Aku tidak tahu harus mulai dari mana, sejak kejadian itu aku ingin hidupku seketika berhenti, melupakan semuanya, segalanya, aku ingin kembali ke rumah Tuhan, aku ingin bersamanya, meninggalkan apa yang aku punya, melupakan semua perasaanku yang sakit, kejadian hari ini membuat aku untuk memang memutuskan urat nadiku, tak peduli akan air yang terus mengalir di pipiku, tak peduli akan dosa yang akan mengikatku nantinya, aku hanya ingin pergi dari dunia yang membuatku penat ini, aku ingin bersama Tuhanku, aku ingin melepas bebanku yang berat ini, aku ingin mengadu atas semuanya, atas semua orang yang telah menjahatiku, menghujatku, tau hanya sekedar mengolok-olokanki, aku ingin menghabiskan ceritaku denganNya, aku ingin mendengar nasehatNya, aku ingin menukar sedihku dengan kebahagiaan yang telah di janjikanNya,
***
Pertengkaran. Itu satu-satunya alasan mengapa aku ingin memberhentikan hidungku untuk menghirup segarnya oksigen. Aku lelah dengan semua bantahan atau pembelaan yang tak ada ujung. Benci? Tidak, aku tidak membenci mereka. Kesal? Tentu saja! Lelah? Itu sudah rutinitasku, tidak usah di tanyakan lagi. Sejujurnya aku tidak menginginkan mereka meninggalkanku, aku ingin semuanya baik-baik saja, aku benci jika ada kata-kata yang tak semestinya aku dengar keluar dari mulut mereka, aku ingin ini semua tidak terjadi, aku ingin ini semua hanyalah dalam mimipiku, atau dalam cerita dongeng yang tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi.
Sampai kapan aku harus bertahan menutupi segala perih ini dengan memasang topeng ceria dengan sebuah senyum dusta? Sampai kapan aku harus (berpura-pura) bahagia di atas penderitaanku selama ini? Mungkin lempengan hatiku yang hancur belum menyatu, aku belum menemukan lem yang pas atau serpihan yang hilang itu, aku harus menata kehidupanku dengan di lapisi oleh sebuah kebahagiaan yang mungkin sulit ku dapat.
Aku merasa memang tak ada lagi orang yang peduli padaku, mereka semua egois, selalu memandangku salah, sebab akibat perbuatan yang salah itu pasri berujung padaku, tak ada pembelaan, ataupun penyangkalan, aku hanya bisa diam meratapi hidupku yang sedemikian ini, aku tak menyesal jika Tuhan mengirimku di dunia ini atau di keluarga ini, aku bersyukur Ia masih mengirimku di keluarga yang tidak terlalu salah.
***
Tuhan, aku tahu mungkin doaku tidak dapat semudah itu kau terima, aku tahu doaku memang belum tentu benar, aku juga tahu apa yang aku minta itu belum tentu yang aku butuhkan atau yang benar untukku. Tuhan, apakah kau tidak rindu padaku? Apakah kau masih ingin aku berada di dunia yang jauh dariMu? Aku tahu, aku tahu, Kau memang dekat denganku, Kau bisa saja dengan puas melihat ekspresi wajahku yang berbeda sesukaMu, tapi aku? Sampai kapan aku terus membayangkan ini? Membayangkan jika aku bertemu denganMu, berpelukan di taman surgaMu, atau bergurau di rumput yang luas sambil memandang awan atau bintang bersamaMu? Atau melihat rumah istanaMu yang indah? Atau hanya sekedar mengadu atas keluh kesahku...
Tuhan, aku ingin kembali padaMu, aku ingin hidup bahagia bersama selamanya, apakah Kau tidak menginginkan itu? Apakah Kau masih ingin melihatku menderita di sini? Di dunia ini? Ah! Aku tidak mau, aku ingin kembali kerumahMu, walau nanti aku akan sedih, karena semua tak acuh padaku, mungkin aku akan menangis, karena memang tak akan ada yang peduli padaku, atau hanya sekedar bersedih ketika ku pergi dan pasti aku akan di lupakan, makamku nanti akan usang, tak ada yang membersihkan, hmmm...aku jadi sedih, tapi aku akan bahagia bersama Tuhanku yang abadi selamanya.
Tuhan
cepat ajak aku ke rumahMu ya
aku lelah dengan semua ini.
Dari diriku
yang selalu menangis dalam kegelapan
aku fikir, kau tahu aku ;)
That's my feel
Desy :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar