20 Mei 2013

Setelah Kata itu Terucap




Tepat dua tahun kemarin, kamu sesosok yang ku puja, sesosok yang selalu kurindu dalam setiap pilu malam biru, menyatakan cinta padaku, cintaku yang nyata dapat membuka hati dan matamu, perjuanganku yang kuat bisa merobohkan pikiranmu, sakit namun bahagia, akhirnya.

Dua tahun kemarin, ketika dua kata itu terucap, aku merasa lebih berarti, pikiranku tentang cinta terhempaskan sempenuhnya, perjuanganku tidak sia-sia, rupanya cinta yang tulus bisa mendapatkan kebahagiannya, yang sebenarnya ada, pikiranku tentang cinta selalu tersakiti dan menyakiti terbuang begitu saja, karena aku percaya bahwa dia memang yang terbaik, dan dia yang ditakdirkan Tuhan untuk lahir karena aku.

Karena aku percaya, kamu sebagai tujuanku, kamu sebagai tempat terakhirku, bukan sebagai persinggahan atau persimpangan, karena aku percaya, cintanya adalah nyata.
Ketika dua tahun lalu, aku pertama kali melihat matamu, aku merasa kamu seseorang sebagai obat lukaku, pertama kali aku melihat lengkungan senyum di bibirmu, aku merasa kamu adalah kebahagiaan pengganti perihku, ketika pertama kali aku melihatmu, aku mulai mencintaimu, tetapi apakah kamu merasakan yang sama? Apakah kamu mencintaiku pada saat pertama kali kamu menyelami mataku? Semoga.

Setelah sebulan perkenalan kita, cinta itu semakin menjadi, setiap hari tatapan itu selalu menghantuiku, senyum itu selalu menenangkanku, semakin hari semakin dalam cintaku untukmu. Ketika aku tidak memutuskan untuk menyerah, ketika aku terus berjuang, dan ketika kamu mulai sadar akan cintaku.
Tepat di hari setelah sebulan kita saling menyapa, sebulan setelah kita saling mengenal, kamu akhirnya mengatakan kalimat itu, saat kamu menggenggam tanganku erat, menyuruhku untuk melihat matamu, meyakinkanku bahwa ada aku disitu, ada cinta untukku di matamu, dan ketika aku melihat matamu, tatapan yang masih sama ketika sebulan lalu aku melihat sosokmu, aku semakin yakin bahwa kamu memang mencintaiku, aku menemukan kejujuran disana, aku menemukan cinta yang tulus untukku darimu. 

Aku masih mengingat kala itu, sebuah kalimat sederhana yang berisi magis, sebuah kalimat biasa yang membuatku terhipnotis, sebuah kalimat yang tidak asing namun terdengar sempurna, ketika kamu mengatakan "Aku mencintaimu" aku terdiam, aku masih melihat matamu mencari sebuah kejujuran, tetapi aku terlalu percaya, karena aku terlalu cinta. Dan ketika kamu meneruskan kalimatmu "Aku berjanji, aku, kamu satu, setia, selamanya" aku semakin terpatung, aku tidak percaya janji, tapi aku percaya kamu akan memberi bukti, akhirnya aku tenggelam dalam pelukanmu, sore itu.
Hari-hariku menjadi lebih berwarna, aku lebih terlihat berharga dan serasa berarti, serasa lebih dibutuhkan dan disayangi.

Sebelum aku mengecap indahnya mimpi malam, aku selalu mengingat kejadian itu ketika kamu menggenggam tanganku, ketika menyuruhku melihat mata itu, ketika kamu mengucap kata itu, tidak terlupakan setiap detail kenangan indah darimu yang membuatku semakin cinta.
Setiap hari setelah mentari itu terbit selalu ada yang membuatku semangat untuk pergi, dan setelah mentari berganti tugas dengan sang rembulan selalu ada yang membuatku tak sabar menjemput mentari, iya tak lain dan tak bukan adalah kamu, pria yang aku cintai dan aku percayai sebagai tujuan bukan hanya tempat persinggahan.

Saat harapan akan cinta satu selamanya, amarah tidak tinggal diam, ia selalu mencium bibir cinta, membuat sang cinta semakin habis tanpa sisa. Iya pertengkaran, ketika amarah itu mulai mencium cintamu, ketika tak ada yang saling mengalah, ketika selalu saling menyalahkan dan terlalu gengsi untuk meminta maaf, amarah tertawa, bahagia karena cinta kita seperti diambang perpisahan, tapi tidak untukku, ketika amarah menggodaku, aku selalu ingat kejadian bersamamu, ketika aku melihat matamu dan tenggelam di dalamnya, ketika aku merasa bahwa aku pemilik senyum itu, aku berusaha mengalah dan mencoba untuk bertahan, memperjuangkan apa yang memang selama ini aku perjuangkan, untukmu.
Dan ketika amarah yang semakin membabi buta itu, aku selalu mengingatkanmu, akan janji kita, janji satu, setia, selamanya.

Jujur, tak pernah terpikir olehku akan ada kata pisah diujung kata cinta, memang aku tidak ingin akan adanya perpisahan, aku terlalu mencintaimu dan aku tak tahu apa jadinya ketika berpisah.
Selalu ada tawa maupun tangis dalam cinta kita, karena terlalu cinta.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar untukku, sayang. Memang seperti baru kemarin aku menyelam di matamu, seperti baru kemarin aku menemukanku dalam senyummu, bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku? Mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri? Iya, kamu yang selalu mengumbar janji ketika kita dipisahkan oleh jarak, kamu yang selalu meyakinkanku ketika aku ragu akan cintamu, kamu yang membuat janji itu terlihat nyata dalam mataku, janji itu seolah sempurna dan tidak ada dusta di dalamnya. Kamu yang membuatku melupakan kata pisah, kamu yang mengajariku untuk cinta bukan untuk perpisahan.

Sang amarah mulai mengganggu kita lagi sayang, ia hanya menguji seberapa besar cinta kita, ia hanya mempermainkan hati kita, tapi mengapa kamu tergoda olehnya? Mengapa kamu percaya akan kata-katanya? Mengapa kamu lebih mempercayainya daripada mempercayai hatimu? Cintamu? 
Ketika kamu mulai tergoda olehnya, ketika amarahmu mulai membabi buta, ketika kamu berkata saat pikiran yang bekerja, ketika kamu melupakan hatimu dan memilih mengingat percaya pada amarahmu yang semakin gila, kamu mengucap dua kata itu, kata yang sampai sekarang masih aku ingat, kata yang terbalik dari kata yang dua tahun lalu kau ucap, kata yang terperih yang pernah diucapkan oleh bibir manismu itu. 
Ketika kamu tidak menggenggam tanganku melainkan pundakku dengan erat, seperti menyuruhku untuk kuat, seperti menyuruhku untuk bertahan dan tidak meneteskan air mata, seperti kamu menyuruhku untuk tegar, dan kamu memaksaku untuk melihat matamu, tapi itu bukan mata yang aku kenal, itu bukan tatapan seperti dua tahun kebelakang, itu tatapan amarah, tatapan penuh kebencian, dan kesakitan. Aku tidak melihat cinta di dalamnya, aku tidak melihat ada aku disana, aku tidak melihat ada kebahagiaan, hanya tatapan tajam yang lurus menatapku lalu kau mengatakan "Kita putus." Lalu aku terdiam, ku biarkan rasa sakit mulai merasuki tubuhku, ku biarkan hati yang ingin berteriak tetapi terikat, lalu aku melihat matamu, disana tidak ada penyesalan, matamu terlihat seperti ada kemenangan, kemenangan sang amarah yang telah merasuki hatimu.

Dan aku hanya ingin bertanya, kemana janji satu, setia selamanya? Kemana janjimu yang sempurna? Kemana cintamu yang katanya untukku sepenuhnya? Dan kamu bawa kemana rasa percayaku untukmu seutuhnya? Bisakah kita mengulang sekali lagi? Melupakan semuanya, dan kembali seperti semula? Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku, tak bisakah kau merasakannya? 

Sebelum aku memilih untuk tertidur, aku mengulang kejadian dari awal sampai yang terakhir, dari yang termanis sampai yang terpahit, aku baca ulang pesan singkatmu yang membuatku semakin terisak, tawa kita meski hanya dalam tulisan yang membuatku mencintaimu semakin dalam, tapi sekarang aku hanya bisa terdiam dan memendam.



That's my feel, D.