Mari berpisah,
dengan sederhana
tanpa drama
hingga tangis meronta
mari berpisah,
dengan seadanya
tanpa rayu
hingga ragu menyeru
mari berpisah,
dengan semampunya
tanpa janji menggebu
hingga memaksa bertemu
mari berpisah,
meski pipi basah
dengan susah payah
kita beralah
mari saling melepas,
hingga ikhlas
tanpa bekas
semoga lekas.
That's my feel, D.
e v a n e s c e n t
Sesuatu yang dipertemukan memang diciptakan untuk saling dipisahkan.
6 Nov 2018
8 Jul 2018
Dia tak Cinta Kamu
"Dia tidak menyayangimu. Sekarang ulangi kalimat itu berjuta kali dipikiranmu. Sampai kapan kau bertahan dengan dia yang secuilpun tidak peduli denganmu? Sampai kapan kau akan tangisi laki-laki itu sedangkan dia, melihat pesan singkatmu saja enggan, teleponnya berdering ribuan kalipun dia biarkan, sampai kapan?"
"Aku akan terus mencoba, biarkan aku telepon dia sekali lagi, barangkali dia jengah lalu mengangkatnya, biarkan aku kirim dia pesan sekali lagi, barangkali dia tidak sengaja melihat ada tulisan muncul di layar kotaknya, biarkan aku berharap sekali lagi, barangkali dia menyerah dan menerimaku lagi."
"Jangan memaksakan diri, dia yang saat ini kau nanti sedang sibuk dengan diri sendiri, tidak peduli, kau masih tak sadar juga sudah ribuan kali kau diacuhkan, dibiarkan tanpa kabar, tapi tetap saja kau bebal."
"Aku menyayanginya, bukannya wajar memperjuangkan orang yang kau sayangi? Aku sudah tidak peduli, hatiku sudah kubiarkan hancur berkeping, remuk seiring waktu, tapi jika itu bisa membuatnya kembali, tidak sia-sia bukan?"
"Kau tidak menyayanginya. Kau hanya terbiasa olehnya, kau terbiasa bangun dengan ucapan selamat pagi dengan emotikon hati dari pesan singkatnya, kau terbiasa menceritakan harimu padanya, kau terbiasa terlelap dengan harapan sebelum tidur darinya. Ku tekankan, kau hanya terbiasa olehnya, kau hanya takut harimu terasa kosong tanpa dia yang mengisi, kau hanya takut kau kesepian tanpa ada dia yang menemani."
"Jangan sok tahu, kau tau apa tentang dia? Bahagiaku sesederhana dirinya. Sesederhana senyum manisnya saat kita beradu tatap di kaca spion saat lampu merah, sesederhana genggaman tangannya disaat kita menyebrang, sesederhana pundaknya saat aku menangis, sesederhana peluknya saat aku penat dengan lelah, sesederhana ucapan pagi dengan emotikon hati."
"Kapan terakhir kali dia melakukan itu? Kapan terakhir kali kau bangun dengan ucapan pagi beremotikon hati? Kapan terakhir kali kau beradu tatap dengan kaca spion? Dan segala bahagiamu yang kau elu-elukan itu? Bahagianya dia tidak sesederhana bahagiamu, Sayang. Sulitkah kau percaya? Sayangmu terlalu kuat, yakinmu terlampau nekat. Sudah berapa tanda yang dia tunjukan? Kau ini bodoh atau apa? Sikapnya tidak menunjukan dia menyanyangimu tapi masih saja kau bela sampai ke tulang."
"Lalu aku harus apa? Aku sudah terbiasa dengannya, aku hanya tidak sampai hati memikirkan hari-hariku tanpa dirinya, akan terasa berbeda, mungkin tangispun enggan reda."
"Hadapilah dirimu, terima nasibmu, dia tak cinta kamu."
Terinspirasi dari Gloria - Dia tak Cinta Kamu
That's my feel, D.
28 Apr 2016
Kembali
Halo, sudah lama ya.
Kali ini aku tidak akan membahas masalah patah hati atau rasa yang tak menentu pada diri, hanya ingin bernostalgia sebentar pada kenangan yang sudah terkubur dalam. Loh katanya sudah terkubur dalam kok masih mau bernostalgia? Lah, namanya juga kenangan ya masih tetap harus dikenang toh.
Halo. Apa kabar kamu? Kuucapkan lagi sudah lama ya, sudah lama aku tidak mengusik semua tentang kamu atau tentang kita, aku sudah berhasil melakukan itu walaupun tidak sebentar, hampir tiga tahun aku mencoba benar-benar mengikhlaskan, meski masih ada puing puing sisa retakan itu wajar saja kita bersama tak sebentar, tapi aku enggan mengucapkan berapa lama kita bersama karena mungkin otakku akan langsung teringat dan semua kenangan itu akan memaksa keluar lagi dari kuburannya.
Sekarang aku sudah memulai cinta yang baru, entahlah aku hanya mencoba. Aku tidak tahu akhirnya akan seperti apa, kuharap tidak semenyakitkan saat berpisah denganmu, apalagi bersedih lebih lama dari kehilanganmu. Jujur seringkali kamu menghampiri dikala sepi, menggoda hati untuk menghampiri dan berteriak memintamu kembali, tentu saja aku tolak mentah-mentah permintaan itu malahan menyuruhnya pergi dan memohon untuk tidak melakukannya lagi dan akhirnya saat ini aku jarang merasakan itu mungkin lagi aku sudah terbiasa tanpamu mengisi hari.
Kembali kepada dia cintaku yang baru.
Tidak jangan harap kusebutkan namanya, kau pun takkan mengenalnya. Dia baik, peduli, bisa membuatku tersenyum dan aku sudah dibuatnya menangis, belum apa-apa dia sudah buatku menangis, bagaimana menurutmu? Apakah dia benar-benar baik? Entahlah aku pun gak yakin. Hmm... dia sahabatku, ada kemungkinan dia yang akan menggantikan tokoh utama ditulisanku yang lain, tapi tenang saja akan kubahas tentangmu jika ku sedang rindu. Ah iya iya aku lanjutkan, dia sahabatku, sahabat jadi cinta? Hmm... ya bisa jadi. Kata mereka cinta datang karena terbiasa, aku terbiasa olehnya dan mungkin aku merasa ini cinta? Apa dia juga merasa sebaliknya? Lagi lagi jawabku gak yakin. Sehari dia memperlakukanku bak putri raja, di lain hari dia seperti tidak mengenalku, jadi ah aku juga bingung, kadang sampai meneteskan air mata aku memikirkannya, kita belum bersama saja aku sudah sering menangis bagaimana nanti? Apa kamu rela melihatku menangis atau kamu sudah tidak peduli? Dasar lelaki jahat, sama saja dong kamu kayak dia.
Kamu kangen aku gak sih?
Ko aku kangen ya!
Selamat malam kamu, selamat bernostalgia.
That's my feel, D.
31 Agu 2014
Terpecah, lagi.
We should love, not fall in love. Because everything that falls, gets broken.
Ini kali pertama kita berkontak mata tapi ada sesuatu yang menggetarkan dada seolah masuk ke dalam dunia fantasi yang membuat aku mengikik geli, apa ini yang mereka bilang cinta pada pandangan pertama yang katanya membuat hati mengulum logika dan adanya perasaan aneh yang menusuk dalam hati yang telah lama sepi.
Kita dipertemukan dalam ruang tanpa permisi dan saling memuja dalam hati. Hatiku, belum tentu hatimu. Ciptaan Tuhan yang aku panggil "kamu" sudah berhasil mengisi sedikit ruang hati, menambal tiap sudut yang berlubang ini dengan sedikit senyuman pagi. Hai dan selamat pagi dambaku lontarkan kepada kamu yang menjulang tinggi tapi ada gengsi yang menukik ujung otak yang sepersekian detik lalu terebut kewarasannya dan tanpa praduga, sapamu menguap di ruang kata-kata lalu seketika inginku untuk datang dan mendekap tapi apa daya kamu masih bayangan dalam nyata.
Berhari kita dalam canda membuat aku tenggelam dalam tanya apa yang kamu rasakan sama seperti yang kurasakan? Dan pertanyaan itu sukses membuatku terpuruk dalam kelam juga diam. Baru saja mengenal masa iya sudah ada rasa? Seperti di film saja. Tapi sayangnya ini yang aku rasakan saat ini. Sepertinya aku mulai mengikhlaskan dia yang telah pergi dan mencoba membuka hati dan memasukan kamu di dalamnya yang kuharap akan semudah itu tapi sepertinya kenyataan tidak begitu mendukung. Aku memilihmu, kamu memilihnya dan selalu seperti itu.
Disaat aku sudah siap membuka hati kamu yang pertama kali baris paling depan aku merasa ada binar mata yang sejatinya itu tulus tapi harus ku akui mungkin itu bukan untukku. Mengapa ketika aku berusaha mengikhlaskan dia yang telah lama pergi dan memutuskan kamu sebagai pengganti kamu malah berpikir untuk lari dan menjadikan aku sebagai titik temu ketika kamu penat dengan duniamu?
Selalu berpikir untuk menunggu tapi jika yang kutunggu enggan datang yang ada hanya luka yang semakin menganga biru penuh pilu yang akan semakin sulit untuk diobati. Yang tersisa hanya lirih juga perih, biarkan saja rindu merintih mendamba dirimu yang datang mengepis gelisah dalam diri.
Harusnya aku yakinkan bahwasanya kamu tak akan menjadi pemilik hati, sekali tatapan tidak cukup untuk menguatkan jika kamu juga sayang, belum jua memulai aku harus mengatakan kata selamat tinggal. Dan sekarang enggan kutunggu lagi dua bening mata yang menjadi awal rasa ini yang kini melengkungkan kesedihan di jejak kaki.
That's my feel, D.
19 Jun 2014
Topeng
"Kita terlahir memang tidak menjadi sempurna, selalu ada cacat dalam diri tiap manusia dan sayangnya kecacatan itu jadi alasan mereka untuk tidak jadi dirinya sendiri. Jangan munafik, beginilah kita."
Aku hanya sesosok makhluk Tuhan yang biasa. Bahkan sering merasa di bawah biasa, bukan apa-apa apalagi jadi yang teristimewa. Kadang setiap jiwa tahu rasanya tidak dianggap atau dilihat sebelah mata, merekapun seringnya berkata "aku baik-baik saja" sebenarnya orang yang mengaku ia baik-baik saja bukan ingin terlihat kuat, ia hanya tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskan keadaan hatinya, mungkin karena terlalu rumit atau tidak ingin orang lain tahu dan akan pura-pura peduli, selebihnya hanya keingintahuan semata. Sekarang mencari orang yang benar-benar tulus itu sulit.
Dan topeng adalah solusi yang menjanjikan.
Dan topeng adalah solusi yang menjanjikan.
Katanya jadi orang harus apa adanya, katanya harus punya jati diri, katanya jangan munafik, dan sejuta katanya dari mereka yang mengaku tuhannya bahagia. Ketahuilah setiap orang punya sisi depresi masing-masing, orang bilang hidup itu seperti roda, sudah pasti ada di atas (bahagia) dan juga bawah (kesedihan), roda itu berputar bukan? Dan karena itu, janganlah terlalu mengagungkan perasaan jika kamu tahu ada kalanya kamu terpuruk, sudah dipastikan air mata yang menjadi jawaban.
Kenapa harus pakai topeng bahagia? Jika tanpanya kita bisa lebih dari itu? Ah sudahlah, ketika sedih atau merasa membenci keadaan tidak mungkin akan menunjukan ke semua orang, untung jika ada yang peduli atau senantiasa mendengarkan, bagaimana jika banyak yang merasa bahagia karena keterpurukan kita? Akuilah topeng itu sangat membantu.
Sering kali menyumpah serapahi orang munafik atau baik di depan tapi di belakang busuk, sayangnya diri sendiri tak mengaca pada benak hati jika sebenarnya kita sama dengan dia yang kita benci dan yang lebih parahnya kita jauh lebih buruk dari dia tapi kita tak sadar atau menutupi kesalahan. Sesungguhnya diri enggan untuk mengakui karena merasa diri ini lebih rendah dan dia akan seutuhnya mencaci maki. Padahal belum tentu, mungkin saja dia akan lebih menghargai.
Banyak yang mengatakan kita harus menjadi pribadi tanpa topeng, ada juga yang bilang setiap manusia itu tidak ada yang sempurna makanya jadilah diri sendiri tapi banyak juga yang mengatakan kita harus terlihat sempurna meski itu hanya dalam mata, manusia itu selalu jadi yang disalahkan bukan?
Kadang kita berperilaku baik untuk menutupi kecacatan diri, menarik perhatian orang lain meski diri mengakui tidak ingin bersikap demikian tapi tidak bisa ditutupi bahwa itu sama saja dengan mendustai diri sendiri dan akuilah bahwa semakin lama semakin menyakitkan.
Aku disini tidak ingin merasa paling benar, tidak bermaksud menggurui atau apapun itu tapi apa salahnya jika kita mencintai diri sendiri tanpa menggunakan topeng setiap hari? Setidaknya kita belajar untuk membuka diri pada siapapun yang bersedia dengan tulus mencintai. Carilah seseorang yang menerima kita dengan sepenuh hati tanpa meminta untuk dipuji, carilah dia yang menerima masa lalu, hari ini, dan mimpi masa depan kita nanti. Cobalah untuk menerima apa yang Tuhan beri meski itu tidak sesuai dengan keinginan, bahwasanya Tuhan memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Bersikaplah lebih dewasa memaknai setiap cobaan dan itu akan membuat kita memaknai apa itu kehidupan yang sebenarnya.
Berusahalah melepas topengmu sebelum semua orang tahu kebusukanmu, percayalah kamu lebih indah dibalik topeng itu.
That's my feel, D.
Sering kali menyumpah serapahi orang munafik atau baik di depan tapi di belakang busuk, sayangnya diri sendiri tak mengaca pada benak hati jika sebenarnya kita sama dengan dia yang kita benci dan yang lebih parahnya kita jauh lebih buruk dari dia tapi kita tak sadar atau menutupi kesalahan. Sesungguhnya diri enggan untuk mengakui karena merasa diri ini lebih rendah dan dia akan seutuhnya mencaci maki. Padahal belum tentu, mungkin saja dia akan lebih menghargai.
Banyak yang mengatakan kita harus menjadi pribadi tanpa topeng, ada juga yang bilang setiap manusia itu tidak ada yang sempurna makanya jadilah diri sendiri tapi banyak juga yang mengatakan kita harus terlihat sempurna meski itu hanya dalam mata, manusia itu selalu jadi yang disalahkan bukan?
Kadang kita berperilaku baik untuk menutupi kecacatan diri, menarik perhatian orang lain meski diri mengakui tidak ingin bersikap demikian tapi tidak bisa ditutupi bahwa itu sama saja dengan mendustai diri sendiri dan akuilah bahwa semakin lama semakin menyakitkan.
Aku disini tidak ingin merasa paling benar, tidak bermaksud menggurui atau apapun itu tapi apa salahnya jika kita mencintai diri sendiri tanpa menggunakan topeng setiap hari? Setidaknya kita belajar untuk membuka diri pada siapapun yang bersedia dengan tulus mencintai. Carilah seseorang yang menerima kita dengan sepenuh hati tanpa meminta untuk dipuji, carilah dia yang menerima masa lalu, hari ini, dan mimpi masa depan kita nanti. Cobalah untuk menerima apa yang Tuhan beri meski itu tidak sesuai dengan keinginan, bahwasanya Tuhan memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Bersikaplah lebih dewasa memaknai setiap cobaan dan itu akan membuat kita memaknai apa itu kehidupan yang sebenarnya.
Berusahalah melepas topengmu sebelum semua orang tahu kebusukanmu, percayalah kamu lebih indah dibalik topeng itu.
That's my feel, D.
15 Mei 2014
Selamat Kamu Sudah Bahagia
Sudah kuduga kamu yang pertama,
mendapat cinta baru dan melupakan aku.
Dan pada akhirnya waktu yang menjawab semua teka-teki hati dan sudah bisa kutebak kamu yang akan memenangi permainan ini, rekaan ku sama sekali tidak meleset. Tepat sasaran. Aku memang bukan seorang mentalis yang bisa membaca pikiran seseorang tapi untuk kamu aku bisa memprediksi dengan benar, hebat bukan?
Dan pada akhirnya waktu yang menjawab semua teka-teki hati dan sudah bisa kutebak kamu yang akan memenangi permainan ini, rekaan ku sama sekali tidak meleset. Tepat sasaran. Aku memang bukan seorang mentalis yang bisa membaca pikiran seseorang tapi untuk kamu aku bisa memprediksi dengan benar, hebat bukan?
Aku akui kamu menang. Aku kalah. Selamat dengan tulus aku ucapkan kepadamu, semoga kamu bahagia dengan yang bukan aku, semoga kamu mendapatkan yang kamu mau. Semoga. Memang hati ini masih belum rela tapi aku hanya berusaha setidaknya di depanmu aku sudah mengikhlaskan, menggunakan topeng bahagia memang sudah jadi hobi wantia bukan?
Aku ingin mengaku meski tidak di depanmu. Perasaan ini masih jadi bumerang, menyerang tanpa arah, menyakiti seisi diri tidak peduli jika sudah tak tahan lagi. Perih.
Dan kenapa kamu pilih dia? Aku memang tidak tahu apa yang dipikiranmu sampai kamu menunjuk dia jadi ratu dalam hati, dulu kamu pernah bilang kamu tahu dia tidak tulus sampai kamu meninggalkannya dan sekarang kamu tarik omongamu seenak jidat malah memeluk erat dia yang dulu kamu buang dan membuatmu muak lalu itu namanya apa kalau bukan munafik? Jika diizinkan aku ingin memukul tepat di wajahmu, aku geram dengan sikapmu. Kamu itu laki-laki kok kelakuan kaya banci? Hari ini bilang A, besok bilang B. Hari ini bilang gak suka, besok memaksa untuk diterima. Tolol.
Dia yang sekarang kamu puja, yang kamu agungkan namanya dan memperlakukannya seperti putri, apa kamu lupa dia juga orang yang sama yang dulu mencaci maki dan berteriak bahwa sudah tak butuh kamu lagi? Lupa? Apa kamu tidak takut dia akan melakukan apa yang sudah pernah dilakukannya? Oh mungkin kamu pikir itu suatu tantangan kembali pada mantan yang hampir pernah kamu ludahi. Hebat. Menajubkan.
Jika kamu berpikir aku hanya iri terhadap dia yang kamu pilih itu setengah benar dan sisanya hanya kepura-puraan bahwa itu salah. Tentu saja aku menerka-nerka apa alasan kamu merekrut dia jadi pengisi seluruh hati, mempercayai jika dia bisa membuat bahagia setiap kaki melangkah pergi, menghibur tiap peluh yang dilelahkan diri, jelaskan padaku mengapa aku bisa kalah dari dia yang bermodal wajah yang rupawan? Jika kamu mencintai seseorang karena tampang, bagaimana mungkin kamu mencintai Tuhan yang tak berupa? Memang aku tidak modis, aku tidak bisa mix and match apa yang harus aku pasang pada diri, tidak seperti putrimu yang saat ini eksis dimana-mana, karena diriku hanya kesederhanaan yang nyata bukan suatu keistimewaan yang pura-pura.
Apa aku sudah tidak ada kesempatan? Dan kamu tidak akan memberikannya? Bisakah kita? Ah sudahlah mungkin lelaki sepertimu memang pantas dapat dia yang sepertinya lebih parah dari aku. Haruskah aku berdoa tentang bahagiamu? Sepertinya aku sudah harus berhenti, semoga dia bisa mendoakanmu meski dalam diam, dalam bisu, nanti.
Dan aku bertanya kapan waktu akan berpaling padaku, membuat aku tertawa bahagia tanpa topeng yang setiap hari semakin mengenaskan.
Sejatinya sesuatu yang indah memang lama datangnya, diukur dari kesabaran tiap jiwa yang memintanya.
Sejatinya sesuatu yang indah memang lama datangnya, diukur dari kesabaran tiap jiwa yang memintanya.
Mengikhlaskan memang jauh lebih sulit dari melepaskan.
Melihat dia dengan yang tidak lebih baik darimu,
bukan alasan untuk tertawa,
kasihanilah.
That's my feel, D.
17 Apr 2014
Rindu Yang Meronta
Ini sudah kali keberapa aku berbicara tentangmu. Sudah tulisan keberapa yang memuat tentangmu. Dan sekarang aku akan melanjutkan untuk menulis tentang kamu, lagi dan lagi. Sejujurnya aku menulis tentangmu hanya karena aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan rindu, ada sesuatu yang ingin berontak dan membuat aku sekarat, rindu yang hanya sebelah dan tak mendapat balasan dan ini sungguh menyakitkan. Seakan pikiran tentangmu tak pernah punah, tak ada ujungnya. Sampai detik ini aku tidak lupa hal apa saja yang telah kita lakukan, sesuatu yang terlalu manis untuk diabaikan apalagi dilupakan.
Sekarang kita nyaris tidak pernah berhubungan, tidak saling menyapa, melempar senyumpun kamu sudah enggan, aku dan kamu seperti ada benteng yang menutupi, seakan kita memang tidak pernah saling kenal , aku dan kamu sekarang hanya seperti orang asing yang tidak pernah punya cerita apapun dan bisa jadi dibilang musuh.
Mengikhlaskan itu sulit, nyatanya.
Aku sering meyakinkan diri bahwa ada orang yang lebih baik dari kamu, aku sering berkata bahwa aku lebih baik tanpa kamu, dan motivasi lainnya agar aku tak semakin terpuruk dan nyatanya hanya air mata yang menjawab semuanya, sejujurnya merelakan kamu yang aku sayang itu sulit, bahkan mencoba pun aku sudah menyerah duluan, niatnya ingin membiarkan sesuai rencanaNya tapi tidak berjalan semudah keinginan, hati ini berat untuk melepaskan seakan ada sesuatu yang tidak bisa dilepas dari diriku...rasa sayang yang terlanjur besar kepadamu.
Tapi sepertinya kamu berbalik jauh dari aku.
Senyum kamu masih yang sama, tapi bukan untuk orang yang sama seperti dulu, senyum kamu untuk dia seseorang yang dapat mencuri hatimu yang menggantikan aku, sebenarnya. Bahagiakah kamu sekarang? Dia yang kamu pilih untuk menggantikan posisiku di dalam benak hatimu, akhirnya. Iya mungkin aku yang terlalu berlebihan, mungkin aku yang sedang merasakan yang namanya "susah move on" kedengarannya konyol bukan? Tertawalah selagi kamu bisa. Aku memang sekarang merana tapi aku percaya jika nanti aku akan lebih bahagia, dengan atau tanpamu, harapku.
Mungkin kamu banyak bertanya mengapa aku mengetahui dengan rinci keadaanmu saat ini, oh tentu saja tidak, aku tidak menguntitmu mungkin jika aku melakukan itu kamu akan menganggapku "mantan gila" tapi aku tidak melakukan itu. Aku tahu karena aku masih peduli, aku banyak mengetahui tentangmu saat ini dari temanmu yang temanku juga, sejujurnya aku tidak terlalu menanyakan tentangmu tapi temanmu yang selalu memulainya duluan dan jika sudah memulai aku tak bisa berhenti karena sebenarnya berbicara semua tentangmu akan membuatku sedikit bahagia. Iya, sedikit.
