27 Apr 2012

Percakapan Kecil Kita

"aku janji akan mencintaimu, menjagamu, selalu, selamanya, hmm kau juga kan?" katanya memulai percakapan dalam keheningan ini.

"hah? Apa? Janji?"

"iya, janji setia padaku."

"aku 'ga mau"

"kenapa?"

"apa harus dengan janji?"

"iya, kalo kamu 'ga janji, apa yang bisa aku percaya dari kamu?" Balasmu dengan sedikit ngotot.

Sejenak aku memikirkan jawaban yang tepat untuknya. 

"apa harus dengan janji jika perlu ada kepercayaan? Apa dengan diikat oleh janji kita memang bisa seratus persen percaya? Apa dengan di balut oleh sebuah janji kita memang takkan membuat dosa dengan mengingkarinya? Apa kau tahu apa "janji" itu sebenarnya?" jelasku panjang.

Diapun terdiam.

"aku ingin bertanya sesuatu denganmu" tanyaku serius.

"apa?" singkatmu.

"apa kau pernah berpacaran sebelum denganku?"

"iyalah, kenapa?"

"apa kau juga mengikat janji dengan pasanganmu sebelumnya?"

"hah?"

"apa iya? Apa kau mengumbar janji juga?"

"hmm, iya. Sudahlah itu masa lalu, mungkin kau yang terakhir bagiku." katanya mengeles.

Sambil menggelengkan kepala aku membuka mulut.

"tapi kau mengingkarinya iya kan?. Kau juga berjanji akan mencintai atau menjaga atau setia selamanya bukan? Tapi kau tidak melakukannya, jika kau melakukannya tak mungkin sekarang, detik ini kau bersamaku disini, membicarakan ini."

"tapi aku memilihmu, karena aku mencintaimu."

"lalu, kemana janji yang kau berikan kepada pasanganmu sebelumnya?" tanyaku ketus.

Beberapa lama, keheningan menyusup ke sela-sela ketegangan kita berdua, sampai akhirnya kau yang duluan membuka mulut.

"mungkin kau yang terakhir." jawabnya ragu-ragu.

"masih mungkin bukan? Perjalanan kita masih panjang, aku belum tentu selamanya denganmu, dan begitu juga denganmu."

"kenapa?"

"apa aku mesti jelasin sampai mendetail?"

"iya"

"yang paling penting kita 'ga sejalan."

"maksud kamu?"

"kita ga satu keyakinan, kita ga satu pemikiran, kita ga saling mengerti, kita sama-sama egois." jawabku lengkap.

"hmm, aku bisa berubah, aku bisa ngikutin apa yang kamu mau, kalo itu mau kamu, tapi kalo kita menurut kamu 'ga sejalan, kenapa kamu masih disini? bersamaku?"

Dan akhirnya aku yang terbisu.

"aku masih bersamamu karna... Hmm, aku.... Masih sayang denganmu." jawabku gagap.

"aku juga, jadi, apa kau masih 'ga mau untuk janji denganku?"

"maaf, jalani saja, aku takut menyakitimu karena aku tak bisa mengikat janji itu sejalan dengan omonganku, atau aku takut mendapat dosa karena aku tak bisa menjaga janji tersebut. Aku tahu, kau pasti kecewa. Dengerin aku sekali aja, "tidak semua kepercayaan itu bisa diikat dengan janji, dan tidak semudah itu membuat janji yang kita bisa jaga dengan benar, ayolah percaya, saling percaya aja, aku percaya kamu, kamu percaya aku ya? Gausah ada janji kalo cuma buat percaya aja, oke? Mulai sekarang, percaya aku walaupun tidak berbalut ikatan janji, percaya aku mulai dari sini, dari hati." Jelasku.

"iya aku ngerti, dan dengerin aku juga, "aku percaya denganmu dalam segi apapun, maaf jika aku memaksamu untuk menjalani kepercayaan dengan janji, aku hanya khawatir jika kau akan pergi, aku hanya memastikan untuk kamu bener-bener percaya aku." Balasnya.

"jangan khawatir, aku percaya kamu, tapi jangan kecewain aku karena sekali kamu ngecewain aku, aku ga akan pernah lagi percaya kamu, dan terima kasih."

"aku juga, akan ngelakuin hal yang sama denganmu, terima kasih juga."

Dan semenjak percakapan kecil itu,
dia tidak pernah mengatakan kata "janji" lagi.
Karena sebuah "janji" tidak menjamin akan kebenaran.
Dan kepercayaan itu tidak semua bisa diikat dengan sebuah "janji".

That's my feel
Desy :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar