31 Jul 2012

Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part I-

        "Elo nungguin dia?" Bella yang sedari tadi duduk di sebelahku akhirnya menangkap maksudku yang sedari tadi melihat pintu kelas terus-menerus.
Aku mengangguk pelan.
       "Buat apa?!" tanyanya sedikit membentak.
       "Gue gak tau! Otak gue selalu penuh sama dia."
       "Dia terlalu perfect buat lo Nis."
       "Gue tau, makanya gue cuma bisa diem aja." balasku lemas.
       "Itu orangnya" bisik Bella akhirnya.
Mataku langsung tertuju oleh sosoknya, pria berambut ikal dan berkaca mata kotak itu sosok yang membuatku tidak bisa tidur semalaman. Ryan. Pria itu bernama Ryan. Aku sudah mengaguminya sejak dua tahun lalu, saat kita sama-sama masuk IPA, saat kita satu kelas, saat pertama kali aku melihatnya, kita sama-sama di kelas yang sama selama dua tahun berturut-turut. Tapi selama itu kita sama sekali tidak pernah bicara lebih dari lima kata, kita tidak pernah berkenalan dengan resmi, kita tidak saling menukar nomor handphone, atau apapun itu. 


***


      "Gue masih gak ngerti kenapa elo suka sama dia." Bella membuyarkan lamunanku. 
      "Gue juga." jawabku singkat.
      "Hah? Lo gak tau kenapa elo suka sama dia?!" Mata Bella terbelalak mendengar jawabanku.
"Slow aja kali Bel, gue suka sama dia karena setiap gue liat matanya, dada gue berdegup kencang. Cuma itu." 
      "Kita bentar lagi pisah elo tau itu."
      "Gue tau, niatnya gue mau masuk kampus yang sama kaya dia."
      "Hah? Lo emang tau dia mau masuk mana?"
   "Dia mau masuk UI, jurusan kedokteran, keren ya" aku tersenyum membayangkannya, melihatnya menggunakan jas putih dan membawa stetoskop. "Dia pasti lebih ganteng." tambahku.
     "Elo mau masuk UI? Yakin lo? Mau masuk kedokteran juga?"
     "Gue mau masuk bahasa. Gue mau nerusin hobby gue."
     "Emang apaan?"
     "Gue suka nulis, dia juga suka, gue pernah baca blognya."
     "Elo pernah ngajak dia ngobrol?"
     "Cuma say hi, dan itu gak di tanggepin, jadi gue gak pernah nyoba lagi."
     "Dia udah punya pacar?"
Pertanyaan Bella menghujam dadaku, aku tahu dia sudah punya pacar, sempat berganti-ganti pula, pacarnya hampir semua nyaris sepertinya, nyaris sempurna.
    "Udah." Jawabku singkat.
    "Tapi lo masih mencintai dia gitu? Mencintai walau dalam diam?"
    "Mencintai dalam diam itu yang bikin gue terus penasaran sama dia"
    "Tapi itu bikin lo sakit."
Aku mengangguk pelan.
    "Kenapa gak elo aja yang mulai? Elo ajak kenalan, elo deketin dia duluan! Kalo jaman sekarang sih bilangnya ngasih kode gitu" Bella menggebu.
      "Dia udah punya pacar, masa gue deketin? Lagian gue cewek, gue cuma bisa nunggu." balasku lemas.
      "Emang apa salahnya? Ini bukan jamannya gengsi gengsian, elo bisa kalo elo mau!"
Aku terdiam. Bella benar, apa salahnya mencoba. Aku bisa mengajak dia kenalan atau sekedar berbagi senyum dekat, aku tidak bisa memandang dia dari puluhan meter jauhnya, aku tidak bisa terus terusan menahan rindu dalam kesendirian, aku butuh dia untuk berbagi rindu  ini bersama.
      "Oke, gue coba, eh tapi mungkin sehabis kita lulus"
      "Bego lo! Itu masih satu semester lagi. Sekarang!" Bella berkata mantap.
      "Gue takut kalo.." aku tercekat tidak bisa melanjutkan perkataanku.
      "Takut apa? Takut elo di tonjok cewenya? Apa takut ntar elo di tungguin di pengkolan sekolah?"
Aku tidak bisa menahan tawa, Bella selalu bisa mencairkan suasana, suasana yang seperti inipun dia bisa melelehkannya. Aku peluk dia dengan erat, berbisik "Gue harus ngelakuin apa pertama kali?"
     "Gampang, ikutin aja kata gue" balasnya disertai tawa khasnya itu.

***

Seperti biasa, setiap pagi, setiap hari aku selalu datang lebih awal, berusaha untuk jalan bersama Ryan ke dalam kelas, namun nihil, Ryan selalu datang lebih dari yang ku bayangkan, dia datang pas saat bell berbunyi. Selalu pas tidak pernah kurang atau lebih. 
Karena aku tidak mungkin menunggu di luar gerbang, aku lebih sering menunggunya di kelas, tatapanku lurus ke arah pintu, berharap sosoknya datang lebih awal, beberapa kali aku tengokan kepalaku ke belakang, ke arah sudut pojok bangkunya, dia duduk sendiri, dia jarang mengobrol apalagi membagi contekan PRnya, mungkin itu salah satu alasan dia datang pas pada bell. Mungkin.

Dia datang, dia datang lebih awal, aku menggebu, lagi-lagi ada sesuatu yang berdesir dalam dadaku, aku melihatnya sampai dia duduk di bangkunya, sampai aku harus memutar arah badanku untuk dapat melihatnya dengan lebih jelas, dia menggunakan jaket hitam pagi ini, dia terlihat lebih fresh dari biasanya, rambutnya seperti di kasih sedikit gel, aku tidak tahu mengapa, tapi dia terlihat memang sempurna. Lebih dari sempurna.

     "Ngeliatinnya biasa aja kali, ntar ada yang curiga loh" Bella berbisik ke arahku.
Aku bingung sejak kapan dia ada di sebelahku, mungkin saat aku otakku masih sibuk melihat sosok yang sempurna, yang membuatku semakin gila.
     "Iya, gue cuma bingung kenapa dia dateng lebih awal."
     "Ceileh elo tau semua jadwalnya emang? haha"
     "Gue tau, gue tau semua tentang dia." jawabku datar.     
Aku tidak bosan jika berkali-kali berulang-ulang harus menatap ke belakang, mencari-cari sosoknya, sosoknya yang larut dalam mata turun ke hati yang sepi ini.

Mungkin aku memang harus memulainya, aku harus mencobanya, sekarang atau tidak sama sekali.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar