Jumat, Kelas matematika
Ku menghembuskan nafasku karena lelah dengan rumitnya soal matematika, diam diam ku melirikkan mataku ke arahmu, sesosok yang pernah kujadikan sandaran akan lelahku, kusadar kau bukan yang dulu lagi, sejenak ku tersenyum akan tingkahmu yang menggoda mataku untuk tetap menatapmu, aku memang seseorang yang munafik, yang tak berani mengungkapkan bahwa ku ingin seperti dulu lagi, tulisan kecilmu di layar handphoneku yang membuatku terhipnotis akan kata kata indahmu, aku membayangkan ketika kau kembali padaku, menyapaku dengan kata kata manismu, menemaniku dalam gerimis tipis, sunyinya malam, dingin yang membeku, seperti waktu dulu, kau tahu? Aku memang masih mengharapkanmu. Aku masih menginginkan waktu dapat kembali seperti dulu, tapi mungkin perasaanku sudah tak seperti dulu, setelah apa yang kau lakukan untukku, kau berbohong. Hanya itu. Satu kata terpedih yang pernah kudengar dari mulutmu yang manis itu, dari tulisan kecilmu di akun twitter dan facebookmu, dari sebaik kata kata dalam blogmu. Aku merasakan kepedihan yang dalam. Awalnya aku tak tahu, kalau kau orang yang dulu sempat aku puja, sempat aku labuhkan semua perasaanku adalah seseorang yang menusukku secara perlahan, sering kali ku mengharapkan ada namamu dalam ponselku, tapi kuingat kau cinta yang bertepuk sebelah tangan, seseorang yang tak pantas untuk mendapatkan tulusnya cintaku.
Ku ingat, saat ku meluangkan sedetik waktu untuk melihatmu, kau sedang bercengkrama dengan ponselmu, aku tak tahu apa yang sedang kau lakukan, tapi sepertinya mataku menuntunku untuk melihat ke arah belakangmu, aku mengerti. Kau sedang bermain pesan dengannya. Aku tak cemburu. Tak tersirat sedikitpun rasa cemburu dalam benakku. Kau memang pernah menjadi seseorang yang sempat kusukai, tapi tak dapat kumiliki. Ku berbagi cerita denganmu, kau menanggapinya dengan cara terbaikmu, tapi yang tak kutahu kau melakukan itu ke semua orang. Ku kira kau melakukan hal yang manis hanya untukku, tapi tidak. Ku akui saat ku merasakan kehilanganmu, aku memang merasa sakit, menyesal, mengapa kemarin ku melepaskanmu, tapi aku sadar, kau memang bukan yang terbaik untukku, walaupun sampai saat ini mata ini senang untuk mencari cari sosokmu, sosok seseorang yang berhasil membuatku tersenyum akan ulah kecilmu itu.
That's my feel
Desy :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar