaMu yang lebih tahu akan aku.
Aku hanya meminta yang terbaik untukku
Bahwa itu memang yang terbaik, yakinMu
Meski kadang itu lebih dari buruk bagiku.

 Tuhan, terima kasih, maaf, aku mencintaiMu.


That's my feel, D.

4 Nov 2012

Sekarang atau Tidak Sama Sekali -End-

Silahkan baca sebelumnya di Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part III-

Aku bertemu denganmu lagi Ryan, dirimu yang sebelumnya ingin aku lupakan, dan tidak ingin lagi kuingat. Tapi kamu malah datang lagi merabah hati, pikiran yang sepi ini. Jadi, sekarang aku harus apa? Melanjutkan untuk melupakan atau mencoba berusaha menarikmu kembali untuk memelukku? Aku mencintaimu Ryan, aku sering memerhatikanmu  meski ego memaksaku tuk menyembunyikannya darimu. Sosokmu kian membutakan mata, bukan seperti fatamorgana, kamu kian nyata. Sulitku melepaskan perasaan ini untukmu, namamu kian melekat dalam memori otakku, merekat abadi dalam hatiku.

"Ryan.." kataku terbata.

Kau angkat kepalamu pelan, mencari sang sumber suara, lalu menatap, diam dalam pekat, kau tenggelam dalam pikiranmu saat melihatku. Apa yang salah, pikirku.

"Aku Anisa... Inget? Aku temen SMA kamu." Aku diam, "lo-gue seketika berubah jadi aku-kamu?" pikirku.

Kau terdiam, masih diam, masih dengan tatapan bisu.

"Oke, hmm, maaf kalo aku ganggu kamu, aku pergi aja." lanjutku pelan.

Layaknya adegan di sinetron, ketika ku berbalik dan ingin melangkah kau menarik tanganku. Dadaku berguncang hebat, seperti dentuman drum di hentakan sekuatnya. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, inikah cinta? Entah.

"Ngapain lo disini?" tanyanya. "Engga, ngapain kamu dateng ke hadapanku lagi." lanjutnya dalam hati.

"Hey aku kuliah disini sekarang. Mungkin kita akan sering bertemu." harapku.

"Jangan dateng ke depan muka gue lagi." balasnya sinis, lalu pergi.

"Benerkan, harusnya gue-lo gak jadi aku-kamu, harusnya aku gak usah nemuin dia, harusnya aku emang lupain dia. Tapi dia kenapa harus sinis gitu, aku salah apa?" camukku dalam hati.

Ku berjalan lunglai menyusuri lorong untuk masuk kelas, langkahku terhenti, aku melihat Ryan dan seketika aku terhipnotis senyumnya, seumur-umur aku belum pernah melihat dia tersenyum, sebuah lengkungan bulan sabit terpasang di bibirnya. Tuhan, ciptaanMu luar biasa, pikirku. Meski kamu tersenyum bukan karena aku, aku tetep seneng kok, aku bahagia. Tapi aku akan lebih merasa sempurna jika senyum itu karenaku dan untukku.

***

Aku berlari tergesa karena hujan telah membasahiku, aku berpikir peribahasa sedia payung sebelum hujan itu benar adanya, berkali-kali selamat dari lubangan penuh air aku semakin terburu-buru untuk masuk kelas, tak sadar aku masuk ke dalam kelas dan semuanya memperhatikanku. Aku baru ngerti saat itu, bajuku dari atas sampai bawah basah tanpa sisa, rambutku berantakan, dan yang paling fatal aku masuk lima menit sebelum mata kuliah itu selesai. Tidak ada kata-kata basa basi, aku disuruh keluar tanpa alasan langsung, mau tidak mau aku harus mematuhinya.

Jarum pendek menunjuk ke angka 20 dan yang panjang ke angka 15. Sudah jam delapan pikirku, aku tak punya kendaraan untuk mengantarku pulang ke rumah, aku juga bukan orang kaya yang punya supir pribadi, aku hanya menunggu angkot atau ojek yang lewat. "Ini hari Selasa, harusnya Ryan masih ada sampai jam sembilan, karena ada praktek. Aku punya alasan untuk pulang bareng dia." pikirku bahagia. Aku sudah mengetahui semua jadwalnya dari pagi hingga pagi, itu sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu.

Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kampus yang saat itu sepi, ku susuri lorong demi lorong untuk membawaku ke dalam labolatorium biologi. "Labnya kok kosong sih, sepi tak berpenghuni." kataku merinding. Ku lemparkan seluruh pandanganku, aku melihat sesosok pria tertidur di meja, dan tak pikir panjang aku melihatnya. Itu pasti Ryan, yakinku. 

Ku pegang pundaknya, tak ada reaksi apapun, lalu dengan ragu ku melihat mukanya, bekas darah menempel lekat di hidungnya. Sontak ku terkejut, dengan takut ku pegang pergelangannya, mengecek tiap nadinya, nihil tak ku temukan nadi disana, mungkin salah, aku meletakan tanganku di atas hidungnya berharap nafas masih menempel dalam raganya. Lututku lemas, air mataku mengalir deras, aku mengguncang guncangkan badannya berharap suatu reaksi akan dilakukannya, tapi ia tetap diam, tak bergerak. 

Aku melihat sebuah pulpen di genggamnya, menuntunku pada sebuah buku bersampul coklat tua yang berhias stiker stetoskop, ku buka lembar demi lembar dengan tangis menyertai, ku lihat secarik foto disimpan di halaman depan, mataku terbelalak, sebuah foto yang bertuliskan "You're my destiny Anisa, you completed and perfected me, i love you. Sorry." Seketika badanku lemas, seketika jiwaku pergi melayang ke negeri antah berantah yang ditangguhkan. Ku buka lembar selanjutnya, sebuah tulisan rapi tersimpan disana.

"Aku di vonis menderita kanker otak stadium akhir, Nis. Aku sebenarnya ingin memilikimu, tapi aku tahu waktuku tak lama lagi, mungkin dengan cara aku mengacuhkanmu, kamu merasa benci dan melupakanku. Aku takut air matamu terbuang sia-sia karenaku, aku tak ingin senyummu terbalik menjadi duka mendalam karenaku. Aku minta maaf, jangan khawatir aku mencintaimu, selalu."

Aku terisak, aku merasa detik selanjutnya aku akan ikut bersama Ryan menyusuri taman firdaus yang jauh disana. Dengan tangan bergetar ku buka lembar selanjutnya.

"Anisa, sejatinya cintaku milikmu, aku tahu suatu saat nanti kamu akan menemuiku tak bernyawa hanya raga. Aku yakin air mata itu akan jatuh tak sengaja, tapi ku mohon jangan terlarut dalam kesedihanmu, meski aku selalu membuatmu begitu. Tak usah khawatir cintaku akan selalu bersamamu, meski ragaku jauh. Nis, aku ingin merekam semua memoriku bersamamu, aku ingin sisa hidupku ku lalui bersamamu, tapi aku tak kuasa, aku takut kau akan sakit berlipat, sekali lagi aku minta maaf, aku munafik, tapi cintaku benar untukmu."
Ku baca lembar terakhir yang baru saja kau tulis.

"Kemarin kita bertemu lagi, senyum itu lagi, senyum yang membangkitkanku dan senyum yang selalu menjadi alasan mengapa aku harus bertahan hidup. Nis, ketahuilah aku bertahan sampai saat ini itu karenamu. Maaf bertubi-tubi maaf jika aku menyakitimu lagi dan lagi. Nis sekarang aku sedang merasakan sakitnya, tapi aku biarkan sakit ini membunuhku perlahan, ku biarkan otak ini untuk berhenti memerintahku tuk minum obat itu lagi. Maaf, ku ucapkan lagi padamu, aku tak bermaksud untuk berhenti mencintaimu, aku hanya takut kau melihat helai demi helai rambutku rontok lalu habis, aku takut kau melihatku tidak seperti ini, utuh lagi, aku tak mau membebanimu lagi Sayang. Ku katakan aku menyerah, aku sudah lelah, maaf aku kalah tapi aku akan selalu menyertaimu walau raga tak bersamamu, mencintaimu membuatku merasa sempurna, mencintaimu membuat aku memaknai apa itu hidup, terima kasih Anisa Putri Lestari kau membuatku merasa sempurna, kau melengkapi hidupku, tapi maaf bertubi tubi maaf, beribu bahkan berjuta maaf ku sampaikan padamu, ketahuilah aku mencintaimu, selalu."
Aku lemas, aku sadar mengapa kau menjauhiku, kau tidak ingin melihatku menangis, tapi mengapa tidak jujur saja, aku menerima kamu apa adanya Ryan, walau waktumu sedikit aku akan berusaha membuatmu merasa berharga pernah hidup di dunia ini, Ryan aku mencintaimu lebih. Dan..air mata lagi.



That's my feel, D.

14 Agu 2012

Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part III-


        "Hey aku tau kamu tau aku tapi hmm kita gak pernah deket, aku Anisa, kalo kamu inget, aku sekelas sama kamu"
Kata-kataku janggal, aku tidak pandai merangkai kosa kata, belum ada kata-kata menjelma kata sapa, sulit untuk ku reka-reka, apa kata yang pas untuk menyapa. 
       "Aku udah suka sama kamu pada pandangan yang pertama, aku udah jatuh cinta berkali-kali sama kamu"
Aku bingung harus mulai dari mana, berkenalan saja aku tak tahu harus bilang apa, aku tahu kamu, aku tahu segalanya tentang kamu, tapi kamu sama sekali tak tahu apa-apa tentang aku, se-begitu tidak pentingnyakah diriku? 
          "Kita tak pernah saling bicara, tapi aku pernah menyapa, tapi kau hanya diam, tak peduli, dan pergi."
Aku mengingat kembali saat itu, aku merasa bodoh.   
          "Kamu tahu aku? Kamu kenal sama aku? Setidaknya, kamu ingat namaku?"
       "Aku memang bodoh untuk memilihmu jadi penjamah hatiku, aku tidak tahu, sulit untuk di jelaskan, apapun itu alasannya, aku mencintaimu."
Aku menatap cermin di hadapanku, aku menatap bayanganku, tapi pikiranku tertuju padamu, apa yang kamu lihat dari aku? Sampai kamu tidak mau mengenalku. Aku memikirkan wajahmu, wajah yang selalu melekat di otakku, tak pernah ku lupa, dan tak bisa ku lupa. Apa spesialnya kamu sampai aku hampir gila terhadapmu? Cukup, aku memang tidak punya alasan untuk memujamu, yang aku tahu rasa cinta ini sudah tumbuh menjalar dalam hatiku.

***

Tak sabar aku inginkan pagi, menyambut mentari, setidaknya dapat merabah hati dengan kehangatan yang pasti. Aku menunggu hadirmu memanah mataku, seperti biasa, mencari sosokmu sang muara rindu.
Ku temukan sosokmu di balik meja kayu itu, melihatmu merebahkan kepala dengan mata terpejam membuat ratusan pertanyaan menghujam, "ada apa denganmu Ryan?"
          "Ryan kok kayanya lemes gitu ya, dia kenapa?" tanyaku pada Bella.
          "Ya mana gue tau, gue bukan Ibunya." 
          "Gue kan cuma nanya, gue khawatir, gue takut dia kenapa-napa."
          "Kenapa gak lo aja yang nanya sendiri?"
          "Hah?! Lo gila, ya engga lah, gue mana berani." Balasku lemah.
          "Terus kapan lo beraninya? Kalo dia udah ketauan mau mati terus elo baru mau ngajak ngomong?"
          "Lo kok gitu sih Bel, gue gatau harus bilang apa, mungkin jam istirahat gue mau nyoba."
Bella tersenyum lemas, mungkin mengkasihani sahabatnya yang di relung cinta buta. "Elo harus nyoba, elo harus tahu perasaan dia, elo jangan mau perasaan elo yang di gantung kaya jemuran!"
          "Apaan sih Bel, iya jam istirahat gue mau nyoba, tenang aja kali Bel." Jawabku malas.

***

         "Jam istirahat nih, kapan mulai?" Bella mengingatkan.
         "Gue gugup nih Bel, gimana kalo dia natap gue sinis terus pergi gak peduli gitu aja, gue bisa mati berdiri Bel." Kataku gugup.
        "Tenang aja kali, kalo elo di gituin, gue deh yang maju, gue stay di belakang lo, selalu! Gue janji deh."
        "Oke sekarang ya, do'ain gue Bel." Kataku sambil beranjak pergi.
        "Gue do'ain elo, selalu Nis, semoga elo dapet kebahagiaan lo dengan cepat ya." Ucap Bella dalam hati.

Aku berjalan dengan lemas dengan membawa botol Pocari. Ku datangi meja pangeran yang membuatku susah tidur itu, perlahan ku ulurkan tangan yang menggenggam botol air ke Ryan. Dia menengok ke arahku, mata kita saling menatap, aku tenggelam dalam matamu dan tak ingin beranjak, aku terhipnotis dengan matamu, mata yang membuat aku jatuh cinta berkali-kali itu. Tapi aku tidak bisa berlama-lama menatap mata itu, ia yang menyadarkanku untuk segera sadar dan kembali ke alam nyata.
       "Eh iya, hmm gue punya ini buat lo." Kataku dengan memberikan botol dengan menyunggingkan senyum semanis mungkin.
       "Buat apa?" Balasnya sinis dan serasa terganggu.
       "Eh itu." Kataku terbata. "Gue liat elo dari tadi lemes, jadi gue kira elo dehidrasi jadi gue, hmm inisiatif aja sih buat ngasih lo ini." Tanganku masih tertuju ke arahnya, dengan menunduk berharap Ryan menerima minumanku.
       "Gue gak butuh." Katanya acuh
Seakan jantungku berhenti berdetak, dadaku sesak, aku tak sanggup menahan air mata, aku ingin menangis, "kenapa kamu tega sama aku Ryan? Kenapa kamu bikin aku kelihatan bodoh di hadapanmu lagi?" Kataku lirih dalam hati.
     "Oh iya, hmm sorry sebelumnya kalau gue ganggu lo." Balasku dengan menahan isak.

Aku berlari menuju toilet yang saat itu sepi, aku tumpahkan amarah dan tangisku, aku memaki diriku sendiri yang terlalu bodoh untuk mencintaimu dan berharap di balas cinta olehmu. Rupanya mencinta dalam diam itu tidak jauh lebih sakit dari dengan terang-terangan yang menunjukan cinta tapi tidak di gubris sama sekali. Aku sakit, aku terisak, aku hampir sekarat, kamu tahu Ryan kalau aku....
Air mata lagi.

***

      "Elo mau nerusin kuliah dimana?" tanya Bella seusai malam Prom nite.
Malam ini bisa jadi menjadi malam terakhir aku tuk melihat pria yang membuat hujan dalam tiap malamku, Ryan sanggupkah aku melupakanmu, tidak melihatmu sehari saja sudah membuatku gila, apalagi tidak akan melihatmu berhari-hari, berminggu-minggu atau sampai bertahun-tahun lamanya.
     "Gue gak tau." balasku datar.
     "Elo harus move on! come on Nis, lo sekarang udah bukan Anisa yang gue kenal lagi, elo udah termakan cinta buta tau gak!"
     "Gue belum bisa, buat lupa sama dia, dia udah terlalu lama singgah di hati juga pikiran gue." kataku lirih.
     "Terserah elo! Gue udah capek ngasih saran ini itu yang gak lo gubris sama sekali, sekarang gue serahin semuanya ke elo, gue harap elo bisa ngasih keputusan yang bener dan elo gak nyesel nantinya. Nis, life must goes on. Inget itu!" Bentak Bella seraya pergi meninggalkan aku sendiri.

     "Gue gak tau harus gimana, mengejar, berlari atau hanya diam di tempat. Gue bingung, cinta gue udah melambung tinggi buat Ryan. Cinta yang tak terbalas, cinta yang tanpa tanda tanya." Ucapku dalam diam.

***

       "Bel, gue di terima di UI!" kataku semangat di balik telepon yang menghubungkanku pada Bella.
       "Selamat Nis! Gue tau elo bisa kok!" 
       "Iya, eh kapan kita ketemuan? Gue kangen sama lo!" 
       "Besok sore di cafe biasa ok?'
       "Siap, sampe ketemu besok ya!" balasku menyanggupi, sambil menutup telepon.

Ku rebahkan kepala ini, memejamkan mata, dan ku temukan lagi sosoknya, semakin lama, semakin lekat bayangnya, mengapa pikiranku selalu tertuju padamu? Bayanganmu menjadi semu, hilang di balik cahaya hitam, aku mencarimu, menelaah sepi yang menghujam, gelisah yang datang bertubi-tubi, aku melakukan ini karena aku peduli.

Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini terlalu sepi untuk di deskripsikan, tidak seperti dulu yang menyambut pagi dengan menggebu, hanya untuk melihat sosokmu. Aku merapikan pakaianku, tidak seperti dulu yang menggunakan putih abu-abu, sekarang baju kemeja polos dan celana jeans hitam sudah terpasang rapi di tubuhku, aku siap melewati hari, dengan semangat seperti pagi.
Ku lemparkan pandangan pada gedung yang bercat putih itu, mengagumi di setiap sudutnya "nice university" pikirku. 
Aku melihat seseorang yang sepertinya ku kenal, tapi aku belum yakin, wajahnya masih terlihat samar. Ia duduk di bawah pohon yang cukup rindang sambil membaca buku yang lumayan tebal, terpasang kacamata di balik matanya. Sekilas seperti Ryan. Sudahlah, aku memang selalu berpikir tentangnya, sampai semua orang aku pikir Ryan. 

Dia mengangkat kepalanya, dan meneguk air mineral yang ada di sebelahnya, sontak aku terkejut, dia memang Ryan, itu Ryan! Lalu apa maksudnya ini? Aku memang sebelumnya sudah tahu jika Ryan mau masuk universitas yang sama, tapi aku tidak berpikir jika dia memang memilih untuk kuliah disini. 

Apa maksudnya ini? Di saat aku memilih untuk melupakan, dia muncul kembali.

Bersambung...

9 Agu 2012

Berhenti Menggangguku Sayang!

Aku, kamu sudah tidak menjadi kita. Sudah berapa puluh kali aku katakan dan jelaskan panjang lebar ini itu padamu. Sudahlah, aku sudah muak dengan omonganmu, aku sudah muak dengan usahamu yang meyakinkanku jika bukan kamu yang salah, lalu kamu berpikir kalau aku yang salah? Aku yang menyebabkan ini semua? Aku? Tak usah lagi memutar balikan fakta, Sayang! Tak usah menuduh si ini dan si itu. Tak usah menutup tutupi kesalahanmu dengan kebohongan yang kau tambal sana sini, aku sudah tidak percaya, dan aku sudah kehilangan rasa terhadapmu, rasa cinta yang tumbuh menjalar itu, rasa cinta yang hampir membunuh pikiran itu! Aku sudah muak, berhentilah membuatku untuk mengasihanimu, janganlah kau coba untuk membuatku yakin dan jangan jelaskan alasan yang tak bisa lagi aku percaya.

Bersumpah seenak jidat, berjanji seenaknya, mengingkari dengan mudahnya, menangis air mata buaya, kamu fikir aku percaya? Kamu pikir aku akan membuat rasa? Kamu pikir aku akan kembali ke dalam jeratanmu lagi? Sudahlah Sayang, jangan membuat dirimu terlihat lebih tolol dari biasanya, jangan membuat dirimu terlihat kurang kasih sayang, sikapmu sudah membuatku muak lebih dari yang ada di benakmu sekarang, aku sudah lelah, kapan kau mau menyerah?

Aku sudah bosan melihat namamu yang membuat ponselku berdering, mau sampai kapan kau habiskan pulsamu untuk menghubungiku? Mau sampai kapan kau sisakan waktumu untuk membuang tenagamu dengan mengetik kata-kata tidak penting untuk dikirim padaku? Se-kurang-kerjaan itukah dirimu? Tak usah kau buang tenaga dengan menghubungiku lagi, tak usah berbicara tak tentu arah yang membuatku peduli lagi, tak usah berjanji sejauh angkasa untuk mengambil perhatianku lagi. Aku sudah jengah dengan bualanmu yang semuanya bohong itu!

Mengapa? Mengapa aku semuak itu padamu? Mengapa aku se-tidak peduli itu terhadapmu? Haruskah aku bercerita lagi? Haruskah aku menjelaskan dengan ribuan kosa kata agar bisa membuatmu mengerti? Kau telah tega berdusta di kala ku setia, kau hempaskan janjimu yang seindah rasi bintang di angkasa, kau bunuh perasaanku dengan cara mendua, sudahkah kau mengerti mengapa aku muak terhadapmu? Tapi kau tidak berhenti mengusik hidupku, kau datang seolah tidak terjadi apa-apa, seolah semua baik-baik saja, sebodoh dan setolol itukah dirimu? Se-tidak punya perasaan itukah dirimu? Kau pikir aku hanya wayang yang dapat di gerakan dan di mainkan seenakmu? Kau pikir se-tidak punya perasaan itukah diriku? Aku tidak sebodoh dirimu Sayang! 

Iya aku tahu, aku mengerti jika aku yang paling berkesan di hatimu, aku memang banyak diam, aku memang lebih banyak bertindak, dan setelah kau lakukan itu semua aku masih terlihat baik-baik saja. Kamu tidak tahu betapa menyakitkannya itu, kamu tidak tahu berapa malam aku jatuhkan air mata tanpa sebab karenamu, kamu tidak tahu betapa sekaratnya aku saat mengetahui wujudmu sebenarnya. Tapi tenanglah Sayang, aku tidak akan menyebar luaskan tentang wujud aslimu yang seburuk itu, aku masih akan tetap seperti dulu, diam tetapi akan membunuh perlahan.

Jadi kau sudah mengerti? Aku sudah jelaskan panjang lebar padamu, aku sudah memberikan kesempatan padamu, tapi tak pernah kau gubris, kau berjalan seolah tidak peduli, tapi kini, aku sudah pergi dan kau masih memintaku kembali, tak jengahkah dirimu dengan amarahku yang selalu membara ketika berbicara denganmu? Tak bosankah dirimu dengan omongan panjang lebarku? Mengapa kau masih berharap pada kenangan yang akan kembali? Mengapa kau masih saja mengerjar bayanganku yang tak pasti? Aku lelah terus menerus berlari dari kejaranmu yang tiada henti.

Sudah aku tekankan berkali-kali padamu, sudah aku beri ribuan saran terhadapmu, tapi kau tak berubah, kau masih saja sama, kau si pembohong, si perusak kebahagiaan, dan si bermulut besar. Kau masih saja menjadi si pengarang yang mempunyai cerita seribu satu malam, seindah dongeng, kau masih saja si pemberi harapan seluas cakrawala, tapi bohong semua.

Intinya kapan kau akan berhenti mengusik hidupku? Kapan kau akan berhenti menggangguku dengan janji sempurnamu itu? Kapankah kau akan mengikhlaskanku Sayang? Aku sudah pusing memikirkan caranya terus menerus menghindar darimu. Aku bingung mengapa dulu dengan mudah aku menerima orang sepertimu, mengapa dulu aku dengan mudah terpancing cinta yang di umpan olehmu, sebodoh apakah diriku dulu dengan mudah menerimamu? 

Jadi Sayang, berhentilah membujukku untuk bersama dengamu seperti dulu, berhentilah menghubungiku atau seperti yang kau bilang jika aku selalu ada di pikiranmu, aku sekarang sadar jika aku memang kau permainkan, berhentilah menyakiti orang seperti mainan yang merajuk meminta kebebasan darimu Sayang, jangan biarkan aku membunuh dirimu secara diam dan perlahan dengan menyakitkan. 

Tidak usah bersandiwara, tidak usah berdusta, hanya katakan kau menyerah, itu saja.

That's my feel, D.

3 Agu 2012

Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part II-


Aku lagi-lagi melihat ke belakang, kadang sampai memutar badanku hanya untuk melihatnya, aku selalu tenggelam dalam matanya, mata di balik kaca mata kotak itu mampu menghipnotisku sampai ke dasar pikiranku, aku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang memiliki mata hazel itu.

Melihatnya dari jauh saja sudah membuatku tak tahan, aku ingin memilikinya, aku ingin bersandar di bahunya, merasakan aroma tubuhnya yang meresap dengan diam dalam hidungku, tentunya yang aku ingin memiliki senyumnya seutuhnya.

    "Gue belum pernah liat doi senyum." kataku tiba-tiba.
    "Dia tuh orang berdarah dingin, gak mungkin senyum, tatapannya aja udah mematikan." Bella membalas dengan yakin.
    "Elo emang gila Bel, dia itu gak pernah senyum, karna gak ada yang bikin dia senyum."
    "Ah so tau amat sih lo. Dia itu emang orangnya misterius tau, jangan-jangan dia melihara tuyul lagi."
    "Heh makin ngaco lo, gak mungkin dia kaya gitu!" Kataku sambil mendorong bahu Bella.
    "Lah habis, dia itu ngobrol aja jarang, senyum kagak, dan kalo istirahat dia itu suka tiba-tiba ngilang."
Aku terdiam, Bella benar, selama jam istirahat aku tidak pernah melihatnya di kelas atau di kantin, tak tahu jika dia diam di perpustakaan di koridor sekolah.
    "Tau ah. Yang penting gue udah jatuh cinta sama dia. Hehehe." 
    "Percuma elo tergila-gila sama dia, kalo dia kenal elo aja engga."
    "Dia kenal gue kok, gue yakin dia tau nama gue."
    "Cuma nama, pernah di sebut aja engga."
    "Kenapa sih lo jadi temen bukannya dukung dikit malah bikin pesimis mulu."
    "Gue cuma takut elo yang sakit, gue cuma takut elo yang nanti ngeluarin air mata. Gue cuma pengen yang terbaik buat lo Nis."
Aku terdiam lemah.
    "Elo udah gak kaya dulu lagi. Elo berubah setelah lo tau Ryan."
    "Gue udah jatuh cinta sama dia, jatuh cinta sampai berkali-kali malah, rasa gue udah jadi kaya bunga plastik buat dia, bunga yang tak pernah mati, dan tak akan berubah."
    "Itu terlalu berlebihan, jangan kasih hati elo buat orang yang sama sekali engga peduli akan hadirnya elo Nis! Kecuali elo yang mulai, elo yang megang start duluan, selamanya bakal kaya gini terus, kalo elo tetep nunggu dia. Dia gak akan berubah, kecuali elo yang ngerubah!" 
    "Gue tau Bel, tapi gue terlalu takut untuk mulai, gue takut dia semakin ngejauhin gue." kataku pasrah.
    "Lah bukannya kemaren lo bilang lo mau yang duluan mulai?"
    "Iya tapi gue pikir-pikir lagi aja deh kali ya."
    "Cuma dua pilihannya, elo yang duluan deketin, yang kedua elo harus lupain dia dan cari yang lain, yang lebih normal dari dia!"

Aku menghebuskan nafas pasrah, sambil melirik ke arahnya, cukup lama, ku pandangi lekat wajahnya dalam diam, dalam jarak. Dia balik menatap! Dia melihatku! Aku balik menatap lurus matanya, aku tidak tahu apa yang dia lihat dari aku, tapi tak terbesit senyum di bibirnya, dia melihatku dengan muka datar, tak ada ekspresi sedikitpun, lalu dia melempar wajahnya ke arah jendela. Hanya beberapa detik kita saling menatap, aku ingin berhenti di waktu tadi. Apa yang kamu pikirkan ketika melihatku? Apa kamu baru sadar kalo ada orang yang memperhatikanmu dalam diam? Apa baru sekarang kamu menyadari kehadiranku? Apa sekarang kamu mau sedikit saja memberikan suaramu untukku? Maukah kamu berbicara denganku?

      "Bel! Dia tadi ngeliat gue! Dia ngeliat ke arah gue!" kataku girang.
     "Terus elo mau ngapain sekarang? Elo masih mau diem aja gitu? Masih mau nungguin dia yang mulai. Mungkin yang tadi kode buat lo." balasnya datar.
      "Gue mau nyoba, gue harus coba!"
      "Semangat Nis, gue tau elo pasti bisa, semoga elo bisa melelehkan hatinya dan elo bisa jadi putri dan berakhir bahagia selamanya." canda Bella.
       "Hahaha, thank you Bella, elo emang sahabat yang paling baik! Selamanya!"
       "Gue cuma mau yang terbaik buat lo Nis." Bella tersenyum lemah.
           
Aku menatap orang yang selama ini aku puja, orang yang selama dua tahun ini mengunci diri di dasar pikiranku, aku tersenyum lemah menatapnya walau dari kejauhan. Perasaanku tidak berubah saat jumpa yang pertama, saat pertama kali aku melihat lurus ke arah matamu, dan kamu hanya diam menatap aneh diriku.

***

Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur, ku tarik selimut dan ku dekap guling erat-erat, untuk mengurangi rasa sesak karenamu seakan aku mencari kekuatan di dalamnya. Ku lempar pandanganku ke langit-langit kamar, lagi-lagi namamu yang memenuhi ruang otakku, lagi-lagi bayangmu yang mengayun lembut di atasnya, tetesan air tiba-tiba mengalir tanpa sadar, air mengalir tanpa di seka, membiarkan bantal membasah dengan sendirinya, aku tidak tahu alasanku menangis, tapi mungkin satu-satunya alasanku menangis karenamu, air mata ini untuk Ryan, seseorang yang terlalu misterius bagiku, terlalu sempurna di mataku. 

Memikirkan orang yang sama sekali tidak memikirkanku. Merindukan seseorang yang tidak berbalik rindu, aku benci saat-saat seperti ini, melamun sendiri dan hanya dirimu yang ada di dalamnya, pandanganku kosong, tak ada ruang untuk lelaki lain pikirku. Aku sudah terpelosok ke dalam dirimu yang berpijar, biarkan aku menjadi bintang sirius di hatimu, bintang yang paling berpijar di antara yang lain, meski hanya sementara, meski akan cepat redup, tapi akan menjadi yang paling terang dan akan terus di kenang.

   "Kamu enggak tau seberapa sayangnya aku sama kamu Yan, seberapa lama dan seberapa perihnya menahan perasaan ini sendirian, tapi aku terlalu sayang sama kamu, jadi aku tidak bisa seenaknya membuang perasaan ini. Rasa sayang aku sama kamu sudah terlalu dalam, sudah terlalu besar. Aku emang tolol yang membuang-buang waktuku hanya untuk melihatmu dalam jarak, aku memang diam, tapi pikiranku selalu berujung pada dirimu. Ryan."

31 Jul 2012

Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part I-

        "Elo nungguin dia?" Bella yang sedari tadi duduk di sebelahku akhirnya menangkap maksudku yang sedari tadi melihat pintu kelas terus-menerus.
Aku mengangguk pelan.
       "Buat apa?!" tanyanya sedikit membentak.
       "Gue gak tau! Otak gue selalu penuh sama dia."
       "Dia terlalu perfect buat lo Nis."
       "Gue tau, makanya gue cuma bisa diem aja." balasku lemas.
       "Itu orangnya" bisik Bella akhirnya.
Mataku langsung tertuju oleh sosoknya, pria berambut ikal dan berkaca mata kotak itu sosok yang membuatku tidak bisa tidur semalaman. Ryan. Pria itu bernama Ryan. Aku sudah mengaguminya sejak dua tahun lalu, saat kita sama-sama masuk IPA, saat kita satu kelas, saat pertama kali aku melihatnya, kita sama-sama di kelas yang sama selama dua tahun berturut-turut. Tapi selama itu kita sama sekali tidak pernah bicara lebih dari lima kata, kita tidak pernah berkenalan dengan resmi, kita tidak saling menukar nomor handphone, atau apapun itu. 


***


      "Gue masih gak ngerti kenapa elo suka sama dia." Bella membuyarkan lamunanku. 
      "Gue juga." jawabku singkat.
      "Hah? Lo gak tau kenapa elo suka sama dia?!" Mata Bella terbelalak mendengar jawabanku.
"Slow aja kali Bel, gue suka sama dia karena setiap gue liat matanya, dada gue berdegup kencang. Cuma itu." 
      "Kita bentar lagi pisah elo tau itu."
      "Gue tau, niatnya gue mau masuk kampus yang sama kaya dia."
      "Hah? Lo emang tau dia mau masuk mana?"
   "Dia mau masuk UI, jurusan kedokteran, keren ya" aku tersenyum membayangkannya, melihatnya menggunakan jas putih dan membawa stetoskop. "Dia pasti lebih ganteng." tambahku.
     "Elo mau masuk UI? Yakin lo? Mau masuk kedokteran juga?"
     "Gue mau masuk bahasa. Gue mau nerusin hobby gue."
     "Emang apaan?"
     "Gue suka nulis, dia juga suka, gue pernah baca blognya."
     "Elo pernah ngajak dia ngobrol?"
     "Cuma say hi, dan itu gak di tanggepin, jadi gue gak pernah nyoba lagi."
     "Dia udah punya pacar?"
Pertanyaan Bella menghujam dadaku, aku tahu dia sudah punya pacar, sempat berganti-ganti pula, pacarnya hampir semua nyaris sepertinya, nyaris sempurna.
    "Udah." Jawabku singkat.
    "Tapi lo masih mencintai dia gitu? Mencintai walau dalam diam?"
    "Mencintai dalam diam itu yang bikin gue terus penasaran sama dia"
    "Tapi itu bikin lo sakit."
Aku mengangguk pelan.
    "Kenapa gak elo aja yang mulai? Elo ajak kenalan, elo deketin dia duluan! Kalo jaman sekarang sih bilangnya ngasih kode gitu" Bella menggebu.
      "Dia udah punya pacar, masa gue deketin? Lagian gue cewek, gue cuma bisa nunggu." balasku lemas.
      "Emang apa salahnya? Ini bukan jamannya gengsi gengsian, elo bisa kalo elo mau!"
Aku terdiam. Bella benar, apa salahnya mencoba. Aku bisa mengajak dia kenalan atau sekedar berbagi senyum dekat, aku tidak bisa memandang dia dari puluhan meter jauhnya, aku tidak bisa terus terusan menahan rindu dalam kesendirian, aku butuh dia untuk berbagi rindu  ini bersama.
      "Oke, gue coba, eh tapi mungkin sehabis kita lulus"
      "Bego lo! Itu masih satu semester lagi. Sekarang!" Bella berkata mantap.
      "Gue takut kalo.." aku tercekat tidak bisa melanjutkan perkataanku.
      "Takut apa? Takut elo di tonjok cewenya? Apa takut ntar elo di tungguin di pengkolan sekolah?"
Aku tidak bisa menahan tawa, Bella selalu bisa mencairkan suasana, suasana yang seperti inipun dia bisa melelehkannya. Aku peluk dia dengan erat, berbisik "Gue harus ngelakuin apa pertama kali?"
     "Gampang, ikutin aja kata gue" balasnya disertai tawa khasnya itu.

***

Seperti biasa, setiap pagi, setiap hari aku selalu datang lebih awal, berusaha untuk jalan bersama Ryan ke dalam kelas, namun nihil, Ryan selalu datang lebih dari yang ku bayangkan, dia datang pas saat bell berbunyi. Selalu pas tidak pernah kurang atau lebih. 
Karena aku tidak mungkin menunggu di luar gerbang, aku lebih sering menunggunya di kelas, tatapanku lurus ke arah pintu, berharap sosoknya datang lebih awal, beberapa kali aku tengokan kepalaku ke belakang, ke arah sudut pojok bangkunya, dia duduk sendiri, dia jarang mengobrol apalagi membagi contekan PRnya, mungkin itu salah satu alasan dia datang pas pada bell. Mungkin.

Dia datang, dia datang lebih awal, aku menggebu, lagi-lagi ada sesuatu yang berdesir dalam dadaku, aku melihatnya sampai dia duduk di bangkunya, sampai aku harus memutar arah badanku untuk dapat melihatnya dengan lebih jelas, dia menggunakan jaket hitam pagi ini, dia terlihat lebih fresh dari biasanya, rambutnya seperti di kasih sedikit gel, aku tidak tahu mengapa, tapi dia terlihat memang sempurna. Lebih dari sempurna.

     "Ngeliatinnya biasa aja kali, ntar ada yang curiga loh" Bella berbisik ke arahku.
Aku bingung sejak kapan dia ada di sebelahku, mungkin saat aku otakku masih sibuk melihat sosok yang sempurna, yang membuatku semakin gila.
     "Iya, gue cuma bingung kenapa dia dateng lebih awal."
     "Ceileh elo tau semua jadwalnya emang? haha"
     "Gue tau, gue tau semua tentang dia." jawabku datar.     
Aku tidak bosan jika berkali-kali berulang-ulang harus menatap ke belakang, mencari-cari sosoknya, sosoknya yang larut dalam mata turun ke hati yang sepi ini.

Mungkin aku memang harus memulainya, aku harus mencobanya, sekarang atau tidak sama sekali.



10 Jul 2012

Cinta Mengapa Kau Seperih ini?


Tepat hari ini aku berpisah atau putus atau menyudahi hubungan atau apapun namanya. Tepat malam ini aku menangis tersedu-sedu. Aku ingin bangun dari mimpi buruk ini, aku ingin lari dari kenyataan ini, mengapa rasanya sesakit ini? Sepedih ini? Aku ingin meminjam alat doraemon untuk memberhentikan waktu, aku ingin berteriak, sungguh aku tak tahan, aku ingin meluapkan emosiku tanpa ada yang mengetahuinya, aku tak bisa menghentikan tangisku ini sulit, sangat sulit, ku gigit bibirku erat, ku dekap kaki setara dengan dadaku, berusaha menghentikan isak tangisku yang semakin menjadi-jadi. Mengapa mesti aku yang kau jadikan bahan percobaan? Mengapa mesti aku yang kau permainkan? 

Detik ini, saat aku menulis ini, kau menelephoneku, kau juga terisak, aku dapat mendengar isakanmu walau puluhan kilo jauhnya, kamu mencoba untuk membuatku kembali padamu, aku semakin sakit, aku semakin dilema, aku juga ingin kembali padamu, melupakan semuanya, atau apapun, otak ini berusaha keras untuk menolak, dan akhirnya bekerja dengan tidak stabil, tapi hatiku mengatakan sebaliknya, aku masih ingin mendekap dirimu erat, mencium aroma parfummu yang khas, atau dengan mendengar bisikan halusmu, tapi apa yang kau lakukan begitu sakit, begitu membuat dadaku sesak, aku tak tahu kejadian-kronologis yang sebenarnya, apapun itu aku sudah tidak begitu peduli.

Hati ini sudah terlanjur kau buat sakit, apapun benar-tidaknya perkataanmu aku sudah muak. Kamu yang selalu membela dirimu, kamu yang selalu mempikirkan perasaanmu, apa kau tak ingat padaku, ah sudahlah kamu memang dari awal hanya mempikirkan dirimu sendiri! Aku memang dari awal salah-benar-benar-salah memilihmu, apapun itu, apapun yang telah kau berikan padaku semanis gula atau sepahit kopi aku sudah tidak peduli, aku tak menyalahkan cinta yang tumbuh dengan diam dalam hati kita, atau Tuhan yang sedikit campur tangan dalam pertemuan kita, aku tidak menyalahkan mereka apapun itu, aku menyalahkan hatiku yang terlalu terbuka akan hadirnya cinta di antara kita, aku yang terlalu luluh dalam tiap kata yang keluar dari bibir kecilmu itu, atau mata ini salah dengan menatap hanya ke arahmu? Bodohnya diriku selalu memujamu.

Cinta mengapa kau menusuk tuanmu? Mengapa kau mengkhianatiku? Mengapa kau taburkan garam dalam luka di hatiku? Dan mengapa juga kau memilih dia untuk bersamamu menyakiti hatiku? Aku yang terlalu bodoh memaknai hadirmu dalam hidupku, aku yang terlalu mudah percaya terhadapmu!

Di satu sisi sudut hati masih saja namamu yang terurai, mungkin karena cinta yang masih tersisa, mungkin juga kebencian yang menjelma kesurupan. Entah!

Hari ini, sepenuhnya tangisku tumpah karenamu, seperti kau telah merenggut separuh cintaku, aku menyumpahimu tanpa ampun. Inikah saatnya menutup buku? Inikah saatnya menuliskan kata "tamat" dalam kisah kita? Meskipun belum sampai pada saat bahagia? Meskipun tidak seperti buku lainnya yang berakhir dengan bahagia? Haruskah ku tutup buku ini segera, meski kita belum sampai pada bab akhir? Aku terengah, merajuk ketika sadar diriku dan cintaku yang kau bodohi!

Aku tidak menyalahkan cinta atau hadirmu sekalipun.
Biarkan ini menjadi kenangan.
Biarkan ini menjadi pengalaman.
Waktu sempat menjadi saksi, 
jika kita pernah saling mencecap rasa cinta.
Untukku dan Untukmu.

That's my feel, D.

Aku Menyerah, jika Itu memang Seharusnya


Tulisan kecil kurang dari seratus-empat puluh karakter dalam akunmu yang meyakinkanku, bahwa kamu memang tak menyediakan sedikit ruang kecil dalam sesuatu yang banyak orang sebut dengan hati. Tak ku biarkan tangan ini meng-klik timeline-mu, tak ku biarkan aku menjadi stalker dalam hidupmu, tapi ini rasanya sulit untuk tidak menjadi stalker timeline-mu, membaca ketikan-ketikan jarimu yang kebanyakan kurang dari seratus-empat puluh karakter itu, sulit mungkin sulitnya seperti perokok yang dipaksa untuk berhenti, mungkin akan seperti itu. Setelah aku men-stalking timelime-mu mungkin itu saatnya aku menyesal, memang benar setelah aku membacanya, berharap akan ada kupu-kupu berterbangan bebas dalam perutku tetapi sebaliknya, merasa di terbangkan lalu di jatuhkan tanpa sisa.

Tak ada lagi ucapan selamat tidur, tak ada nama panggilan spesial itu, tak ada berbalas pesan sampai malam, tak ada gurau, tak ada kata tertawa, tak ada dan tak akan pernah ada lagi. Sulit mungkin membiarkan atau melepaskanmu, memang aku itu hanya teman biasa bagimu, tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman biasa, kamu itu spesial bagiku. Bisakah kamu menganggapku sama seperti aku menganggapmu, menjadi teman spesial dan lebih dari kata biasa? 

Itu bukan salahmu sepertinya, bukan kamu yang tidak peka akan hadirnya diriku yang selalu memperhatikanmu walau kamu tak pernah merasa di perhatikan, mungkin aku yang terlalu berharap sama kamu. Tolol! Iya aku memang tolol! Mencintaimu dalam diam, tidak berani mengungkapkan atau memberi kode, iya aku hanya berani memandang sosokmu dalam jarak, hanya mampu menikmati senyummu dalam jauh. 

Dalam mengeja kerinduan aku temukan sosokmu (lagi) sesulit itukah melupakanmu? Merelakanmu? Melepas dan mengikhlaskanmu? Seberat itukah? Apa di dunia ini hanya kamu yang berhasil memenangkan hatiku?  Apa hanya ada kamu dan rindu dalam ruang kosong hati dan pikiranku? 

Walau saat ini aku tidak dapat bersama denganmu, tak bisa saling menatap atau saling memberi senyum manis, kita sama sama dalam naungan langit yang sama walau di batasi oleh jarak, ruang dan waktu. Kamu masih suka melihat bintang? Apa kalau kamu lihat bintang, kamu menemukan sosokku? Senyumku? 

Aku memang penanya yang menyebalkan bukan? Aku selalu banyak bicara, aku selalu menanyakan ini itu, tapi dari seluruh pertanyaanku, ada satu pertanyaan yang belum pernah aku tanyakan padamu, pertanyaan itu masih berayun dalam tiap malamku satu pertanyaan yang selalu membuat jantungku berdegup kencang "pernah singgahkah aku di hatimu?" 

Kau tahu? Aku-mencintaimu-sangat-mencintaimu-tanpa sisa.

Tapi apa daya, tak ada kata sapa menjelma rindu menyapa. Tapi tenanglah rindu itu masih milikmu, aku masih bingung siapa yang akan menerima rinduku selain dirimu, akan ku persembahkan kepada siapakah keabadian cintaku sebenarnya. Aku masih belum ingin menyapa kenyataan jika bukan sosokmu yang mengisi kekosongan. 

Bagaimana caranya merindu, jika sosok yang di rindukan tidak berbalik rindu. Hanya mencecap sedikit saja, tak mampu menghabiskannya, kata rindu yang hanya dapat ku eja hurufnya, selebihnya rasa sakit yang ada di dalamnya. Aku menyerah, dan kali ini aku berhenti untuk mencintaimu, jika itu memang suatu keharusan untukku.

Bahkan dalam pekatnya malam,
aku masih saja melihat senyumanmu menjelma rasa rindu mencekat
apa memang harus aku menyerah?
Apa kamu tidak mencegahku?
Entahlah.

That's my feel
Desy :)

28 Jun 2012

Maaf Aku Menyerah. Aku Sudah Lelah




Lama. Sudah lama. Aku bertahan, membiarkanmu singgah dalam singgasana hati ini. Membiarkanmu menyibukkan kerja pikiran otak ini. Itu sudah berlangsung cukup lama, bukan cukup lama tapi memang lama, kupikir aku memang tidak menuliskan kata lelah untuk mencintaimu dalam kamus hidupku untukmu, tapi sekarang aku akan menuliskannya dalam kamus yang hanya aku tujukan untukmu, jika aku memang lelah untuk mencintaimu dengan cinta yang tak terbalas.

Cukup perih memang rasanya melupakanmu, berusaha menghapus namamu dari pikiranku, menghapus bayanganmu dalam lamunanku, inikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Sakit, perih, kecewa. Mungkin lebih dari itu. Apa kau tahu rasanya di acuhkan? Tidak dianggap? Tidak di butuhkan? Aku capek merasa tidak di inginkan kehadiranku di hidupmu. Aku juga punya batas kesabaran Sayang, jangan mempermainkan perasaanku walau kau pikir aku sudah kebal dengan perlakuanmu.

Deep, mungkin kata yang pas saat melihat status-status dalam akunmu, nyesek mungkin iya. Aku baru sadar kalau aku hanya diberi harapan kosong olehmu, tak ada cinta atau kasih sayang sedikitpun, apa aku yang terlalu bodoh menganggap semua tulisan-tulisanmu yang kurang dari seratus empat puluh karakter itu untukku? Aku memang menginginkannya, jika semua tulisan kecilmu itu untukku tapi apa daya, semua keinginanku tidak terpenuhi dengan sempurna. Aku melihat kamu bermain reply dengan dia, sosok yang kurang aku ketahui sebelumnya. Mungkin menyenangkan ya jadi dia, menerima semua perhatianmu, menjadi sandaran dalam tangismu. Beruntung dia yang di pilih olehmu, tidak seperti aku yang mencintaimu dalam diam, dan aku yang bukan siapa-siapa di banding dengannya.

Aku disini berusaha ikhlas, tapi bolehkah aku menerima sejumput rindu darimu? Bolehkah aku menikmati senyummu walau hanya dalam jauh? Bolehkan aku memelukmu walau hanya dalam mimpi? Sejujurnya, aku ingin tertawa denganmu, bahagia dan aku ingin sekali memiliki senyummu. 

Aku tak perlu memberitahumu tentang seberapa rasa sukaku padamu, rasa ingin memilikimu setiap hari, rasa merindukanmu dalam tiap hembus nafasku, apalagi membutuhkanmu, membutuhkanmu itu tentu saja iya karena aku bukan siapa-siapa tanpamu. 
Tapi kali ini aku menyerah, karena seberapa besar rasaku padamu, di matamu aku semu, bagaimana mungkin jika aku terus bertahan mencintaimu tanpa balasan, melihatmu memberikan cinta yang lebih untuknya, untuk gadis yang aku tidak tahu-lebih-kurangnya-dariku. 

Biarkan aku bermimpi seolah pemimpi yang tinggi. Biarkan aku berkhayal seolah pengkhayal yang hebat. Itu semua agar aku bisa merasakan bagaimana di cintai olehmu walau hanya dalam ruang mimpi dan khayalku. Itu saja. Tidak lebih. Iya aku tahu khayal dan mimpi itu hanya dalam angan, bukan dalam kenyataan, aku tahu pada akhirnya aku juga yang sakit, aku juga yang menangis tapi apa boleh buat, jika hanya dalam mimpi dan khayal aku bisa merasa bahagia.

Haruskah aku menunggu dan seterusnya? Menanti dirimu entah sampai kapan, tanpa kata lelah? Jika dengan setia denganmu aku mendapatkan segenggam pahala, entah bahagianya hidupku dalam surga Tuhanku. Tapi nyatanya tidak, aku tidak bisa menunggumu lebih lama tanpa ada kepastian. Tanpa ada perhatian. 

Lelah akhirnya. Aku lelah jika aku hanya mendapatkan sikap acuh-tak acuh darimu. Aku lelah jika terus memberikan cintaku dan tak di gubris sama sekali olehmu. Kerinduan mungkin akan merajalela dalam diriku menjelma dengan setetes air mata, berharap jika kau datang dan akan menghapusnya, andai saja.

Hanya ada rasa rela-tak rela yang lemah.
Tak ada yang tersisa, tak ada kata-kata yang menjelma kata sapa, 
aku hanya bisa menerima jika ini memang seharusnya. 



That's my feel, D.

14 Jun 2012

Itu Salahmu, jika Aku terlalu Mengharapkanmu

Kamu berhasil membuat aku menyukaimu. Terjun bebas lalu tenggelam ke dalam auramu. Kamu itu selalu bisa membuat aku selalu merasa nyaman di dekatmu. Entahlah, tapi aku lebih menyukaimu dekat dan tidak jauh darimu. Aku tidak tahu mengapa aku terlalu memujamu, kamu itu biasa saja, tidak ada yang berbeda dari yang lain, tapi ulah kecilmu yang menyebalkan itu yang selalu membuat aku merindukanmu.

Sudah berapa lama ya kita saling mengenal? Hampir tiga tahun, mungkin, aku memang tidak tahu kapan tepatnya kita berkenalan, tapi ada yang selalu tepat memaknai perkenalan kita, hati ini yang selalu sama sejak awal kita bertemu. Hati yang selalu menggebu-gebu ketika melihatmu.

Tiga tahun ya? Bukan waktu yang singkat menurutku, kamu memberiku perhatian yang lebih, kamu memberiku sesuatu yang istimewa, kamu selalu membuatku tak bisa lepas dari denganmu, dari sorot matamu, dari sudut bibirmu, dari semua perlakuanmu, walau mungkin hanya aku yang merasakannya. 

Tapi...tiga tahun itu terlalu lama bagiku. Semakin lama kamu jadi semakin semu, semakin sulit ku rengkuh. Tak ada perhatian, tak ada kejutan, tak ada yang istimewa. Apa aku harus menyerah? Meninggalkanmu dan mengubur rasa ini dalam-dalam? Sehingga aku bisa membuka hati untuk orang yang mau menerimaku dengan setulus hati? 

Sebenarnya apa maksudmu, memberikan perhatian lebih tapi akhirnya kau meninggalkanku pula. Itu salahmu! Kamu yang mempermainkanku seolah aku ini boneka dan kamu itu sebagai tuannya. Seakan kamu berhak atas diriku. Kamu yang buat aku terjebak lalu tersesat dalam labirin hatimu. Itu semua karena kamu yang memulai. Itu karena ulahmu yang berlebihan, dan membuatku terjerumus atas rasa sayangku padamu. Jadi salahkah aku? Jika aku menyayangimu? Dan mengharapkanmu tuk menjadi milikku? Jangan bilang dan jangan pernah bilang jika itu semua salahku, karena aku yang terlalu berlebihan menilai semua sikapmu padaku. Awalnya rasa ini biasa, tak ada yang lebih, tapi kamu yang membuat perasaan aku melebihi batas biasa. Jadi masihkah kamu menyalahkanku?

Memikirkanmu membuatku semakin muak, namamu selalu berkeliaran dalam otakku bertaburan tak menentu. Tapi senyummu tak bisa lepas, terlalu melekat, sulit untuk di lepas.

Kamu selalu meyakinkanku bahwa kamu itu nyata, bukan cuma singgah dalam bayang, bukan cuma ada dalam dongeng impianku saja. Kamu itu sungguhan. Asli. Real. Bukan aku yang terlalu gila sampai-sampai hanya khayalan. 

Kamu membawa hari-hariku yang abu-abu menjadi berwarna seperti pelangi me-ji-ku-hi-bi-ni-u.  Menjadi crayon dalam kanvas putihku. Menjadi lentera dalam gelapnya sudut hatiku. 

Ibarat magnet yang sama kutubnya saling bertemu lalu ia serentak bertolak belakang, begitulah hati dan pikiranku, sama-sama bertolak belakang, hati ini tak ingin melepasmu, sedangkan otakku berkata sebaliknya.

Dan sekarang kamu kembali, kamu muncul lagi, menyapaku dengan sapaan selembut kapas. Apa maksudmu? Apa ini bagian dari naskah dramamu? Menyakitiku seperti di sinetron yang ber-season? Apakah ini season ke dua? Berarti peranmu sukses ya? 

Kamu datang lagi, seolah tidak terjadi apa-apa, membuka balutan luka yang dalam yang teramat perih ini yang sudah lama merekat kuat, kamu buka dengan lembut dan sebisa mungkin tak membekaskan rasa sakit. Aku berusaha agar tidak masuk ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya lagi, tapi lagi-lagi kamu meyakinkanku dengan ulahmu yang seakan sosokmu nyata tanpa dusta, berusaha untuk tidak mengingat kenangan, kamu membuka paksa loker kenangan yang sudah ku kunci rapat itu, kamu buka dengan bebas, dan semuanya masih tersimpan rapi disana, kamu membuka paksa sampai kenangan itu jatuh bertaburan dalam rona pikiranku.

Kamu sudah melakukannya lagi. Maukah kamu bertanggung jawab jika aku terpeleset jatuh ke dalam hatimu lagi? Dan tak ada lagi permainan? Kupikir ini sudah lebih dari cukup kamu membuat aku sakit.

Cukup. Sampai disini. Jangan lagi. Kumohon. Aku berusaha untuk melupakan rasa sakit dan meleburkannya, dan jangan kau buat aku merasakan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya. Dan kumohon jangan menyalahkanku jika aku terlalu menyayangimu dan mengharapkanmu kemarin, kumohon sekali lagi padamu jangan memulai permainan itu lagi dan membuat aku kalah bersama rasa sakit yang dalam dalam ikatan hukuman eratmu untuk kedua kalinya. Kumohon.

Jangan, jangan lagi, kumohon.
Aku tak mau terjebak dalam hatimu lagi 
dan membiarkan sakit ini menjamur lebih lama.
Cerita ini kamu yang memulai,
jangan pernah menyalahkanku jika aku mengharapkanmu!

That's my feel
Desy :)


22 Mei 2012

Kau Datang. Singgah. Lalu Pergi

Malam ter-kelabu.

Sepi? Hampa? Galau? Aku merasakannya. Itu semua tentu saja terjadi padaku saat ini. Kau berkhianat. Kau berdusta. Kau lebur semua janjimu. Kau ah semua itu bullshit! Menangis? Tidak, aku tidak selemah itu. Benar? Ya sudah aku mengaku, aku meneteskan air mataku hanya setetes. Mungkin lebih. Ya aku menangis lebih dari setetes aku akui itu. Tapi itu hanya sebentar, aku tidak mau terlalu berlarut. Aku akan dapat lebih dari orang seperti dirimu.

Diam-diam ku rindukan sosokmu, sosok yang hanya singgah beberapa bulan saja dalam hidupku,  cukup singkat memang tapi kau membuat kanvas hidupku yang kelabu menjadi sedikit berwarna, aku masih sering membayangkan dan menerka-nerka jika kau meramaikan handphone atau hanya memenuhi inbox di handphoneku, itu yang sering kau lakukan bukan? Tapi jangan khawatir aku tidak akan melupakan kenangan kita, sungguh. Aku berjanji.

Aku sempat terpuruk. Tidak mau dan tidak dapat mengakui kenyataan jika kita sudah "putus" apakah kau akan memintaku untuk kembali padamu? Apakah kau akan ingat padaku? Atau bersenandung lemah dalam gendang telingaku? Dan apakah dengan ini kau akan berhenti bermain-main dalam pikiranku? Tapi untuk yang terakhir itu kurasa memang sulit, sulit jika ku tidak membayangkanmu. Bahkan sekarang menjadi sering...semakin sering..dan sangat sering.

Kau tidak bertanggung jawab! Kau pergi dengan mudah tanpa ada basa-basi, tanpa ada tanda-tanda atau apapun, kau hapus diriku dari hatimu dengan mudah, dan kau juga tidak memberikan penggantimu. Aku mungkin memang manusia bodoh, tolol, untuk bercerita semuanya denganmu, membanggakanmu, dan mempercayaimu dengan semudah itu, kau memang terlihat sempurna saat kau meyakinkanku dalam setiap ucapmu, dalam setiap ketikan-ketikan sms kecilmu. Tapi berjalan dengan kepercayaanku, kau semakin semu, kau semakin pudar, aku jadi sulit merengkuhmu atau mengajakmu kembali sepertimu yang dulu, kau semakin sering berbohong, dan akhirnya aku menyadarinya. Mungkin aku tidak terlalu bodoh atau tolol.

Masih bolehkan aku bertanya padamu? Pertanyaanku tidak banyak aku hanya ingin tahu, apa kau saat masih bersamaku kau menganggapku sebagai kekasihmu? Atau orang yang berarti atau setidaknya ada diriku dalam sedetik saja di dalam dasar pikiranmu? Singgahkah aku di hatimu? Atau kau hanya mempermainkanku? Taukah kau, satu kata yang ku ketik, huruf demi huruf dalam keyboarku pikiranku tertuju padamu, hatiku nyeri, sakit, sekeras mungkin otakku menyuruhku berhenti, tapi tanganku mengacuhkannya, aku tetap menulis dalam mata berbalut air yang turun dengan semaunya, aku tidak ingin berhenti, sakitnya terlalu kuat, kata demi kata yang ku tulis tentangmu membuat mataku semakin sembab, apakah kau melakukan hal yang sama denganku? Atau hanya sekedar merasakannya? 

Tuhan, apa ini bagian dari rencanaMu? Apa Kau tidak bosan melihat tangisku? Tuhan, apa ini memang yang terbaik untukku, tapi aku merasa sebaliknya Tuhan, aku masih menyayanginya, apakah Kau tidak berniat memutar waktu, apa ini memang ada kesalahan, ayolah Tuhan aku bersungguh-sungguh. Aku serasa ingin tiba-tiba terserang amnesia agar aku melupakan semuanya terutama sakitnya, Tuhan...aku lelah, kenapa kesalahan harus berujung padaku? Kenapa harus aku yang merasakannya? Kenapa harus di mataku air mengalir terus? Apa ini memang yang terbaik untukku? Aku berusaha bangun dan ingin cepat-cepat mengakhiri mimpiku. Hanya itu, tapi Tuhan aku tahu apapun yang kau berikan padaku itu memang yang terbaik untukku, Tuhan..bantu aku melupakannya. Tuhan, aku menyayanginya.

Terima kasih ya,
kau memberi warna dalam kanvas putihku
dengan pelangi indahmu,
walau hanya sebentar
walau aku belum dapat mempercayainya.
Terima kasih juga
atas hujan dalam setiap malamku.

That's my feel
Desy :')

18 Mei 2012

Percakapanku dengan Tuhan

Halo Tuhan, apa kabar? Apa yang sedang terjadi di surgaMu saat ini? Aku tahu disana pasti sangat indah, apa disana ada musim penghujan atau siang-malam seperti di bumi? Apakah disana ada bintang juga?

Tuhan, malam ini aku ingin bercerita padaMu, masih dengan cerita yang sama sebelumnya, masih dengan orang yang sama pula, seseorang yang sering ku perbincangkan denganMu, seseorang yang sering ku sebut namanya dalam doaku, bosankah Kau dengan cerita-cerita monotonku? Aku percaya Kau selalu mendengar doa atau cerita--monotonku, aku percaya Kau selalu memelukku saat aku terisak tangis karenanya, walau aku tak merasakannya.

Aku tahu apapun yang Kau berikan itu pasti yang terbaik untukku, aku tahu bagus-tidaknya menurutku itu pasti memang yang terbaik dan aku butuhkan. Kau memperhatikanku saat ini kan? Disaat aku memang mencintainya, disaat ku pusatkan perhatianku untuknya, disaat ku memutuskan hanya untuk bersamanya, Kau ambil dia, aku tidak marah padaMu apalagi membenciMu, aku hanya bertanya-tanya apa maksudMu sebenarnya. Sesak meluap di dadaku, air mataku terjun dengan bebasnya, menandakan kepedihan mendalam yang ku rasakan.

Maaf jika aku terlalu lemah dan bodoh dalam urusan kali ini, maaf bila Kau pikir aku terlalu di buat-buat, aku memang tidak pandai dalam urusan kehilangan, Tuhan, aku pinta bisakah Kau buat aku lupakan sakit ini? Bisakah Kau melakukan sebuah magis untukku agar aku melupakan semua tentangnya?

Ku tundukan kepalaku turun-turun, ku angkatkan kedua tanganku, ku biarkan air mataku mengalir bebas, aku menyalahkan diriku, ku sebut namamu, aku ikhlaskan jika ku harus melepaskanmu, karena kau memang bukan milikku, aku berusaha rela, aku berusaha akan mengingat kenangan indahnya saja, aku berusaha, karena ini memang yang terbaik untukmu, aku berjuang untuk kebahagianmu, maaf bila selama ini aku mengecewakanmu. Tuhan sampaikanlah kata maafku untuknya, dan juga katakan jika aku bisa hidup tanpanya dan aku ingin dia bahagia, walau sakit yang kurasa.

Untuk mengakhiri doaku malam ini Ya Tuhan, aku hanya bisa meminta dan memohon dan keputusan sepenuhnya ada di tanganMu, bantulah aku untuk mengikhlaskan dia. Mungkin ini menjadi malam terakhir aku bercerita sedihku tentang dia. Semoga aku cepat mengikhlaskannya, dan besok disaat aku bercerita lagi aku bercerita tentang kebahagiaan, dan disaat aku bercerita aku dapat merasakan kehadiranMu memelukku dan membuatku menyunggingkan sudut bibirku.


Aku tahu Kau selalu memperhatikanku.
Disaat ku menulis inipun, aku tersenyum,
berharap Kau melihatku,
dan melengkungkan senyum pula di bibirMu.
.

That's my feel, D. 

12 Mei 2012

Bisikanlah Padanya...... Aku (masih) Mencintainya

Lihatlah luka ini, luka yang kau buat abadi, yang mungkin tak bisa seorangpun menghapusnya atau sekedar sejenak melupakannya, bayang-bayang pelukmu yang masih sampai ini dapat ingin ku rasakan kembali, aku tak akan lupa, takkan pernah bisa, melupakan perih, sakit yang kau berikan ini, kau manusia paling jahat, saat kau bisikan padaku kata-kata terkeji itu, ku kira sebelumnya kau memang terlahir untukku melengkapi hidupku selamanya, sampai ku mati. 

Baru saja kemarin, ku rasakan aroma dirimu menyentuh hangat ragaku, uluran tanganmu yang meraih tubuhku seakan menenggelamkan perasaanku, kau sangat jago meyakinkanku bahwa kau benar tulus mencintaiku, apa aku yang salah? Apa yang aku begitu bodoh? Yang terlalu mempercayai kata-katamu? 

Yang pada akhirnya kau membuka topengmu, memeperlihatkan dirimu yang sebenarnya, jati dirimu yang sungguh jauh dari yang telah lama ku kenal. Begitu tolol aku ya, sampai aku mempercayaimu semudah mengerjepkan mata saja! Tapi, ku tak tahu mengapa, semudah kau menyatakan cinta padaku, semudah itu aku menerimanya, dan semudah dan secepat pula air mata ini mengalir di pelupuk mataku karena ulahmu, apa ini sudah di rencanakan? Apa kau memang merencanakannya? 

Tapi apa salahku? Sampai kau buatku begini. 

Ku mohon sayang, hapuslah tangis ini, genggamlah tangan ini seperti dulu, kembalikanlah senyumku, sembuhkanlah luka hatiku, mungkin aku masih mengharapkanmu.

Tuhan, tolong bisikan padanya, jika aku masih mencintainya, aku masih ingin merasakan sakit yang dia lakukan seperti dulu, atau sekedar merasakan isak air mata akibat yang dia perbuat.

Ku harap suatu hari nanti,
kau mengingatku, bahwa aku ialah
wanita yang kuat yang tegar, dan yang
masih mencintaimu.

That's my feel
Desy :)

10 Mei 2012

Aku Tak Mau ada yang Tersakiti

Setiap saat aku melihat timeline twitterku, hanya sekedar mengecek atau menulis kata-kata yang kurang penting. Saat itu aku melihat satu mention dari seseorang yang telah lama meninggalkan hati ini atau hanya sekedar mampir dalam pikiran yang kadang sibuk ini. Aku memasang muka datar-yang-beranggap-itu-memang-biasa setelah membaca kata-kata sapaan itu. Itu tidak penting, aku tidak perlu mengingatmu lagi, mengingat jika dulu kau yang selalu memenuhi inbox di handphoneku, mengisi ruang pikiranku, genggaman tanganmu yang selalu ada untukku, atau kata-kata menggelitik dari bibirmu, apa aku harus menyebut siapa namamu?

***

Beberapa menit kemudian aku balas mention singkat itu, sedikit demi sedikit  otak ini mengingat kejadian masa itu, sekuat tenaga aku menolak pikiran ini untuk berusaha mengupas memori indah yang sudah terkubur jauh itu, di saat kau menolongku jatuh dan tangan ini berada tepat dalam genggamanmu, kejadian singkat namun sulit terlepas dari pikiran sempitku ini. Tak perlu menunggu lama, balasan darimu langsung datang, tak ku duga kau membekukan bibirku ini, serasa tak percaya ku melihat dengan baik dan membacanya sedetail mungkin, aku tak salah baca, benar-benar tak salah baca, kau memang menulis kata kecil via akun twittermu itu, lagi-lagi aku terhipnotis akan tulisan kecilmu, lagi-lagi aku terbuai akan jemarimu yang membuat tulisan itu menerbangkan sayap yang telah mati ini ke negri yang tak ku ketahui sebelumnya, sebuah pertanyaan biasa yang membangkitkan energiku, tulisan kecilmu yang singkat ini "Kau kemana saja? Aku merindukanmu". Rasa ini terlalu absurd bagiku, mungkin ini hal yang biasa, sangat biasa, tapi tidak untukku, seseorang yang sudah terkubur jauh dalam ingatanku, yang kembali membuka kuburannya sendiri dan memunculkan dirinya kembali yang telah lama hilang. 
Tapi di saat ku menemukanmu lagi, di saat kau kembali, aku sudah tidak sendiri lagi, aku sudah mempunyai seseorang yang ku anggap dia memang tulus untukku. Dan kau tahu rasa ini sangat sulit untuk di deskripsikan dalam situasi ini.

Aku tidak tahu apa maksudmu, kembali ke permukaan setelah lama kau tenggelam, membuka pintu memori dalam otakku, memaksa mengingat kembali perasaan itu. Sekarang hampir seperti dulu, kau mulai mengisi inbox-ku, membagi setengah pikiranku untukmu dan untuknya, dan mengulang-ulang kata-kata yang kau kirimkan, aku takut jika aku terus menerus meneladenimu, kau beranggapan aku (masih) mempunyai rasa padamu, aku memberikan harapan padamu, atau aku (masih) menginginkanmu dan menjadi milikmu, tapi tangan ini tak sanggup jika aku mengacuhkan pesan atau mentions darimu, mata ini tak bisa jika tak mencari-cari sosokmu dalam timelineku atau dalam tumpukan mentionsku, tapi jika sehari aku tak menerima kabar darimu aku merasa....kehilangan.

Tidak, aku tidak mengkhianati kekasihku, aku tidak berniat atau bermaksud menduakan atau berselingkuh atau apalah namanya, aku hanya membagi kepedulianku, tapi jika yang aku maksud itu berlebihan, aku bersedia menguranginya, toh dia hanya bagian dari masa laluku yang seharusnya aku lupakan dan memang aku lupakan, aku memang merasakan dilema, aku berusaha menutupi dan berbohong pada diriku bahwa aku sudah tak mempunyai rasa apapun padanya, sedikit  ya hanya sedikit satu persen kemungkinan rasaku tertarikku padanya, hanya tertarik tidak lebih, ya aku akui aku memang tidak pandai menulis dengan baik, atau merangkai kosa kata dengan indah, tapi perasaanku memang susah di ungkapkan dengan kata-kata sastra.

Aku mulai terbiasa dengan keadaan ini, dengan dua orang yang berbeda yang tulus memberikan perhatiannya padaku, aku mulai menikmati saat-saat mereka dengan bergantian menarik perhatianku dengan cara yang berbeda pula, dan memasuki ruang pikiran ini dengan saat yang bersamaan, tapi aku akan tetap memilih kekasih pertamaku, jika aku pada akhirnya memang harus memilih. Walau aku memang ingin keduanya tak merasa tersakiti olehku, tapi aku tahu suatu saat nanti memang akan ada yang tersakiti.

Terima kasih. Semuanya.

Di tulis saat aku merasakan dilema yang luar biasa.

That's my feel
Desy :)

5 Mei 2012

Aku Ingin Kembali ke RumahMu Tuhan

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, sejak kejadian itu aku ingin hidupku seketika berhenti, melupakan semuanya, segalanya, aku ingin kembali ke rumah Tuhan, aku ingin bersamanya, meninggalkan apa yang aku punya, melupakan semua perasaanku yang sakit, kejadian hari ini membuat aku untuk memang memutuskan urat nadiku, tak peduli akan air yang terus mengalir di pipiku, tak peduli akan dosa yang akan mengikatku nantinya, aku hanya ingin pergi dari dunia yang membuatku penat ini, aku ingin bersama Tuhanku, aku ingin melepas bebanku yang berat ini, aku ingin mengadu atas semuanya, atas semua orang yang telah menjahatiku, menghujatku, tau hanya sekedar mengolok-olokanki, aku ingin menghabiskan ceritaku denganNya, aku ingin mendengar nasehatNya, aku ingin menukar sedihku dengan kebahagiaan yang telah di janjikanNya,

***

Pertengkaran. Itu satu-satunya alasan mengapa aku ingin memberhentikan hidungku untuk menghirup segarnya oksigen. Aku lelah dengan semua bantahan atau pembelaan yang tak ada ujung. Benci? Tidak, aku tidak membenci mereka. Kesal? Tentu saja! Lelah? Itu sudah rutinitasku, tidak usah di tanyakan lagi. Sejujurnya aku tidak menginginkan mereka meninggalkanku, aku ingin semuanya baik-baik saja, aku benci jika ada kata-kata yang tak semestinya aku dengar keluar dari mulut mereka, aku ingin ini semua tidak terjadi, aku ingin ini semua hanyalah dalam mimipiku, atau dalam cerita dongeng yang tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi. 
Sampai kapan aku harus bertahan menutupi segala perih ini dengan memasang topeng ceria dengan sebuah senyum dusta? Sampai kapan aku harus (berpura-pura) bahagia di atas penderitaanku selama ini? Mungkin lempengan hatiku yang hancur belum menyatu, aku belum menemukan lem yang pas atau serpihan yang hilang itu, aku harus menata kehidupanku dengan di lapisi oleh sebuah kebahagiaan yang mungkin sulit ku dapat. 
Aku merasa memang tak ada lagi orang yang peduli padaku, mereka semua egois, selalu memandangku salah, sebab akibat perbuatan yang salah itu pasri berujung padaku, tak ada pembelaan, ataupun penyangkalan, aku hanya bisa diam meratapi hidupku yang sedemikian ini, aku tak menyesal jika Tuhan mengirimku di dunia ini atau di keluarga ini, aku bersyukur Ia masih mengirimku di keluarga yang tidak terlalu salah. 

***

Tuhan, aku tahu mungkin doaku tidak dapat semudah itu kau terima, aku tahu doaku memang belum tentu benar, aku juga tahu apa yang aku minta itu belum tentu yang aku butuhkan atau yang benar untukku. Tuhan, apakah kau tidak rindu padaku? Apakah kau masih ingin aku berada di dunia yang jauh dariMu? Aku tahu, aku tahu, Kau memang dekat denganku, Kau bisa saja dengan puas melihat ekspresi wajahku yang berbeda sesukaMu, tapi aku? Sampai kapan aku terus membayangkan ini? Membayangkan jika aku bertemu denganMu, berpelukan di taman surgaMu, atau bergurau di rumput yang luas sambil memandang awan atau bintang bersamaMu? Atau melihat rumah istanaMu yang indah? Atau hanya sekedar mengadu atas keluh kesahku...
Tuhan, aku ingin kembali padaMu, aku ingin hidup bahagia bersama selamanya, apakah Kau tidak menginginkan itu? Apakah Kau masih ingin melihatku menderita di sini? Di dunia ini? Ah! Aku tidak mau, aku ingin kembali kerumahMu, walau nanti aku akan sedih, karena semua tak acuh padaku, mungkin aku akan menangis, karena memang tak akan ada yang peduli padaku, atau hanya sekedar bersedih ketika ku pergi dan pasti aku akan di lupakan, makamku nanti akan usang, tak ada yang membersihkan, hmmm...aku jadi sedih, tapi aku akan bahagia bersama Tuhanku yang abadi selamanya.

Tuhan
cepat ajak aku ke rumahMu ya
aku lelah dengan semua ini.
Dari diriku
yang selalu menangis dalam kegelapan
aku fikir, kau tahu aku ;)

That's my feel
Desy :)

27 Apr 2012

Percakapan Kecil Kita

"aku janji akan mencintaimu, menjagamu, selalu, selamanya, hmm kau juga kan?" katanya memulai percakapan dalam keheningan ini.

"hah? Apa? Janji?"

"iya, janji setia padaku."

"aku 'ga mau"

"kenapa?"

"apa harus dengan janji?"

"iya, kalo kamu 'ga janji, apa yang bisa aku percaya dari kamu?" Balasmu dengan sedikit ngotot.

Sejenak aku memikirkan jawaban yang tepat untuknya. 

"apa harus dengan janji jika perlu ada kepercayaan? Apa dengan diikat oleh janji kita memang bisa seratus persen percaya? Apa dengan di balut oleh sebuah janji kita memang takkan membuat dosa dengan mengingkarinya? Apa kau tahu apa "janji" itu sebenarnya?" jelasku panjang.

Diapun terdiam.

"aku ingin bertanya sesuatu denganmu" tanyaku serius.

"apa?" singkatmu.

"apa kau pernah berpacaran sebelum denganku?"

"iyalah, kenapa?"

"apa kau juga mengikat janji dengan pasanganmu sebelumnya?"

"hah?"

"apa iya? Apa kau mengumbar janji juga?"

"hmm, iya. Sudahlah itu masa lalu, mungkin kau yang terakhir bagiku." katanya mengeles.

Sambil menggelengkan kepala aku membuka mulut.

"tapi kau mengingkarinya iya kan?. Kau juga berjanji akan mencintai atau menjaga atau setia selamanya bukan? Tapi kau tidak melakukannya, jika kau melakukannya tak mungkin sekarang, detik ini kau bersamaku disini, membicarakan ini."

"tapi aku memilihmu, karena aku mencintaimu."

"lalu, kemana janji yang kau berikan kepada pasanganmu sebelumnya?" tanyaku ketus.

Beberapa lama, keheningan menyusup ke sela-sela ketegangan kita berdua, sampai akhirnya kau yang duluan membuka mulut.

"mungkin kau yang terakhir." jawabnya ragu-ragu.

"masih mungkin bukan? Perjalanan kita masih panjang, aku belum tentu selamanya denganmu, dan begitu juga denganmu."

"kenapa?"

"apa aku mesti jelasin sampai mendetail?"

"iya"

"yang paling penting kita 'ga sejalan."

"maksud kamu?"

"kita ga satu keyakinan, kita ga satu pemikiran, kita ga saling mengerti, kita sama-sama egois." jawabku lengkap.

"hmm, aku bisa berubah, aku bisa ngikutin apa yang kamu mau, kalo itu mau kamu, tapi kalo kita menurut kamu 'ga sejalan, kenapa kamu masih disini? bersamaku?"

Dan akhirnya aku yang terbisu.

"aku masih bersamamu karna... Hmm, aku.... Masih sayang denganmu." jawabku gagap.

"aku juga, jadi, apa kau masih 'ga mau untuk janji denganku?"

"maaf, jalani saja, aku takut menyakitimu karena aku tak bisa mengikat janji itu sejalan dengan omonganku, atau aku takut mendapat dosa karena aku tak bisa menjaga janji tersebut. Aku tahu, kau pasti kecewa. Dengerin aku sekali aja, "tidak semua kepercayaan itu bisa diikat dengan janji, dan tidak semudah itu membuat janji yang kita bisa jaga dengan benar, ayolah percaya, saling percaya aja, aku percaya kamu, kamu percaya aku ya? Gausah ada janji kalo cuma buat percaya aja, oke? Mulai sekarang, percaya aku walaupun tidak berbalut ikatan janji, percaya aku mulai dari sini, dari hati." Jelasku.

"iya aku ngerti, dan dengerin aku juga, "aku percaya denganmu dalam segi apapun, maaf jika aku memaksamu untuk menjalani kepercayaan dengan janji, aku hanya khawatir jika kau akan pergi, aku hanya memastikan untuk kamu bener-bener percaya aku." Balasnya.

"jangan khawatir, aku percaya kamu, tapi jangan kecewain aku karena sekali kamu ngecewain aku, aku ga akan pernah lagi percaya kamu, dan terima kasih."

"aku juga, akan ngelakuin hal yang sama denganmu, terima kasih juga."

Dan semenjak percakapan kecil itu,
dia tidak pernah mengatakan kata "janji" lagi.
Karena sebuah "janji" tidak menjamin akan kebenaran.
Dan kepercayaan itu tidak semua bisa diikat dengan sebuah "janji".

That's my feel
Desy :)

20 Apr 2012

Kita (memang) Berbeda

Tetes pilu yang ku rasakan hadir kembali, rasa iri kepada orang lain pun seketika datang tanpa ada yang mengundangnya, oh tidak, aku tidak marah karena kekasihku mungkin (sedikit) berbeda dengan  temanku lainnya, walau ini hal yang umum tapi kadang membuatku takut akan kenyataan bahwa kekasihku yang sekarang berbeda keyakinan denganku. 

Mataku tak bisa lepas dari layar handphoneku, takut ketika ada pesan darinya yang aku lewatkan, jari jari nakalku tak bisa melepas handphone itu dari genggamanku, satu jam, dua jam, aku masih sabar sampai dia pulang dari gereja dan membalas pesan singkatku. Tidak, tak tersirat sedikitpun rasa kesal dariku, marah? Marahpun tidak, hanya.. Ya sudah aku mengaku.. Aku sedikit geram menunggu dia membalas pesan singkatku karena dia sedang berdoa dalam gerejanya, berbalut suci ikatan antara ia dan Tuhannya, atau bercengkrama dalam balutan doa yang sakral yang ia panjatkan di depan Tuhannya. 

Aku terdiam menatap layar handphoneku yang masih belum ada dering panggilan telepon atau hanya dering sms, semakin sering, semakin sering, tapi tak ada perubahan, nihil tak ada satupun dering sms yang bergetar dan berbunyi. Tiga jam. Empat jam. Tak ada tanda-tanda bahwa dia akan memberi kabar siang ini. Nampaknya kesabaranku memang sedang di uji, mengerti? Ya aku mengerti bahwa kita memang berbeda dan harus saling memahami, tapi bisakah dia mengerti juga? Mengerti jika aku berbeda keyakinan dengannya, bisakah dia sabar menungguku di luar masjid sampai aku selesai beribadah? Atau hanya dengan sekedar mendengarkan alunan suci Al-qur'an yang keluar dalam bibirku dengan patuh? Apakah kau juga bisa memahamiku?

Aku menyayangimu, tapi apa Tuhan kita mengerti? Apa nanti pada akhirnya aku dan kau tak akan seperti cerita dalam dongeng yang berakhir pada kebahagiaan? Dosakah kita? Memperjuangkan cinta yang tak semestinya kita rasakan? Apa salah jika kita bersama dalam satu agama saja? Ataukah dalam cerita ini harus ada satu yang mengalah? Satu yang tersakiti? Jika aku bilang aku mencintaimu, bibirku tak berdusta, aku memang mencintaimu, tapi apakah perbedaan ini aku akan bertahan sampai akhir pada rangkaian cerita yang kita buat? Mimpi yang kita susun serapi mungkin? Atau dalam cerita ini akan ada yang menangis? Tersakiti sampai mati? 

Kita memang berbeda sayang, kita tidak akan sejalan, lupakan aku secara perlahan, maaf jika aku mengundurkan diri menjadi ratu dalam dongeng yang kita buat, carilah ratu yang sejalan denganmu, sungguh aku mencintaimu, tak ada rekayasa ataupun dusta, tapi aku tak bisa lebih lama bertahan lagi, terima kasih untuk hidup yang berbeda yang kau berikan sampai detik ini.

Carilah ratu yang sejalan denganmu,
lupakan aku secara perlahan
tapi simpanlah aku dalam loker ingatanmu
bahwa aku pernah menjadi bagian dalam cerita dongengmu.

That's my feel
Desy :)

15 Apr 2012

Janji yang Akhirnya Lenyap


Aku sangat kenal dengan suara "khas" milikmu, aku sangat kenal senyum tipismu, jemari jemari nakalmu, dan saat bahasa lembutmu membuai diriku, tak ku sangka, sosokmu yang aku percaya, dan aku pikir (tidak) sama dengan lelaki lain rupanya tidak, aku mungin sudah terbuai dalam mimpi indahku, janji yang terucap dari bibirmu itu seakan benar, tak tersirat sedikitpun di pikiranku kau  akan mengkhianatiku, janji itu sekarang telah menjadi abu yang tak akan kembali, sulit aku tuk memaafkanmu dan melupakan semua yang kau lakukan, mungkin benar kata orang-orang,
"Semua itu harus ada bukti, bukan JANJI"
Janji yang kau ucap, seakan-akan menguap, lalu menjadi uap yang akhirnya hilang. Janji yang terucap melalui bibirmu hanyalah dongeng yang tak akan sampai pada akhir bait cerita yang indah dan sempurna. Setelah kau ambil semua kepercayaanku, kau menghilang begitu saja, tak ada kabar sedikitpun, aku telah termakan jebakanmu, janji manismu itu telah membakar amarah dalam sanubariku, sekarang aku sudah tak mempercayaimu lagi, mimpi membangun kastil pun seketika melebur menyatu dengan pasir yang tak akan pernah kembali menjadi meyatu, janji yang kau buatpun akhirnya lenyap dengan menghilangnya dirimu, oiya sekali lagi, aku lebih butuh SATU bukti daripada SERIBU janji manismu itu.

That's my feel
Desy :)