17 Apr 2014

Rindu Yang Meronta

Ini sudah kali keberapa aku berbicara tentangmu. Sudah tulisan keberapa yang memuat tentangmu. Dan sekarang aku akan melanjutkan untuk menulis tentang kamu, lagi dan lagi. Sejujurnya aku menulis tentangmu hanya karena aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan rindu, ada sesuatu yang ingin berontak dan membuat aku sekarat, rindu yang hanya sebelah dan tak mendapat balasan dan ini sungguh menyakitkan. Seakan pikiran tentangmu tak pernah punah, tak ada ujungnya. Sampai detik ini aku tidak lupa hal apa saja yang telah kita lakukan, sesuatu yang terlalu manis untuk diabaikan apalagi dilupakan. 
Sekarang kita nyaris tidak pernah berhubungan, tidak saling menyapa, melempar senyumpun kamu sudah enggan, aku dan kamu seperti ada benteng yang menutupi, seakan kita memang tidak pernah saling kenal , aku dan kamu sekarang hanya seperti orang asing yang tidak pernah punya cerita apapun dan bisa jadi dibilang musuh.

Mengikhlaskan itu sulit, nyatanya.
Aku sering meyakinkan diri bahwa ada orang yang lebih baik dari kamu, aku sering berkata bahwa aku lebih baik tanpa kamu, dan motivasi lainnya agar aku tak semakin terpuruk dan nyatanya hanya air mata yang menjawab semuanya, sejujurnya merelakan kamu yang aku sayang itu sulit, bahkan mencoba pun aku sudah menyerah duluan, niatnya ingin membiarkan sesuai rencanaNya tapi tidak berjalan semudah keinginan, hati ini berat untuk melepaskan seakan ada sesuatu yang tidak bisa dilepas dari diriku...rasa sayang yang terlanjur besar kepadamu.

Tapi sepertinya kamu berbalik jauh dari aku.
Senyum kamu masih yang sama, tapi bukan untuk orang yang sama seperti dulu, senyum kamu untuk dia seseorang yang dapat mencuri hatimu yang menggantikan aku, sebenarnya. Bahagiakah kamu sekarang? Dia yang kamu pilih untuk menggantikan posisiku di dalam benak hatimu, akhirnya. Iya mungkin aku yang terlalu berlebihan, mungkin aku yang sedang merasakan yang namanya "susah move on" kedengarannya konyol bukan? Tertawalah selagi kamu bisa. Aku memang sekarang merana tapi aku percaya jika nanti aku akan lebih bahagia, dengan atau tanpamu, harapku.

Mungkin kamu banyak bertanya mengapa aku mengetahui dengan rinci keadaanmu saat ini, oh tentu saja tidak, aku tidak menguntitmu mungkin jika aku melakukan itu kamu akan menganggapku "mantan gila" tapi aku tidak melakukan itu. Aku tahu karena aku masih peduli, aku banyak mengetahui tentangmu saat ini dari temanmu yang temanku juga, sejujurnya aku tidak terlalu menanyakan tentangmu tapi temanmu yang selalu memulainya duluan dan jika sudah memulai aku tak bisa berhenti karena sebenarnya berbicara semua tentangmu akan membuatku sedikit bahagia. Iya, sedikit.
Namanya juga pernah bersama, pasti ada perasaan yang tersisa, entah itu dalam bentuk cinta atau sebaliknya; benci. Setidaknya aku tidak menyesal mengenalmu kuharap kaupun begitu. Sayangnya perasaan yang tersisa di diriku bukan benci tapi sayang, karena tersisa itulah yang membuat kenangan itu masih membekas dalam benak diri.
Ah sayangnya kenyataan belum jua bisa berdamai. Mungkin kalimat yang tepat adalah aku yang belum bisa berdamai dengan kenyataan. Begitu bermakna kita jalani kebersamaan, selain bahagia apalagi yang bisa kureka-reka saat bersamamu. Seandainya itu bisa berlangsung sampai saat ini, aku ulang, seandainya.

Begitulah cinta, beginilah kita.
Sesungguhnya cinta tak pernah salah. Cinta yang semestinya menuntun kita menjadi dua benak diri yang seia tanpa syarat, tanpa mengekang apalagi ada gengsi yang meracuni hati, ternyata belum jua membuat utuh apalagi satu dalam diri kita. Selain bersandar pada apa yang kita yakini sebagai cinta, selebihnya kita hanya bisa jalani dan pasrah akan takdir yang selalu ada dalam tiap doa. Meski selalu ada harapan jika kita akan berjalan seiring dengan cinta di akhir cerita. Tapi jika tidak? Mungkin, biarkan cinta hidup dalam keterbatasannya, biarkan kita berjalan dengan sendirinya.

Jika sekarang saja rindu, lalu besok apa?
Titik temu dua hati yang aku iba dengan tangis dan doa,
tak jua bersambut nyata.
Aku tetap teguh dalam bisu,
dengan rindu untukmu yang sudah tak bisa lagi kusentuh.
Ketahuilah, rinduku tak pupus meski kita tak satu.



That's my feel, D.