30 Mar 2012

Cintamu

Aku tau kau tulus denganku, aku tau kau memang benar-benar mencintaiku, tapi kau tau? Maaf. Ya maaf. Maaf karena sebenarnya aku tak benar-benar sayang padamu, kau memang seseorang yang nyaris sempurna, kau selalu sabar akan tingkah lakuku yang tiap hari (mungkin) makin menjengkelkan, kau selalu memberikan perhatianmu di sela tugas banyakmu, tak pernah kau mengeluh akan diriku, cintamu itu (mungkin) seperi air, yang selalu mengalir, dan tidak berpaling, yang selalu mengalir, dan tidak berubah, yang selalu mengalir, dan tidak berakhir, tapi tak sepertiku.

Tak tahu mengapa secepat itu aku menerima cintamu begitu saja, tak tahu mengapa secepat itu aku merasa aku sudah tak mempunyai rasa apapun padamu, mencintaimu, mungkin terlalu lelah bagiku, jarang sekali kita bertemu, kita hanya dapat berkomunikasi hanya dengan sebuah telepon genggam, dengan hanya lewat jejaring sosial, sungguh, jujur, aku lelah, lelah dengan jarak yang membuatku semakin meragukan cintamu, walau tiap menit kau selalu memberikan kabar padaku, tapi aku tak merasa kau memang sebagian dari hidupku, sebenarnya sudah lama aku ingin memutuskan untuk menyudahi kisah kita, tapi, rasanya aku tak dapat melakukannya, aku takut, jika ku sudah tak memilikimu, tak akan ada lagi orang sepertimu, kau yang setiap hari membangunkanku dengan suara indahmu, menyemangatiku ketika ku lelah dalam perjalanan hidupku, mungkin cintamu tak akan habis untukku, tapi maaf sayang, aku tak bisa jika hanya terus terusan seperti ini, mungkin malam ini aku sudah putuskan, untuk kita mengakhiri semuanya, terima kasih, kau telah percaya padaku, tulus mencintaiku, dan setia sampai saat ini, tapi maaf hanya satu permintaanku, lupakan aku, cari seseorang yang bisa mengerti dirimu, dan dekat denganmu :')

That's my feel
Desy :')

Sweet Moment :")

Ku melihat langit-langit kamarku yang di cat coklat itu, perlahan ku menutup mataku, kejadian kecil itu terulang lagi, wajahmu menari-nari dalam bayanganku, auramu sungguh dapat kurasakan, parfum yang kau gunakan saat kau mendekapku, tatapanmu yang meyakinkanku bahwa kau benar tulus padaku, kejadian kecil itu saat kau mengajakku di sebuah taman kota, mungkin ini bisa dikatakan "kencan". Awalnya kau biasa saja, sampai sebelum kau menyuruhku menutup mataku, sejujurnya aku takut, aku takut jika ku membuka mataku, kau sudah tak ada, aku sendirian, aku takur karena ku "tak, tahu arah jalan pulang".

"Tutup matamu" katamu singkat.

"Mau apa?" aku sedikit curiga.

"Tenang, aku ga akan ngapa-ngapain ko" ucapnya dengan renyah tawamu.

"Oke, oke, tapi jangan ninggalin aku ya? Janji?!" 

"Emang kenapa? Haha iya, aku janji!" katamu seolah meyakinkanku bahwa kau memang berjanji.

"Tutup ya" ucapmu halus.

"Iya" kataku ragu-ragu.

Ku menutup mataku setelah dia meyakinkanku bahwa dia tak akan meninggalkanku, ketika hitungan ketiga dia menyuruhku membuka mataku, sontak ku terkejut dengan olahnya, sehingga ku tak bisa menutup senyum gembiraku, aku tak meyangka bahwa dia melakukan ini hanya untukku.

"Kau siap?" tanyanya

"Siap!" jawabku mantap

"Satu, dua, tiga, buka matamu" katanya 

Dibawah rindangnya pohon taman, dia seakan mengarahkanku untuk melihat puluhan balon warna warni laksana pelangi ada di depan ku, bulatnya balon itu melukiskan bahwa dia benar-benar bulat untuk menginginkanku, dan yang membuatku terkejut lagi, di balon-balon itu tertulis "will you be my girlfriend?" "terima aku ya" "I love you" "aku sayang kamu" .

Sore itu mungkin menjadi senja terindahku, yag tak kupercaya, kau seseorang yang sejak dulu bersamaku yang hanya dalam ikatan "pertemanan" sekarang menjadi sepasang "kekasih" sekejap aku tak percaya, lamunanku buyar ketika kau memanggil namaku, dan berteriak seakan untuk mengulang tulisan kecil dalam balon itu.

"Hey, kau! Ya kau! Yang sedang memandang balon milikku!" teriaknya "I love you!" "Will you be my girlfriend?" Teriaknya

Sontak orang yang di sekelilingnya langsung mengarahkan bola matanya tepat kearahnya, sedikit malu dan bangga yang ku rasakan saat itu, terharu juga, baru sekali aku dilakukan secara "istimewa" walau hanya dengan balon-balon gas itu.

"Aku mau" jawabku

"Apa? Aku ga denger nih, kita kan aga jauh" 

"Iya, aku mau! Aku mau jadi pacar kamu!" balasku dengan "sedikit" berteriak.

Dengan sedikit berlari dia menghapiriku, tersenyum bahagia kepadaku.

"Terima kasih! Kau tahu? Aku mencintaimu!"

"Haha, iya aku tau, aku juga!" balasku.

"Jadi? Ehmmm, sekarang kita? Haha" katamu disertai tawamu.

"Sekarang kita apa? Haha" tanyaku balik menanyakan dengan tawa kecilku.

"Aku seneng, tau gitu dari dulu aja ya, aku ngelakuin ini"

"Aku juga seneng, makasih ya"

"Everything for you"

Kata terakhir yang kau ucapkan pada sore itu, suaramu yang menggelora dan membahana yang masih terngiang-ngiang dalam fikiranku, membawaku dalam mimpiku, terima kasih cinta pertamaku, kau telah melukiskan hari bahagiaku bersamamu, tapi aku tahu itu dulu, tapi tenang, tak semudah itu ku melupakanmu, kejadian awal yang kau berikan padaku sangat manis, sampai aku tak tahu jika akhir dari cerita kita adalah yang terpahit, harusnya aku tak terbuai dengan janjimu, tapi itu memang salahku, yang terlalu mempercayaimu, mungkin kau sekarang telah bahagia dengan seseorang yang benar pilihanmu, aku selalu mendoakanmu, kau pernah jadi yang terbaik, yakinku.

Untukmu,
mantan terindahku
yang pernah menjadi masa laluku
terima kasih :)

That's my feel
Desy :)

16 Mar 2012

Kata maafku

Aku tak tahu apa namanya ini, setiap ku membayangkanmu, seketika itu juga bayangmu hilang, aku sulit untuk mencari sosokmu di pikiranku.

Mungkin kau memang di ciptakan Tuhan untuk di pertemukan denganku, mungkin juga cintamu yang diberikan padaku itu tulus, tapi jika suatu saat nanti kau menyadari, kau membaca tulisanku ini, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.

Hanya satu kata yang ingin ku sampaikan padamu, "maaf".

Maaf jika aku selalu mengacuhkanmu.
Maaf jika ku menggoreskan luka pada hatimu akan kelakuanku.
Maaf jika perkataanku memecutkan belati pada dirimu.
Maaf juga jika selama ini aku hanya membebankanmu saja.

Walau mungkin kau takkan kembali, kau tahu? Aku menyesal, aku tak tau apa yang terjadi padaku sampai kata terakhir yang ku sampaikan padamu itu benar benar kau anggap sebagai yang terakhir, aku ingin kembali, walau ku tak bisa apa-apa, aku hanya bisa menyampaikan maafku lewat bintangnya malam, lewat rintiknya hujan, lewat teriknya sang mentari, gemuruhnya ombak, hanya satu yang ku inginkan darimu, ku ingin kau memaafkanku, melupakan apa yang telah ku lakukan, melupakan apa yang telah ku katakan.

Waktu yang kini menjawab semuanya, cerita cinta yang kita buat mungkin telah berlalu. Kesalahan itu tak dapat mengusir pergi dari pikiranmu, mungkin aku memang pantas dapat hukuman itu, kehilangan cintamu, sosokmu dalam diriku, tergores luka dalam benakku, oiya, aku juga ingin mengucapkan sesuatu padamu.

Terima kasih kau telah melukiskan kebahagiaan sementara dalam hatiku
terima kasih kau telah menerimaku waktu itu
tapi maaf
maaf jika ku memang terlalu membuatmu kesal
kesal karenaku, karena ke egoisanku 
:')

Desy :)

8 Mar 2012

Lagu Rindu

Tak taukah kau jika ku merindukanmu

Ku lempar sepi ke dalam senja semoga teriknya mentari dapat dirasakan olehmu, tenggelamnya mentari terbenam membawaku dalam kesendirian yang kurasakan, bayanganmu hanya dalam anganku, tak tahukah kau jika ku rindu? Senja yang diam-diam berubah menjadi malam yang kelam, malam yang selalu menemaniku dikala ku merindukanmu, otakku lelah mencari dimana sosokmu, mungkin ribuan kilo memisahkan kita, mungkin sekarang kau di Utara sedangkan ku di Selatan, mungkin sekarang kau sudah tak kenal lagi denganku, itu mungkin, sangat mungkin, kau tahu apa yang setiap malam ku lakukan? Aku selalu memandang wajahmu dalam secarik kertas yang tak dapat bergerak itu, ya hanya sebuah foto kecil yang masih kusimpan, foto yang terakhir kita ambil, senyuman lebarmu yang membuatku semakin ku merindukanmu, menangis mungkin rutinitas ketika rindu menyeruak dalam hatiku membayangkan kau hadir mengagetkanku di balik punggungku, kenangan kenangan itu kembali memaksaku untuk mengingat jika dulu kau memang seseorang yang kupikir di takdirkan untukku, tapi sekarang ku tak tahu dimana dirimu, sayang, dibalik jarak yang memisahkan kita, ku nyanyikan lagu rindu ini semoga hatimu mendengar rintihan hatiku yang masih mengharapkanmu ini, syair-syair yang ku ciptakan tulus dari jiwaku yang masih mencintaimu.

That's my feel
Desy :)

1 Mar 2012

Lukaku

Untukmu, 
seseorang yang telah melukiskan luka seperti pecutan belati 
yang membekas sangat dalam, di lubuk hatiku.

Sunyi menyelimuti malam, aku terpaku menatap langit mencoba mengingat apa salahku sampai kau membuat lubang yang dalam untuk menaruh luka yang kau buat, ingin rasanya aku menjerit di telingamu, mengucapkan sebait kata yang aku pertanyakan atas apa yang telah kau perbuat. Mencintaimu mungkin hal yang salah bagiku, begitu menyakitkan ketika kau meninggalkanku seperti tetesan air yang menghilang tanpa bekas, aku terpenjara akan bayang-bayangmu dalam setiap mata menatap, memori indah menyerbu berlompatan dari pikiranku, menunggumu sudah menjadi rutinitas bagiku, mungkin kau kembali hanyalah mimpi, seperti menjemput mentari dalam pekatnya malam.

Engkau, seseorang yang gaib yang selalu menjelma menjadi tiupan lembut dalam sanubariku, menjadi sayap-sayap kecil, dan melangitkan senyumnya dalam pikiranku, sampai ku lupa sudah berapa lama ku menunggumu hadir kembali dalam hidupku yang semu, seperti nafas yang selalu terhembus akan wajahmu, aku disini  sendirian, berusaha menghapus segala luka yang kau tinggalkan untukku dalam gelora rindu yang selalu membahana dalam benakku yang semoga dapat dikirim untukmu lewat tiupan angin yang sendu untuk menghiasi pagi dan malammu tanpaku.

Ku biarkan senandung burung kecil bernyanyi dalam telingaku, menggantikan sosokmu yang dulu selalu menyenandungkan lagu indah dalam telingaku, derai hujan kubiarkan membasahi pakaianku, dalam sepi tak ku hiraukan ribuan mata yang sedang sinis menatap kearahku, secarik demi secarik kenangan pedih yang telah kau tinggalkan kembali menyeruak dalam pikiranku, inginku berlari meninggalkan sejuta kepenatan di dada akan dirimu. Hujan masih berjatuhan, dan bulir kesedihan kian deras, kian sembab oleh potongan-potongan luka akanmu. Sehelai daun melayang jatuh tepat di bawah tatapanku, mataku tak dapat menyembunyikan sembabnya akan tangisanku, 

Setelah waktu itu, setelah jemari halusmu dilepaskan, ribuan kesunyian mengakrabkan diri dalam ruang kesepianku, beribu mimpi terjatuh laksana sayap patah di kaki langit, jika kau tau aku seperti ini karenamu? Akankah kau kembali padaku? Dan menghapus semua luka yang telah kau tinggalkan untukku? 



That's my feel
Desy :')

No name

 Jumat, Kelas matematika

Ku menghembuskan nafasku karena lelah dengan rumitnya soal matematika, diam diam ku melirikkan mataku ke arahmu, sesosok yang pernah kujadikan sandaran akan lelahku, kusadar kau bukan yang dulu lagi, sejenak ku tersenyum akan tingkahmu yang menggoda mataku untuk tetap menatapmu, aku memang seseorang yang munafik, yang tak berani mengungkapkan bahwa ku ingin seperti dulu lagi, tulisan kecilmu di layar handphoneku  yang membuatku terhipnotis akan kata kata indahmu, aku membayangkan ketika kau kembali padaku, menyapaku dengan kata kata manismu, menemaniku dalam gerimis tipis, sunyinya malam, dingin yang membeku, seperti waktu dulu, kau tahu? Aku memang masih mengharapkanmu. Aku masih menginginkan waktu dapat kembali seperti dulu, tapi mungkin perasaanku sudah tak seperti dulu, setelah apa yang kau lakukan untukku, kau berbohong. Hanya itu. Satu kata terpedih yang pernah kudengar dari mulutmu yang manis itu, dari tulisan kecilmu di akun twitter dan facebookmu, dari sebaik kata kata dalam blogmu. Aku merasakan kepedihan yang dalam. Awalnya aku tak tahu, kalau kau orang yang dulu sempat aku puja, sempat aku labuhkan semua perasaanku adalah seseorang yang menusukku secara perlahan, sering kali ku mengharapkan ada namamu dalam ponselku, tapi kuingat kau cinta yang bertepuk sebelah tangan, seseorang yang tak pantas untuk mendapatkan tulusnya cintaku.

Ku ingat, saat ku meluangkan sedetik waktu untuk melihatmu, kau sedang bercengkrama dengan ponselmu, aku tak tahu apa yang sedang kau lakukan, tapi sepertinya mataku menuntunku untuk melihat ke arah belakangmu, aku mengerti. Kau sedang bermain pesan dengannya. Aku tak cemburu. Tak tersirat sedikitpun rasa cemburu dalam benakku. Kau memang pernah menjadi seseorang yang sempat kusukai, tapi tak dapat kumiliki. Ku berbagi cerita denganmu, kau menanggapinya dengan cara terbaikmu, tapi yang tak kutahu kau melakukan itu ke semua orang. Ku kira kau melakukan hal yang manis hanya untukku, tapi tidak. Ku akui saat ku merasakan kehilanganmu, aku memang merasa sakit, menyesal, mengapa kemarin ku melepaskanmu, tapi aku sadar, kau memang bukan yang terbaik untukku, walaupun sampai saat ini mata ini senang untuk mencari cari sosokmu, sosok seseorang yang berhasil membuatku tersenyum akan ulah kecilmu itu.

That's my feel
Desy :)