Tulisan kecil kurang dari seratus-empat puluh karakter dalam akunmu yang meyakinkanku, bahwa kamu memang tak menyediakan sedikit ruang kecil dalam sesuatu yang banyak orang sebut dengan hati. Tak ku biarkan tangan ini meng-klik timeline-mu, tak ku biarkan aku menjadi stalker dalam hidupmu, tapi ini rasanya sulit untuk tidak menjadi stalker timeline-mu, membaca ketikan-ketikan jarimu yang kebanyakan kurang dari seratus-empat puluh karakter itu, sulit mungkin sulitnya seperti perokok yang dipaksa untuk berhenti, mungkin akan seperti itu. Setelah aku men-stalking timelime-mu mungkin itu saatnya aku menyesal, memang benar setelah aku membacanya, berharap akan ada kupu-kupu berterbangan bebas dalam perutku tetapi sebaliknya, merasa di terbangkan lalu di jatuhkan tanpa sisa.
Tak ada lagi ucapan selamat tidur, tak ada nama panggilan spesial itu, tak ada berbalas pesan sampai malam, tak ada gurau, tak ada kata tertawa, tak ada dan tak akan pernah ada lagi. Sulit mungkin membiarkan atau melepaskanmu, memang aku itu hanya teman biasa bagimu, tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman biasa, kamu itu spesial bagiku. Bisakah kamu menganggapku sama seperti aku menganggapmu, menjadi teman spesial dan lebih dari kata biasa?
Itu bukan salahmu sepertinya, bukan kamu yang tidak peka akan hadirnya diriku yang selalu memperhatikanmu walau kamu tak pernah merasa di perhatikan, mungkin aku yang terlalu berharap sama kamu. Tolol! Iya aku memang tolol! Mencintaimu dalam diam, tidak berani mengungkapkan atau memberi kode, iya aku hanya berani memandang sosokmu dalam jarak, hanya mampu menikmati senyummu dalam jauh.
Dalam mengeja kerinduan aku temukan sosokmu (lagi) sesulit itukah melupakanmu? Merelakanmu? Melepas dan mengikhlaskanmu? Seberat itukah? Apa di dunia ini hanya kamu yang berhasil memenangkan hatiku? Apa hanya ada kamu dan rindu dalam ruang kosong hati dan pikiranku?
Walau saat ini aku tidak dapat bersama denganmu, tak bisa saling menatap atau saling memberi senyum manis, kita sama sama dalam naungan langit yang sama walau di batasi oleh jarak, ruang dan waktu. Kamu masih suka melihat bintang? Apa kalau kamu lihat bintang, kamu menemukan sosokku? Senyumku?
Aku memang penanya yang menyebalkan bukan? Aku selalu banyak bicara, aku selalu menanyakan ini itu, tapi dari seluruh pertanyaanku, ada satu pertanyaan yang belum pernah aku tanyakan padamu, pertanyaan itu masih berayun dalam tiap malamku satu pertanyaan yang selalu membuat jantungku berdegup kencang "pernah singgahkah aku di hatimu?"
Kau tahu? Aku-mencintaimu-sangat-mencintaimu-tanpa sisa.
Tapi apa daya, tak ada kata sapa menjelma rindu menyapa. Tapi tenanglah rindu itu masih milikmu, aku masih bingung siapa yang akan menerima rinduku selain dirimu, akan ku persembahkan kepada siapakah keabadian cintaku sebenarnya. Aku masih belum ingin menyapa kenyataan jika bukan sosokmu yang mengisi kekosongan.
Bagaimana caranya merindu, jika sosok yang di rindukan tidak berbalik rindu. Hanya mencecap sedikit saja, tak mampu menghabiskannya, kata rindu yang hanya dapat ku eja hurufnya, selebihnya rasa sakit yang ada di dalamnya. Aku menyerah, dan kali ini aku berhenti untuk mencintaimu, jika itu memang suatu keharusan untukku.
Bahkan dalam pekatnya malam,
aku masih saja melihat senyumanmu menjelma rasa rindu mencekat
apa memang harus aku menyerah?
Apa kamu tidak mencegahku?
Entahlah.
That's my feel
Desy :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar