22 Mei 2012

Kau Datang. Singgah. Lalu Pergi

Malam ter-kelabu.

Sepi? Hampa? Galau? Aku merasakannya. Itu semua tentu saja terjadi padaku saat ini. Kau berkhianat. Kau berdusta. Kau lebur semua janjimu. Kau ah semua itu bullshit! Menangis? Tidak, aku tidak selemah itu. Benar? Ya sudah aku mengaku, aku meneteskan air mataku hanya setetes. Mungkin lebih. Ya aku menangis lebih dari setetes aku akui itu. Tapi itu hanya sebentar, aku tidak mau terlalu berlarut. Aku akan dapat lebih dari orang seperti dirimu.

Diam-diam ku rindukan sosokmu, sosok yang hanya singgah beberapa bulan saja dalam hidupku,  cukup singkat memang tapi kau membuat kanvas hidupku yang kelabu menjadi sedikit berwarna, aku masih sering membayangkan dan menerka-nerka jika kau meramaikan handphone atau hanya memenuhi inbox di handphoneku, itu yang sering kau lakukan bukan? Tapi jangan khawatir aku tidak akan melupakan kenangan kita, sungguh. Aku berjanji.

Aku sempat terpuruk. Tidak mau dan tidak dapat mengakui kenyataan jika kita sudah "putus" apakah kau akan memintaku untuk kembali padamu? Apakah kau akan ingat padaku? Atau bersenandung lemah dalam gendang telingaku? Dan apakah dengan ini kau akan berhenti bermain-main dalam pikiranku? Tapi untuk yang terakhir itu kurasa memang sulit, sulit jika ku tidak membayangkanmu. Bahkan sekarang menjadi sering...semakin sering..dan sangat sering.

Kau tidak bertanggung jawab! Kau pergi dengan mudah tanpa ada basa-basi, tanpa ada tanda-tanda atau apapun, kau hapus diriku dari hatimu dengan mudah, dan kau juga tidak memberikan penggantimu. Aku mungkin memang manusia bodoh, tolol, untuk bercerita semuanya denganmu, membanggakanmu, dan mempercayaimu dengan semudah itu, kau memang terlihat sempurna saat kau meyakinkanku dalam setiap ucapmu, dalam setiap ketikan-ketikan sms kecilmu. Tapi berjalan dengan kepercayaanku, kau semakin semu, kau semakin pudar, aku jadi sulit merengkuhmu atau mengajakmu kembali sepertimu yang dulu, kau semakin sering berbohong, dan akhirnya aku menyadarinya. Mungkin aku tidak terlalu bodoh atau tolol.

Masih bolehkan aku bertanya padamu? Pertanyaanku tidak banyak aku hanya ingin tahu, apa kau saat masih bersamaku kau menganggapku sebagai kekasihmu? Atau orang yang berarti atau setidaknya ada diriku dalam sedetik saja di dalam dasar pikiranmu? Singgahkah aku di hatimu? Atau kau hanya mempermainkanku? Taukah kau, satu kata yang ku ketik, huruf demi huruf dalam keyboarku pikiranku tertuju padamu, hatiku nyeri, sakit, sekeras mungkin otakku menyuruhku berhenti, tapi tanganku mengacuhkannya, aku tetap menulis dalam mata berbalut air yang turun dengan semaunya, aku tidak ingin berhenti, sakitnya terlalu kuat, kata demi kata yang ku tulis tentangmu membuat mataku semakin sembab, apakah kau melakukan hal yang sama denganku? Atau hanya sekedar merasakannya? 

Tuhan, apa ini bagian dari rencanaMu? Apa Kau tidak bosan melihat tangisku? Tuhan, apa ini memang yang terbaik untukku, tapi aku merasa sebaliknya Tuhan, aku masih menyayanginya, apakah Kau tidak berniat memutar waktu, apa ini memang ada kesalahan, ayolah Tuhan aku bersungguh-sungguh. Aku serasa ingin tiba-tiba terserang amnesia agar aku melupakan semuanya terutama sakitnya, Tuhan...aku lelah, kenapa kesalahan harus berujung padaku? Kenapa harus aku yang merasakannya? Kenapa harus di mataku air mengalir terus? Apa ini memang yang terbaik untukku? Aku berusaha bangun dan ingin cepat-cepat mengakhiri mimpiku. Hanya itu, tapi Tuhan aku tahu apapun yang kau berikan padaku itu memang yang terbaik untukku, Tuhan..bantu aku melupakannya. Tuhan, aku menyayanginya.

Terima kasih ya,
kau memberi warna dalam kanvas putihku
dengan pelangi indahmu,
walau hanya sebentar
walau aku belum dapat mempercayainya.
Terima kasih juga
atas hujan dalam setiap malamku.

That's my feel
Desy :')

18 Mei 2012

Percakapanku dengan Tuhan

Halo Tuhan, apa kabar? Apa yang sedang terjadi di surgaMu saat ini? Aku tahu disana pasti sangat indah, apa disana ada musim penghujan atau siang-malam seperti di bumi? Apakah disana ada bintang juga?

Tuhan, malam ini aku ingin bercerita padaMu, masih dengan cerita yang sama sebelumnya, masih dengan orang yang sama pula, seseorang yang sering ku perbincangkan denganMu, seseorang yang sering ku sebut namanya dalam doaku, bosankah Kau dengan cerita-cerita monotonku? Aku percaya Kau selalu mendengar doa atau cerita--monotonku, aku percaya Kau selalu memelukku saat aku terisak tangis karenanya, walau aku tak merasakannya.

Aku tahu apapun yang Kau berikan itu pasti yang terbaik untukku, aku tahu bagus-tidaknya menurutku itu pasti memang yang terbaik dan aku butuhkan. Kau memperhatikanku saat ini kan? Disaat aku memang mencintainya, disaat ku pusatkan perhatianku untuknya, disaat ku memutuskan hanya untuk bersamanya, Kau ambil dia, aku tidak marah padaMu apalagi membenciMu, aku hanya bertanya-tanya apa maksudMu sebenarnya. Sesak meluap di dadaku, air mataku terjun dengan bebasnya, menandakan kepedihan mendalam yang ku rasakan.

Maaf jika aku terlalu lemah dan bodoh dalam urusan kali ini, maaf bila Kau pikir aku terlalu di buat-buat, aku memang tidak pandai dalam urusan kehilangan, Tuhan, aku pinta bisakah Kau buat aku lupakan sakit ini? Bisakah Kau melakukan sebuah magis untukku agar aku melupakan semua tentangnya?

Ku tundukan kepalaku turun-turun, ku angkatkan kedua tanganku, ku biarkan air mataku mengalir bebas, aku menyalahkan diriku, ku sebut namamu, aku ikhlaskan jika ku harus melepaskanmu, karena kau memang bukan milikku, aku berusaha rela, aku berusaha akan mengingat kenangan indahnya saja, aku berusaha, karena ini memang yang terbaik untukmu, aku berjuang untuk kebahagianmu, maaf bila selama ini aku mengecewakanmu. Tuhan sampaikanlah kata maafku untuknya, dan juga katakan jika aku bisa hidup tanpanya dan aku ingin dia bahagia, walau sakit yang kurasa.

Untuk mengakhiri doaku malam ini Ya Tuhan, aku hanya bisa meminta dan memohon dan keputusan sepenuhnya ada di tanganMu, bantulah aku untuk mengikhlaskan dia. Mungkin ini menjadi malam terakhir aku bercerita sedihku tentang dia. Semoga aku cepat mengikhlaskannya, dan besok disaat aku bercerita lagi aku bercerita tentang kebahagiaan, dan disaat aku bercerita aku dapat merasakan kehadiranMu memelukku dan membuatku menyunggingkan sudut bibirku.


Aku tahu Kau selalu memperhatikanku.
Disaat ku menulis inipun, aku tersenyum,
berharap Kau melihatku,
dan melengkungkan senyum pula di bibirMu.
.

That's my feel, D. 

12 Mei 2012

Bisikanlah Padanya...... Aku (masih) Mencintainya

Lihatlah luka ini, luka yang kau buat abadi, yang mungkin tak bisa seorangpun menghapusnya atau sekedar sejenak melupakannya, bayang-bayang pelukmu yang masih sampai ini dapat ingin ku rasakan kembali, aku tak akan lupa, takkan pernah bisa, melupakan perih, sakit yang kau berikan ini, kau manusia paling jahat, saat kau bisikan padaku kata-kata terkeji itu, ku kira sebelumnya kau memang terlahir untukku melengkapi hidupku selamanya, sampai ku mati. 

Baru saja kemarin, ku rasakan aroma dirimu menyentuh hangat ragaku, uluran tanganmu yang meraih tubuhku seakan menenggelamkan perasaanku, kau sangat jago meyakinkanku bahwa kau benar tulus mencintaiku, apa aku yang salah? Apa yang aku begitu bodoh? Yang terlalu mempercayai kata-katamu? 

Yang pada akhirnya kau membuka topengmu, memeperlihatkan dirimu yang sebenarnya, jati dirimu yang sungguh jauh dari yang telah lama ku kenal. Begitu tolol aku ya, sampai aku mempercayaimu semudah mengerjepkan mata saja! Tapi, ku tak tahu mengapa, semudah kau menyatakan cinta padaku, semudah itu aku menerimanya, dan semudah dan secepat pula air mata ini mengalir di pelupuk mataku karena ulahmu, apa ini sudah di rencanakan? Apa kau memang merencanakannya? 

Tapi apa salahku? Sampai kau buatku begini. 

Ku mohon sayang, hapuslah tangis ini, genggamlah tangan ini seperti dulu, kembalikanlah senyumku, sembuhkanlah luka hatiku, mungkin aku masih mengharapkanmu.

Tuhan, tolong bisikan padanya, jika aku masih mencintainya, aku masih ingin merasakan sakit yang dia lakukan seperti dulu, atau sekedar merasakan isak air mata akibat yang dia perbuat.

Ku harap suatu hari nanti,
kau mengingatku, bahwa aku ialah
wanita yang kuat yang tegar, dan yang
masih mencintaimu.

That's my feel
Desy :)

10 Mei 2012

Aku Tak Mau ada yang Tersakiti

Setiap saat aku melihat timeline twitterku, hanya sekedar mengecek atau menulis kata-kata yang kurang penting. Saat itu aku melihat satu mention dari seseorang yang telah lama meninggalkan hati ini atau hanya sekedar mampir dalam pikiran yang kadang sibuk ini. Aku memasang muka datar-yang-beranggap-itu-memang-biasa setelah membaca kata-kata sapaan itu. Itu tidak penting, aku tidak perlu mengingatmu lagi, mengingat jika dulu kau yang selalu memenuhi inbox di handphoneku, mengisi ruang pikiranku, genggaman tanganmu yang selalu ada untukku, atau kata-kata menggelitik dari bibirmu, apa aku harus menyebut siapa namamu?

***

Beberapa menit kemudian aku balas mention singkat itu, sedikit demi sedikit  otak ini mengingat kejadian masa itu, sekuat tenaga aku menolak pikiran ini untuk berusaha mengupas memori indah yang sudah terkubur jauh itu, di saat kau menolongku jatuh dan tangan ini berada tepat dalam genggamanmu, kejadian singkat namun sulit terlepas dari pikiran sempitku ini. Tak perlu menunggu lama, balasan darimu langsung datang, tak ku duga kau membekukan bibirku ini, serasa tak percaya ku melihat dengan baik dan membacanya sedetail mungkin, aku tak salah baca, benar-benar tak salah baca, kau memang menulis kata kecil via akun twittermu itu, lagi-lagi aku terhipnotis akan tulisan kecilmu, lagi-lagi aku terbuai akan jemarimu yang membuat tulisan itu menerbangkan sayap yang telah mati ini ke negri yang tak ku ketahui sebelumnya, sebuah pertanyaan biasa yang membangkitkan energiku, tulisan kecilmu yang singkat ini "Kau kemana saja? Aku merindukanmu". Rasa ini terlalu absurd bagiku, mungkin ini hal yang biasa, sangat biasa, tapi tidak untukku, seseorang yang sudah terkubur jauh dalam ingatanku, yang kembali membuka kuburannya sendiri dan memunculkan dirinya kembali yang telah lama hilang. 
Tapi di saat ku menemukanmu lagi, di saat kau kembali, aku sudah tidak sendiri lagi, aku sudah mempunyai seseorang yang ku anggap dia memang tulus untukku. Dan kau tahu rasa ini sangat sulit untuk di deskripsikan dalam situasi ini.

Aku tidak tahu apa maksudmu, kembali ke permukaan setelah lama kau tenggelam, membuka pintu memori dalam otakku, memaksa mengingat kembali perasaan itu. Sekarang hampir seperti dulu, kau mulai mengisi inbox-ku, membagi setengah pikiranku untukmu dan untuknya, dan mengulang-ulang kata-kata yang kau kirimkan, aku takut jika aku terus menerus meneladenimu, kau beranggapan aku (masih) mempunyai rasa padamu, aku memberikan harapan padamu, atau aku (masih) menginginkanmu dan menjadi milikmu, tapi tangan ini tak sanggup jika aku mengacuhkan pesan atau mentions darimu, mata ini tak bisa jika tak mencari-cari sosokmu dalam timelineku atau dalam tumpukan mentionsku, tapi jika sehari aku tak menerima kabar darimu aku merasa....kehilangan.

Tidak, aku tidak mengkhianati kekasihku, aku tidak berniat atau bermaksud menduakan atau berselingkuh atau apalah namanya, aku hanya membagi kepedulianku, tapi jika yang aku maksud itu berlebihan, aku bersedia menguranginya, toh dia hanya bagian dari masa laluku yang seharusnya aku lupakan dan memang aku lupakan, aku memang merasakan dilema, aku berusaha menutupi dan berbohong pada diriku bahwa aku sudah tak mempunyai rasa apapun padanya, sedikit  ya hanya sedikit satu persen kemungkinan rasaku tertarikku padanya, hanya tertarik tidak lebih, ya aku akui aku memang tidak pandai menulis dengan baik, atau merangkai kosa kata dengan indah, tapi perasaanku memang susah di ungkapkan dengan kata-kata sastra.

Aku mulai terbiasa dengan keadaan ini, dengan dua orang yang berbeda yang tulus memberikan perhatiannya padaku, aku mulai menikmati saat-saat mereka dengan bergantian menarik perhatianku dengan cara yang berbeda pula, dan memasuki ruang pikiran ini dengan saat yang bersamaan, tapi aku akan tetap memilih kekasih pertamaku, jika aku pada akhirnya memang harus memilih. Walau aku memang ingin keduanya tak merasa tersakiti olehku, tapi aku tahu suatu saat nanti memang akan ada yang tersakiti.

Terima kasih. Semuanya.

Di tulis saat aku merasakan dilema yang luar biasa.

That's my feel
Desy :)

5 Mei 2012

Aku Ingin Kembali ke RumahMu Tuhan

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, sejak kejadian itu aku ingin hidupku seketika berhenti, melupakan semuanya, segalanya, aku ingin kembali ke rumah Tuhan, aku ingin bersamanya, meninggalkan apa yang aku punya, melupakan semua perasaanku yang sakit, kejadian hari ini membuat aku untuk memang memutuskan urat nadiku, tak peduli akan air yang terus mengalir di pipiku, tak peduli akan dosa yang akan mengikatku nantinya, aku hanya ingin pergi dari dunia yang membuatku penat ini, aku ingin bersama Tuhanku, aku ingin melepas bebanku yang berat ini, aku ingin mengadu atas semuanya, atas semua orang yang telah menjahatiku, menghujatku, tau hanya sekedar mengolok-olokanki, aku ingin menghabiskan ceritaku denganNya, aku ingin mendengar nasehatNya, aku ingin menukar sedihku dengan kebahagiaan yang telah di janjikanNya,

***

Pertengkaran. Itu satu-satunya alasan mengapa aku ingin memberhentikan hidungku untuk menghirup segarnya oksigen. Aku lelah dengan semua bantahan atau pembelaan yang tak ada ujung. Benci? Tidak, aku tidak membenci mereka. Kesal? Tentu saja! Lelah? Itu sudah rutinitasku, tidak usah di tanyakan lagi. Sejujurnya aku tidak menginginkan mereka meninggalkanku, aku ingin semuanya baik-baik saja, aku benci jika ada kata-kata yang tak semestinya aku dengar keluar dari mulut mereka, aku ingin ini semua tidak terjadi, aku ingin ini semua hanyalah dalam mimipiku, atau dalam cerita dongeng yang tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi. 
Sampai kapan aku harus bertahan menutupi segala perih ini dengan memasang topeng ceria dengan sebuah senyum dusta? Sampai kapan aku harus (berpura-pura) bahagia di atas penderitaanku selama ini? Mungkin lempengan hatiku yang hancur belum menyatu, aku belum menemukan lem yang pas atau serpihan yang hilang itu, aku harus menata kehidupanku dengan di lapisi oleh sebuah kebahagiaan yang mungkin sulit ku dapat. 
Aku merasa memang tak ada lagi orang yang peduli padaku, mereka semua egois, selalu memandangku salah, sebab akibat perbuatan yang salah itu pasri berujung padaku, tak ada pembelaan, ataupun penyangkalan, aku hanya bisa diam meratapi hidupku yang sedemikian ini, aku tak menyesal jika Tuhan mengirimku di dunia ini atau di keluarga ini, aku bersyukur Ia masih mengirimku di keluarga yang tidak terlalu salah. 

***

Tuhan, aku tahu mungkin doaku tidak dapat semudah itu kau terima, aku tahu doaku memang belum tentu benar, aku juga tahu apa yang aku minta itu belum tentu yang aku butuhkan atau yang benar untukku. Tuhan, apakah kau tidak rindu padaku? Apakah kau masih ingin aku berada di dunia yang jauh dariMu? Aku tahu, aku tahu, Kau memang dekat denganku, Kau bisa saja dengan puas melihat ekspresi wajahku yang berbeda sesukaMu, tapi aku? Sampai kapan aku terus membayangkan ini? Membayangkan jika aku bertemu denganMu, berpelukan di taman surgaMu, atau bergurau di rumput yang luas sambil memandang awan atau bintang bersamaMu? Atau melihat rumah istanaMu yang indah? Atau hanya sekedar mengadu atas keluh kesahku...
Tuhan, aku ingin kembali padaMu, aku ingin hidup bahagia bersama selamanya, apakah Kau tidak menginginkan itu? Apakah Kau masih ingin melihatku menderita di sini? Di dunia ini? Ah! Aku tidak mau, aku ingin kembali kerumahMu, walau nanti aku akan sedih, karena semua tak acuh padaku, mungkin aku akan menangis, karena memang tak akan ada yang peduli padaku, atau hanya sekedar bersedih ketika ku pergi dan pasti aku akan di lupakan, makamku nanti akan usang, tak ada yang membersihkan, hmmm...aku jadi sedih, tapi aku akan bahagia bersama Tuhanku yang abadi selamanya.

Tuhan
cepat ajak aku ke rumahMu ya
aku lelah dengan semua ini.
Dari diriku
yang selalu menangis dalam kegelapan
aku fikir, kau tahu aku ;)

That's my feel
Desy :)