Sepi? Hampa? Galau? Aku merasakannya. Itu semua tentu saja terjadi padaku saat ini. Kau berkhianat. Kau berdusta. Kau lebur semua janjimu. Kau ah semua itu bullshit! Menangis? Tidak, aku tidak selemah itu. Benar? Ya sudah aku mengaku, aku meneteskan air mataku hanya setetes. Mungkin lebih. Ya aku menangis lebih dari setetes aku akui itu. Tapi itu hanya sebentar, aku tidak mau terlalu berlarut. Aku akan dapat lebih dari orang seperti dirimu.
Diam-diam ku rindukan sosokmu, sosok yang hanya singgah beberapa bulan saja dalam hidupku, cukup singkat memang tapi kau membuat kanvas hidupku yang kelabu menjadi sedikit berwarna, aku masih sering membayangkan dan menerka-nerka jika kau meramaikan handphone atau hanya memenuhi inbox di handphoneku, itu yang sering kau lakukan bukan? Tapi jangan khawatir aku tidak akan melupakan kenangan kita, sungguh. Aku berjanji.
Aku sempat terpuruk. Tidak mau dan tidak dapat mengakui kenyataan jika kita sudah "putus" apakah kau akan memintaku untuk kembali padamu? Apakah kau akan ingat padaku? Atau bersenandung lemah dalam gendang telingaku? Dan apakah dengan ini kau akan berhenti bermain-main dalam pikiranku? Tapi untuk yang terakhir itu kurasa memang sulit, sulit jika ku tidak membayangkanmu. Bahkan sekarang menjadi sering...semakin sering..dan sangat sering.
Kau tidak bertanggung jawab! Kau pergi dengan mudah tanpa ada basa-basi, tanpa ada tanda-tanda atau apapun, kau hapus diriku dari hatimu dengan mudah, dan kau juga tidak memberikan penggantimu. Aku mungkin memang manusia bodoh, tolol, untuk bercerita semuanya denganmu, membanggakanmu, dan mempercayaimu dengan semudah itu, kau memang terlihat sempurna saat kau meyakinkanku dalam setiap ucapmu, dalam setiap ketikan-ketikan sms kecilmu. Tapi berjalan dengan kepercayaanku, kau semakin semu, kau semakin pudar, aku jadi sulit merengkuhmu atau mengajakmu kembali sepertimu yang dulu, kau semakin sering berbohong, dan akhirnya aku menyadarinya. Mungkin aku tidak terlalu bodoh atau tolol.
Masih bolehkan aku bertanya padamu? Pertanyaanku tidak banyak aku hanya ingin tahu, apa kau saat masih bersamaku kau menganggapku sebagai kekasihmu? Atau orang yang berarti atau setidaknya ada diriku dalam sedetik saja di dalam dasar pikiranmu? Singgahkah aku di hatimu? Atau kau hanya mempermainkanku? Taukah kau, satu kata yang ku ketik, huruf demi huruf dalam keyboarku pikiranku tertuju padamu, hatiku nyeri, sakit, sekeras mungkin otakku menyuruhku berhenti, tapi tanganku mengacuhkannya, aku tetap menulis dalam mata berbalut air yang turun dengan semaunya, aku tidak ingin berhenti, sakitnya terlalu kuat, kata demi kata yang ku tulis tentangmu membuat mataku semakin sembab, apakah kau melakukan hal yang sama denganku? Atau hanya sekedar merasakannya?
Tuhan, apa ini bagian dari rencanaMu? Apa Kau tidak bosan melihat tangisku? Tuhan, apa ini memang yang terbaik untukku, tapi aku merasa sebaliknya Tuhan, aku masih menyayanginya, apakah Kau tidak berniat memutar waktu, apa ini memang ada kesalahan, ayolah Tuhan aku bersungguh-sungguh. Aku serasa ingin tiba-tiba terserang amnesia agar aku melupakan semuanya terutama sakitnya, Tuhan...aku lelah, kenapa kesalahan harus berujung padaku? Kenapa harus aku yang merasakannya? Kenapa harus di mataku air mengalir terus? Apa ini memang yang terbaik untukku? Aku berusaha bangun dan ingin cepat-cepat mengakhiri mimpiku. Hanya itu, tapi Tuhan aku tahu apapun yang kau berikan padaku itu memang yang terbaik untukku, Tuhan..bantu aku melupakannya. Tuhan, aku menyayanginya.
Terima kasih ya,
kau memberi warna dalam kanvas putihku
dengan pelangi indahmu,
walau hanya sebentar
walau aku belum dapat mempercayainya.
Terima kasih juga
atas hujan dalam setiap malamku.
That's my feel
Desy :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar