9 Sep 2013

Kau Benar-benar Pergi

Aku mengutuk diriku,
karena mengucapkan kata itu.


Ini salahku, semuanya salahku, bukan kamu yang memulai pertengkaran ini, bukan kamu juga yang memperumit masalah ini, iya ini semua aku yang salah, aku yang memulai dan tak ingin mengalah, tapi bisakah kamu mengerti tentang perasaan yang terlalu sakit ini? Dapatkah kamu memahami aku yang hanya ingin kamu pedulikan? Apa yang terjadi sehingga kamu berubah seperti ini? Apa yang telah mereka lakukan sehingga kamu sudah tidak mempedulikan aku lagi? Dan aku sekarang sedang berada pada titik jenuh, titik dimana aku lelah dan berusaha untuk melepaskan walau hati tak berkata demikian.

Dan kini aku mantapkan hati untuk pergi, melepaskan kenangan meski tak akan dapat dilupakan, hati yang terpecah tak sanggup untuk dibenahi, hanya air mata kini yang menemani, tapi aku bisa apa, kamu yang sepertinya sudah tidak menginginkan aku lagi. Keputusanku sudah bulat, aku yang sudah tak sanggup lagi diacuhkan olehmu kini aku memutuskan untuk meninggalkanmu, berharap kamu akan menarikku kembali atau setidaknya tak membiarkanku pergi, tetapi itu tak terjadi, yang ada kamu hanya bersikap tak peduli.

Aku hancur. Seperti bagian diriku remuk, hatiku pecah, berserakan entah kemana, potongannya menghilang dan enggan untuk ditemukan, dan terbesit pada hatiku untuk kembali meski akan menanggung perih, tetapi otakku mengatakan untuk tetap pergi bahkan untuk tak kembali. 
Jika saja aku bisa bersikap lebih dewasa, jika saja aku bisa merelakan dan melepaskan, jika saja aku bisa seperti dirimu yang dengan mudahnya melupakan aku. Aku memang perempuan bodoh yang masih mengharapkanmu, yang masih menunggu sms darimu atau setidaknya namamu muncul dalam timelineku.
Air mataku tak berhenti setelah hari itu, kejadian kebersamaan kita seperti rangkaian video yang terus-menerus diputar dan tak dapat berhenti, isakan yang membuat dada sesak tak kunjung reda, membuat aku semakin merasa jika kamu memang bagian hidupku yang tak bisa kubiarkan hilang. Tapi pada akhirnya kamu memang benar-benar pergi dan tak akan mungkin bisa kembali, tapi aku harus berani menutup hati untukmu dan tak membukakannya lagi, meski sakit tapi ini yang terbaik, Tuhan selalu punya rencana dibalik semua bencana.

Aku merindukanmu. Aku merindukan kamu yang selalu membuat tawa dalam duka, kamu yang selalu membuat hati menjadi lebih bahagia, aku merindukan menjadi milikmu seorang.
Sampai detik ini perasaanku masih sama, aku masih mencintaimu, perasaanku tak berubah, tak bisakah kamu merasakannya? Tak taukah kamu jika aku selalu mendoakanmu meski dalam diam? Ketahuilah Sayang, dalam hatiku hanya ada kamu, dan aku tak ingin yang lain selain dirimu, kumohon mengertilah.
Kamu yang terlihat bahagia tanpa aku, kamu seperti tak terjadi sesuatu dalam hidupmu ketika tak ada aku, jadi sekarang terbukti kan bahwa aku yang tulus dan benar-benar mencinta, meski aku yang memutuskan untuk pertama meninggalkan tapi sejujurnya aku hanya ingin kau perjuangkan. 

Jujur sampai detik ini aku masih berusaha, melupakan semua kenangan yang keluar membabi buta sehingga menjadi gila, melupakanmu menjadi pekerjaan rumah yang sulit bagiku, merenggangkan hati yang keram ini, membereskan pecahan hati dan menemukan serpihannya agar tak menusuk dan membuat luka lagi, aku hanya berharap ketika aku dipisahkan denganmu, aku akan mendapatkan yang lebih baik darimu, begitupun kamu, menemukan perempuan yang lebih baik dari aku.
Meski tak akan ada yang bisa sepertimu. 
Tapi aku percaya orang yang tepat itu segera datang.
Jika aku bisa memutar waktu aku tak akan mengucap kata itu, aku sungguh menyesal, jika kamu masih menyayangiku, kumohon perjuangkan aku selagi aku masih mengharapkan kamu untuk kembali kepelukanku lagi, jangan khawatir aku masih mencintaimu, aku menyesal tak mengatakannya ketika aku dan kamu masih disebut kita, dulu.

Seringnya, kita baru merasa kehilangan ketika yang dibutuhkan benar-benar pergi. Jadi untukmu yang belum bisa merelakannya pergi dan masih terpenjara rasa cinta yang semakin menjadi, jangan lepaskan jika itu masih memang bisa untuk dipertahankan, karena cinta bukan pertanyaan dan tidak harus dipertanyakan.

Dan ketika pada awalnya kupikir cinta kita tak akan berakhir, aku tersadar jika sebuah pertemuan dipertemukan untuk saling memisahkan.




That's my feel, D.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar