14 Agu 2012

Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part III-


        "Hey aku tau kamu tau aku tapi hmm kita gak pernah deket, aku Anisa, kalo kamu inget, aku sekelas sama kamu"
Kata-kataku janggal, aku tidak pandai merangkai kosa kata, belum ada kata-kata menjelma kata sapa, sulit untuk ku reka-reka, apa kata yang pas untuk menyapa. 
       "Aku udah suka sama kamu pada pandangan yang pertama, aku udah jatuh cinta berkali-kali sama kamu"
Aku bingung harus mulai dari mana, berkenalan saja aku tak tahu harus bilang apa, aku tahu kamu, aku tahu segalanya tentang kamu, tapi kamu sama sekali tak tahu apa-apa tentang aku, se-begitu tidak pentingnyakah diriku? 
          "Kita tak pernah saling bicara, tapi aku pernah menyapa, tapi kau hanya diam, tak peduli, dan pergi."
Aku mengingat kembali saat itu, aku merasa bodoh.   
          "Kamu tahu aku? Kamu kenal sama aku? Setidaknya, kamu ingat namaku?"
       "Aku memang bodoh untuk memilihmu jadi penjamah hatiku, aku tidak tahu, sulit untuk di jelaskan, apapun itu alasannya, aku mencintaimu."
Aku menatap cermin di hadapanku, aku menatap bayanganku, tapi pikiranku tertuju padamu, apa yang kamu lihat dari aku? Sampai kamu tidak mau mengenalku. Aku memikirkan wajahmu, wajah yang selalu melekat di otakku, tak pernah ku lupa, dan tak bisa ku lupa. Apa spesialnya kamu sampai aku hampir gila terhadapmu? Cukup, aku memang tidak punya alasan untuk memujamu, yang aku tahu rasa cinta ini sudah tumbuh menjalar dalam hatiku.

***

Tak sabar aku inginkan pagi, menyambut mentari, setidaknya dapat merabah hati dengan kehangatan yang pasti. Aku menunggu hadirmu memanah mataku, seperti biasa, mencari sosokmu sang muara rindu.
Ku temukan sosokmu di balik meja kayu itu, melihatmu merebahkan kepala dengan mata terpejam membuat ratusan pertanyaan menghujam, "ada apa denganmu Ryan?"
          "Ryan kok kayanya lemes gitu ya, dia kenapa?" tanyaku pada Bella.
          "Ya mana gue tau, gue bukan Ibunya." 
          "Gue kan cuma nanya, gue khawatir, gue takut dia kenapa-napa."
          "Kenapa gak lo aja yang nanya sendiri?"
          "Hah?! Lo gila, ya engga lah, gue mana berani." Balasku lemah.
          "Terus kapan lo beraninya? Kalo dia udah ketauan mau mati terus elo baru mau ngajak ngomong?"
          "Lo kok gitu sih Bel, gue gatau harus bilang apa, mungkin jam istirahat gue mau nyoba."
Bella tersenyum lemas, mungkin mengkasihani sahabatnya yang di relung cinta buta. "Elo harus nyoba, elo harus tahu perasaan dia, elo jangan mau perasaan elo yang di gantung kaya jemuran!"
          "Apaan sih Bel, iya jam istirahat gue mau nyoba, tenang aja kali Bel." Jawabku malas.

***

         "Jam istirahat nih, kapan mulai?" Bella mengingatkan.
         "Gue gugup nih Bel, gimana kalo dia natap gue sinis terus pergi gak peduli gitu aja, gue bisa mati berdiri Bel." Kataku gugup.
        "Tenang aja kali, kalo elo di gituin, gue deh yang maju, gue stay di belakang lo, selalu! Gue janji deh."
        "Oke sekarang ya, do'ain gue Bel." Kataku sambil beranjak pergi.
        "Gue do'ain elo, selalu Nis, semoga elo dapet kebahagiaan lo dengan cepat ya." Ucap Bella dalam hati.

Aku berjalan dengan lemas dengan membawa botol Pocari. Ku datangi meja pangeran yang membuatku susah tidur itu, perlahan ku ulurkan tangan yang menggenggam botol air ke Ryan. Dia menengok ke arahku, mata kita saling menatap, aku tenggelam dalam matamu dan tak ingin beranjak, aku terhipnotis dengan matamu, mata yang membuat aku jatuh cinta berkali-kali itu. Tapi aku tidak bisa berlama-lama menatap mata itu, ia yang menyadarkanku untuk segera sadar dan kembali ke alam nyata.
       "Eh iya, hmm gue punya ini buat lo." Kataku dengan memberikan botol dengan menyunggingkan senyum semanis mungkin.
       "Buat apa?" Balasnya sinis dan serasa terganggu.
       "Eh itu." Kataku terbata. "Gue liat elo dari tadi lemes, jadi gue kira elo dehidrasi jadi gue, hmm inisiatif aja sih buat ngasih lo ini." Tanganku masih tertuju ke arahnya, dengan menunduk berharap Ryan menerima minumanku.
       "Gue gak butuh." Katanya acuh
Seakan jantungku berhenti berdetak, dadaku sesak, aku tak sanggup menahan air mata, aku ingin menangis, "kenapa kamu tega sama aku Ryan? Kenapa kamu bikin aku kelihatan bodoh di hadapanmu lagi?" Kataku lirih dalam hati.
     "Oh iya, hmm sorry sebelumnya kalau gue ganggu lo." Balasku dengan menahan isak.

Aku berlari menuju toilet yang saat itu sepi, aku tumpahkan amarah dan tangisku, aku memaki diriku sendiri yang terlalu bodoh untuk mencintaimu dan berharap di balas cinta olehmu. Rupanya mencinta dalam diam itu tidak jauh lebih sakit dari dengan terang-terangan yang menunjukan cinta tapi tidak di gubris sama sekali. Aku sakit, aku terisak, aku hampir sekarat, kamu tahu Ryan kalau aku....
Air mata lagi.

***

      "Elo mau nerusin kuliah dimana?" tanya Bella seusai malam Prom nite.
Malam ini bisa jadi menjadi malam terakhir aku tuk melihat pria yang membuat hujan dalam tiap malamku, Ryan sanggupkah aku melupakanmu, tidak melihatmu sehari saja sudah membuatku gila, apalagi tidak akan melihatmu berhari-hari, berminggu-minggu atau sampai bertahun-tahun lamanya.
     "Gue gak tau." balasku datar.
     "Elo harus move on! come on Nis, lo sekarang udah bukan Anisa yang gue kenal lagi, elo udah termakan cinta buta tau gak!"
     "Gue belum bisa, buat lupa sama dia, dia udah terlalu lama singgah di hati juga pikiran gue." kataku lirih.
     "Terserah elo! Gue udah capek ngasih saran ini itu yang gak lo gubris sama sekali, sekarang gue serahin semuanya ke elo, gue harap elo bisa ngasih keputusan yang bener dan elo gak nyesel nantinya. Nis, life must goes on. Inget itu!" Bentak Bella seraya pergi meninggalkan aku sendiri.

     "Gue gak tau harus gimana, mengejar, berlari atau hanya diam di tempat. Gue bingung, cinta gue udah melambung tinggi buat Ryan. Cinta yang tak terbalas, cinta yang tanpa tanda tanya." Ucapku dalam diam.

***

       "Bel, gue di terima di UI!" kataku semangat di balik telepon yang menghubungkanku pada Bella.
       "Selamat Nis! Gue tau elo bisa kok!" 
       "Iya, eh kapan kita ketemuan? Gue kangen sama lo!" 
       "Besok sore di cafe biasa ok?'
       "Siap, sampe ketemu besok ya!" balasku menyanggupi, sambil menutup telepon.

Ku rebahkan kepala ini, memejamkan mata, dan ku temukan lagi sosoknya, semakin lama, semakin lekat bayangnya, mengapa pikiranku selalu tertuju padamu? Bayanganmu menjadi semu, hilang di balik cahaya hitam, aku mencarimu, menelaah sepi yang menghujam, gelisah yang datang bertubi-tubi, aku melakukan ini karena aku peduli.

Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini terlalu sepi untuk di deskripsikan, tidak seperti dulu yang menyambut pagi dengan menggebu, hanya untuk melihat sosokmu. Aku merapikan pakaianku, tidak seperti dulu yang menggunakan putih abu-abu, sekarang baju kemeja polos dan celana jeans hitam sudah terpasang rapi di tubuhku, aku siap melewati hari, dengan semangat seperti pagi.
Ku lemparkan pandangan pada gedung yang bercat putih itu, mengagumi di setiap sudutnya "nice university" pikirku. 
Aku melihat seseorang yang sepertinya ku kenal, tapi aku belum yakin, wajahnya masih terlihat samar. Ia duduk di bawah pohon yang cukup rindang sambil membaca buku yang lumayan tebal, terpasang kacamata di balik matanya. Sekilas seperti Ryan. Sudahlah, aku memang selalu berpikir tentangnya, sampai semua orang aku pikir Ryan. 

Dia mengangkat kepalanya, dan meneguk air mineral yang ada di sebelahnya, sontak aku terkejut, dia memang Ryan, itu Ryan! Lalu apa maksudnya ini? Aku memang sebelumnya sudah tahu jika Ryan mau masuk universitas yang sama, tapi aku tidak berpikir jika dia memang memilih untuk kuliah disini. 

Apa maksudnya ini? Di saat aku memilih untuk melupakan, dia muncul kembali.

Bersambung...

9 Agu 2012

Berhenti Menggangguku Sayang!

Aku, kamu sudah tidak menjadi kita. Sudah berapa puluh kali aku katakan dan jelaskan panjang lebar ini itu padamu. Sudahlah, aku sudah muak dengan omonganmu, aku sudah muak dengan usahamu yang meyakinkanku jika bukan kamu yang salah, lalu kamu berpikir kalau aku yang salah? Aku yang menyebabkan ini semua? Aku? Tak usah lagi memutar balikan fakta, Sayang! Tak usah menuduh si ini dan si itu. Tak usah menutup tutupi kesalahanmu dengan kebohongan yang kau tambal sana sini, aku sudah tidak percaya, dan aku sudah kehilangan rasa terhadapmu, rasa cinta yang tumbuh menjalar itu, rasa cinta yang hampir membunuh pikiran itu! Aku sudah muak, berhentilah membuatku untuk mengasihanimu, janganlah kau coba untuk membuatku yakin dan jangan jelaskan alasan yang tak bisa lagi aku percaya.

Bersumpah seenak jidat, berjanji seenaknya, mengingkari dengan mudahnya, menangis air mata buaya, kamu fikir aku percaya? Kamu pikir aku akan membuat rasa? Kamu pikir aku akan kembali ke dalam jeratanmu lagi? Sudahlah Sayang, jangan membuat dirimu terlihat lebih tolol dari biasanya, jangan membuat dirimu terlihat kurang kasih sayang, sikapmu sudah membuatku muak lebih dari yang ada di benakmu sekarang, aku sudah lelah, kapan kau mau menyerah?

Aku sudah bosan melihat namamu yang membuat ponselku berdering, mau sampai kapan kau habiskan pulsamu untuk menghubungiku? Mau sampai kapan kau sisakan waktumu untuk membuang tenagamu dengan mengetik kata-kata tidak penting untuk dikirim padaku? Se-kurang-kerjaan itukah dirimu? Tak usah kau buang tenaga dengan menghubungiku lagi, tak usah berbicara tak tentu arah yang membuatku peduli lagi, tak usah berjanji sejauh angkasa untuk mengambil perhatianku lagi. Aku sudah jengah dengan bualanmu yang semuanya bohong itu!

Mengapa? Mengapa aku semuak itu padamu? Mengapa aku se-tidak peduli itu terhadapmu? Haruskah aku bercerita lagi? Haruskah aku menjelaskan dengan ribuan kosa kata agar bisa membuatmu mengerti? Kau telah tega berdusta di kala ku setia, kau hempaskan janjimu yang seindah rasi bintang di angkasa, kau bunuh perasaanku dengan cara mendua, sudahkah kau mengerti mengapa aku muak terhadapmu? Tapi kau tidak berhenti mengusik hidupku, kau datang seolah tidak terjadi apa-apa, seolah semua baik-baik saja, sebodoh dan setolol itukah dirimu? Se-tidak punya perasaan itukah dirimu? Kau pikir aku hanya wayang yang dapat di gerakan dan di mainkan seenakmu? Kau pikir se-tidak punya perasaan itukah diriku? Aku tidak sebodoh dirimu Sayang! 

Iya aku tahu, aku mengerti jika aku yang paling berkesan di hatimu, aku memang banyak diam, aku memang lebih banyak bertindak, dan setelah kau lakukan itu semua aku masih terlihat baik-baik saja. Kamu tidak tahu betapa menyakitkannya itu, kamu tidak tahu berapa malam aku jatuhkan air mata tanpa sebab karenamu, kamu tidak tahu betapa sekaratnya aku saat mengetahui wujudmu sebenarnya. Tapi tenanglah Sayang, aku tidak akan menyebar luaskan tentang wujud aslimu yang seburuk itu, aku masih akan tetap seperti dulu, diam tetapi akan membunuh perlahan.

Jadi kau sudah mengerti? Aku sudah jelaskan panjang lebar padamu, aku sudah memberikan kesempatan padamu, tapi tak pernah kau gubris, kau berjalan seolah tidak peduli, tapi kini, aku sudah pergi dan kau masih memintaku kembali, tak jengahkah dirimu dengan amarahku yang selalu membara ketika berbicara denganmu? Tak bosankah dirimu dengan omongan panjang lebarku? Mengapa kau masih berharap pada kenangan yang akan kembali? Mengapa kau masih saja mengerjar bayanganku yang tak pasti? Aku lelah terus menerus berlari dari kejaranmu yang tiada henti.

Sudah aku tekankan berkali-kali padamu, sudah aku beri ribuan saran terhadapmu, tapi kau tak berubah, kau masih saja sama, kau si pembohong, si perusak kebahagiaan, dan si bermulut besar. Kau masih saja menjadi si pengarang yang mempunyai cerita seribu satu malam, seindah dongeng, kau masih saja si pemberi harapan seluas cakrawala, tapi bohong semua.

Intinya kapan kau akan berhenti mengusik hidupku? Kapan kau akan berhenti menggangguku dengan janji sempurnamu itu? Kapankah kau akan mengikhlaskanku Sayang? Aku sudah pusing memikirkan caranya terus menerus menghindar darimu. Aku bingung mengapa dulu dengan mudah aku menerima orang sepertimu, mengapa dulu aku dengan mudah terpancing cinta yang di umpan olehmu, sebodoh apakah diriku dulu dengan mudah menerimamu? 

Jadi Sayang, berhentilah membujukku untuk bersama dengamu seperti dulu, berhentilah menghubungiku atau seperti yang kau bilang jika aku selalu ada di pikiranmu, aku sekarang sadar jika aku memang kau permainkan, berhentilah menyakiti orang seperti mainan yang merajuk meminta kebebasan darimu Sayang, jangan biarkan aku membunuh dirimu secara diam dan perlahan dengan menyakitkan. 

Tidak usah bersandiwara, tidak usah berdusta, hanya katakan kau menyerah, itu saja.

That's my feel, D.

3 Agu 2012

Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part II-


Aku lagi-lagi melihat ke belakang, kadang sampai memutar badanku hanya untuk melihatnya, aku selalu tenggelam dalam matanya, mata di balik kaca mata kotak itu mampu menghipnotisku sampai ke dasar pikiranku, aku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang memiliki mata hazel itu.

Melihatnya dari jauh saja sudah membuatku tak tahan, aku ingin memilikinya, aku ingin bersandar di bahunya, merasakan aroma tubuhnya yang meresap dengan diam dalam hidungku, tentunya yang aku ingin memiliki senyumnya seutuhnya.

    "Gue belum pernah liat doi senyum." kataku tiba-tiba.
    "Dia tuh orang berdarah dingin, gak mungkin senyum, tatapannya aja udah mematikan." Bella membalas dengan yakin.
    "Elo emang gila Bel, dia itu gak pernah senyum, karna gak ada yang bikin dia senyum."
    "Ah so tau amat sih lo. Dia itu emang orangnya misterius tau, jangan-jangan dia melihara tuyul lagi."
    "Heh makin ngaco lo, gak mungkin dia kaya gitu!" Kataku sambil mendorong bahu Bella.
    "Lah habis, dia itu ngobrol aja jarang, senyum kagak, dan kalo istirahat dia itu suka tiba-tiba ngilang."
Aku terdiam, Bella benar, selama jam istirahat aku tidak pernah melihatnya di kelas atau di kantin, tak tahu jika dia diam di perpustakaan di koridor sekolah.
    "Tau ah. Yang penting gue udah jatuh cinta sama dia. Hehehe." 
    "Percuma elo tergila-gila sama dia, kalo dia kenal elo aja engga."
    "Dia kenal gue kok, gue yakin dia tau nama gue."
    "Cuma nama, pernah di sebut aja engga."
    "Kenapa sih lo jadi temen bukannya dukung dikit malah bikin pesimis mulu."
    "Gue cuma takut elo yang sakit, gue cuma takut elo yang nanti ngeluarin air mata. Gue cuma pengen yang terbaik buat lo Nis."
Aku terdiam lemah.
    "Elo udah gak kaya dulu lagi. Elo berubah setelah lo tau Ryan."
    "Gue udah jatuh cinta sama dia, jatuh cinta sampai berkali-kali malah, rasa gue udah jadi kaya bunga plastik buat dia, bunga yang tak pernah mati, dan tak akan berubah."
    "Itu terlalu berlebihan, jangan kasih hati elo buat orang yang sama sekali engga peduli akan hadirnya elo Nis! Kecuali elo yang mulai, elo yang megang start duluan, selamanya bakal kaya gini terus, kalo elo tetep nunggu dia. Dia gak akan berubah, kecuali elo yang ngerubah!" 
    "Gue tau Bel, tapi gue terlalu takut untuk mulai, gue takut dia semakin ngejauhin gue." kataku pasrah.
    "Lah bukannya kemaren lo bilang lo mau yang duluan mulai?"
    "Iya tapi gue pikir-pikir lagi aja deh kali ya."
    "Cuma dua pilihannya, elo yang duluan deketin, yang kedua elo harus lupain dia dan cari yang lain, yang lebih normal dari dia!"

Aku menghebuskan nafas pasrah, sambil melirik ke arahnya, cukup lama, ku pandangi lekat wajahnya dalam diam, dalam jarak. Dia balik menatap! Dia melihatku! Aku balik menatap lurus matanya, aku tidak tahu apa yang dia lihat dari aku, tapi tak terbesit senyum di bibirnya, dia melihatku dengan muka datar, tak ada ekspresi sedikitpun, lalu dia melempar wajahnya ke arah jendela. Hanya beberapa detik kita saling menatap, aku ingin berhenti di waktu tadi. Apa yang kamu pikirkan ketika melihatku? Apa kamu baru sadar kalo ada orang yang memperhatikanmu dalam diam? Apa baru sekarang kamu menyadari kehadiranku? Apa sekarang kamu mau sedikit saja memberikan suaramu untukku? Maukah kamu berbicara denganku?

      "Bel! Dia tadi ngeliat gue! Dia ngeliat ke arah gue!" kataku girang.
     "Terus elo mau ngapain sekarang? Elo masih mau diem aja gitu? Masih mau nungguin dia yang mulai. Mungkin yang tadi kode buat lo." balasnya datar.
      "Gue mau nyoba, gue harus coba!"
      "Semangat Nis, gue tau elo pasti bisa, semoga elo bisa melelehkan hatinya dan elo bisa jadi putri dan berakhir bahagia selamanya." canda Bella.
       "Hahaha, thank you Bella, elo emang sahabat yang paling baik! Selamanya!"
       "Gue cuma mau yang terbaik buat lo Nis." Bella tersenyum lemah.
           
Aku menatap orang yang selama ini aku puja, orang yang selama dua tahun ini mengunci diri di dasar pikiranku, aku tersenyum lemah menatapnya walau dari kejauhan. Perasaanku tidak berubah saat jumpa yang pertama, saat pertama kali aku melihat lurus ke arah matamu, dan kamu hanya diam menatap aneh diriku.

***

Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur, ku tarik selimut dan ku dekap guling erat-erat, untuk mengurangi rasa sesak karenamu seakan aku mencari kekuatan di dalamnya. Ku lempar pandanganku ke langit-langit kamar, lagi-lagi namamu yang memenuhi ruang otakku, lagi-lagi bayangmu yang mengayun lembut di atasnya, tetesan air tiba-tiba mengalir tanpa sadar, air mengalir tanpa di seka, membiarkan bantal membasah dengan sendirinya, aku tidak tahu alasanku menangis, tapi mungkin satu-satunya alasanku menangis karenamu, air mata ini untuk Ryan, seseorang yang terlalu misterius bagiku, terlalu sempurna di mataku. 

Memikirkan orang yang sama sekali tidak memikirkanku. Merindukan seseorang yang tidak berbalik rindu, aku benci saat-saat seperti ini, melamun sendiri dan hanya dirimu yang ada di dalamnya, pandanganku kosong, tak ada ruang untuk lelaki lain pikirku. Aku sudah terpelosok ke dalam dirimu yang berpijar, biarkan aku menjadi bintang sirius di hatimu, bintang yang paling berpijar di antara yang lain, meski hanya sementara, meski akan cepat redup, tapi akan menjadi yang paling terang dan akan terus di kenang.

   "Kamu enggak tau seberapa sayangnya aku sama kamu Yan, seberapa lama dan seberapa perihnya menahan perasaan ini sendirian, tapi aku terlalu sayang sama kamu, jadi aku tidak bisa seenaknya membuang perasaan ini. Rasa sayang aku sama kamu sudah terlalu dalam, sudah terlalu besar. Aku emang tolol yang membuang-buang waktuku hanya untuk melihatmu dalam jarak, aku memang diam, tapi pikiranku selalu berujung pada dirimu. Ryan."