Namanya juga pernah bersama, pasti ada perasaan yang tersisa, entah itu dalam bentuk cinta atau sebaliknya; benci. Setidaknya aku tidak menyesal mengenalmu kuharap kaupun begitu. Sayangnya perasaan yang tersisa di diriku bukan benci tapi sayang, karena tersisa itulah yang membuat kenangan itu masih membekas dalam benak diri.
Ah sayangnya kenyataan belum jua bisa berdamai. Mungkin kalimat yang tepat adalah aku yang belum bisa berdamai dengan kenyataan. Begitu bermakna kita jalani kebersamaan, selain bahagia apalagi yang bisa kureka-reka saat bersamamu. Seandainya itu bisa berlangsung sampai saat ini, aku ulang, seandainya.
Begitulah cinta, beginilah kita.
Sesungguhnya cinta tak pernah salah. Cinta yang semestinya menuntun kita menjadi dua benak diri yang seia tanpa syarat, tanpa mengekang apalagi ada gengsi yang meracuni hati, ternyata belum jua membuat utuh apalagi satu dalam diri kita. Selain bersandar pada apa yang kita yakini sebagai cinta, selebihnya kita hanya bisa jalani dan pasrah akan takdir yang selalu ada dalam tiap doa. Meski selalu ada harapan jika kita akan berjalan seiring dengan cinta di akhir cerita. Tapi jika tidak? Mungkin, biarkan cinta hidup dalam keterbatasannya, biarkan kita berjalan dengan sendirinya.
Mungkin kamu banyak bertanya mengapa aku mengetahui dengan rinci keadaanmu saat ini, oh tentu saja tidak, aku tidak menguntitmu mungkin jika aku melakukan itu kamu akan menganggapku "mantan gila" tapi aku tidak melakukan itu. Aku tahu karena aku masih peduli, aku banyak mengetahui tentangmu saat ini dari temanmu yang temanku juga, sejujurnya aku tidak terlalu menanyakan tentangmu tapi temanmu yang selalu memulainya duluan dan jika sudah memulai aku tak bisa berhenti karena sebenarnya berbicara semua tentangmu akan membuatku sedikit bahagia. Iya, sedikit.
Namanya juga pernah bersama, pasti ada perasaan yang tersisa, entah itu dalam bentuk cinta atau sebaliknya; benci. Setidaknya aku tidak menyesal mengenalmu kuharap kaupun begitu. Sayangnya perasaan yang tersisa di diriku bukan benci tapi sayang, karena tersisa itulah yang membuat kenangan itu masih membekas dalam benak diri.
Ah sayangnya kenyataan belum jua bisa berdamai. Mungkin kalimat yang tepat adalah aku yang belum bisa berdamai dengan kenyataan. Begitu bermakna kita jalani kebersamaan, selain bahagia apalagi yang bisa kureka-reka saat bersamamu. Seandainya itu bisa berlangsung sampai saat ini, aku ulang, seandainya.
Begitulah cinta, beginilah kita.
Sesungguhnya cinta tak pernah salah. Cinta yang semestinya menuntun kita menjadi dua benak diri yang seia tanpa syarat, tanpa mengekang apalagi ada gengsi yang meracuni hati, ternyata belum jua membuat utuh apalagi satu dalam diri kita. Selain bersandar pada apa yang kita yakini sebagai cinta, selebihnya kita hanya bisa jalani dan pasrah akan takdir yang selalu ada dalam tiap doa. Meski selalu ada harapan jika kita akan berjalan seiring dengan cinta di akhir cerita. Tapi jika tidak? Mungkin, biarkan cinta hidup dalam keterbatasannya, biarkan kita berjalan dengan sendirinya.
Jika sekarang saja rindu, lalu besok apa?
Titik temu dua hati yang aku iba dengan tangis dan doa,
tak jua bersambut nyata.
Aku tetap teguh dalam bisu,
dengan rindu untukmu yang sudah tak bisa lagi kusentuh.
Ketahuilah, rinduku tak pupus meski kita tak satu.
That's my feel, D.
Langganan:
Postingan (Atom)
