Tepat hari ini aku berpisah atau putus atau menyudahi hubungan atau apapun namanya. Tepat malam ini aku menangis tersedu-sedu. Aku ingin bangun dari mimpi buruk ini, aku ingin lari dari kenyataan ini, mengapa rasanya sesakit ini? Sepedih ini? Aku ingin meminjam alat doraemon untuk memberhentikan waktu, aku ingin berteriak, sungguh aku tak tahan, aku ingin meluapkan emosiku tanpa ada yang mengetahuinya, aku tak bisa menghentikan tangisku ini sulit, sangat sulit, ku gigit bibirku erat, ku dekap kaki setara dengan dadaku, berusaha menghentikan isak tangisku yang semakin menjadi-jadi. Mengapa mesti aku yang kau jadikan bahan percobaan? Mengapa mesti aku yang kau permainkan?
Detik ini, saat aku menulis ini, kau menelephoneku, kau juga terisak, aku dapat mendengar isakanmu walau puluhan kilo jauhnya, kamu mencoba untuk membuatku kembali padamu, aku semakin sakit, aku semakin dilema, aku juga ingin kembali padamu, melupakan semuanya, atau apapun, otak ini berusaha keras untuk menolak, dan akhirnya bekerja dengan tidak stabil, tapi hatiku mengatakan sebaliknya, aku masih ingin mendekap dirimu erat, mencium aroma parfummu yang khas, atau dengan mendengar bisikan halusmu, tapi apa yang kau lakukan begitu sakit, begitu membuat dadaku sesak, aku tak tahu kejadian-kronologis yang sebenarnya, apapun itu aku sudah tidak begitu peduli.
Hati ini sudah terlanjur kau buat sakit, apapun benar-tidaknya perkataanmu aku sudah muak. Kamu yang selalu membela dirimu, kamu yang selalu mempikirkan perasaanmu, apa kau tak ingat padaku, ah sudahlah kamu memang dari awal hanya mempikirkan dirimu sendiri! Aku memang dari awal salah-benar-benar-salah memilihmu, apapun itu, apapun yang telah kau berikan padaku semanis gula atau sepahit kopi aku sudah tidak peduli, aku tak menyalahkan cinta yang tumbuh dengan diam dalam hati kita, atau Tuhan yang sedikit campur tangan dalam pertemuan kita, aku tidak menyalahkan mereka apapun itu, aku menyalahkan hatiku yang terlalu terbuka akan hadirnya cinta di antara kita, aku yang terlalu luluh dalam tiap kata yang keluar dari bibir kecilmu itu, atau mata ini salah dengan menatap hanya ke arahmu? Bodohnya diriku selalu memujamu.
Cinta mengapa kau menusuk tuanmu? Mengapa kau mengkhianatiku? Mengapa kau taburkan garam dalam luka di hatiku? Dan mengapa juga kau memilih dia untuk bersamamu menyakiti hatiku? Aku yang terlalu bodoh memaknai hadirmu dalam hidupku, aku yang terlalu mudah percaya terhadapmu!
Di satu sisi sudut hati masih saja namamu yang terurai, mungkin karena cinta yang masih tersisa, mungkin juga kebencian yang menjelma kesurupan. Entah!
Hari ini, sepenuhnya tangisku tumpah karenamu, seperti kau telah merenggut separuh cintaku, aku menyumpahimu tanpa ampun. Inikah saatnya menutup buku? Inikah saatnya menuliskan kata "tamat" dalam kisah kita? Meskipun belum sampai pada saat bahagia? Meskipun tidak seperti buku lainnya yang berakhir dengan bahagia? Haruskah ku tutup buku ini segera, meski kita belum sampai pada bab akhir? Aku terengah, merajuk ketika sadar diriku dan cintaku yang kau bodohi!
Aku tidak menyalahkan cinta atau hadirmu sekalipun.
Biarkan ini menjadi kenangan.
Biarkan ini menjadi pengalaman.
Waktu sempat menjadi saksi,
jika kita pernah saling mencecap rasa cinta.
Untukku dan Untukmu.
That's my feel, D.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar