6 Mar 2014

Masih tentang Kamu, lagi.

Halo kamu, apa kabar? 
Masih sendiri atau sudah bahagia dengan yang lain?
Aku? Ah, sayangnya di hatiku masih ada namamu.

Aku sadar, jam sudah berganti hari, hari sudah berganti minggu, minggu sudah berganti bulan, dan tahun juga sudah ikut-ikutan berganti, tapi ada yang belum terganti....rasaku padamu. Ah ini bukan gombal, ini juga bukan kata-kata puitis untuk membuatmu tertarik padaku, ini hanya perasaanku saja yang masih saja kamu lagi kamu lagi. Hati ini masih menggebu saat ku sebut namamu, ada getir yang terasa menjalar dalam hati saat aku terbangun dari mimpi bahwa kamu benar-benar sudah tak disini. Kita memang sudah tidak pernah kontak mata, jangankan mengobrol, bertemupun sudah tak pernah, hanya sekedar menukar kabar pun sekarang terasa asing. Tapi jangan salah, pikiranku tetap satu, tetap kamu.

Aku dan kamu memang bukan satu lagi sekarang, kita sudah masing-masing, berpura-pura tidak mengenal satu sama lain, seketika seperti tidak pernah ada apa-apa, tanpa dosa. Aku tahu kamu sudah tidak menggubrisku jika kamu melihatku, aku tahu kamu (mungkin) sudah mendapatkan yang (semoga tidak) lebih baik dari aku, aku tahu sekarang kamu sudah melanglang buana dengan duniamu, tanpa memberi sedikit celah untuk aku. 

Maaf, dulu aku sering berkata aku, aku, aku sedangkan kamu jarang sekali ku sebut. Mungkin egois, mungkin memang salah, dan mungkin sekarang aku baru sadar bahwa kehilanganmu itu sungguh menyakitkan. Dulu aku pura-pura egois, mentuhankan gengsi, percaya bahwa jalankulah yang terbaik, tapi aku lupa disitu ada kamu yang menungguku untuk bisa mengerti, dan ketika kini aku sudah mengerti kamu malah memutuskan untuk pergi. 
Aku terkena karma atau aku masih dihantui oleh yang namanya penyesalan? Di otakku kini hanya ada kamu. Padahal dulu sama sekali tak ku lihat ada dirimu dalam diri ini. Aku baru terbangun ketika kamu jengah dengan apa yang ada dalam benak hati, dan aku sudah terlambat untuk mengakui bahwa kamu adalah sebagian dari diri ini dan sekali lagi ini bukan gombal.

Kamu tahu apa yang aku lakukan sekarang? Tidak? Baiklah aku beri tahu, sekarang yang aku lakukan hanyalah menunggu, tidak, aku (semoga) tidak menunggumu tuk kembali, aku menunggu kapan aku benar-benar melupakanmu atau setidaknya sedikit mengikhlaskan, hanya sedikit saja mungkin itu sudah cukup. Dan aku juga menunggu kapan air mata ini tak keluar lagi saat aku melihatmu dengan yang bukan aku. Aku percaya hari ini masih belum bisa, mungkin besok atau lusa? Entahlah aku hanya berharap itu akan terjadi secepatnya. 
Ku akui kamu memang yang terindah, ku akui kamu yang sulit digantikan, ku akui hatiku ini masih memilihmu dan ku akui bahwa aku masih mencintai (dan mengharapkan) dirimu yang sudah lama pergi. Ku teringat dalam lamunan, sosokmu yang selalu bisa mengubah tangis menjadi tawa meski hanya dalam kata. Kamu yang selalu ada meski aku yang kadang menghilang, sengaja bersembunyi agar kamu cari. 
Seandainya aku dan kamu bisa menjadi kita, satu. Seandainya kita dapat kembali seperti dulu, bersama, iya. Seandainya.

Penyesalan masih menghantui nyatanya. Aku menyesal. Aku ingin menarik perkataanku ketika waktu itu, aku ingin ini hanya sebuah mimpi buruk dan bisa dihilangkan ketika bangun, sayangnya ini kisah nyata. Tapi aku bisa apa, ini sudah terlanjur, kamu terlanjur pergi dan secepat itu memutuskan untuk tak ingin kembali lagi. Dan aku sudah terlambat untuk menyesali.
Terlalu banyak kenangan yang membuat aku terus dibayangi oleh begitu banyak prasangka hati. Setelah kehilanganmu, haripun sudah tak sama lagi, semua berbeda saat kamu sudah tak ada lagi disini. Aku sendirian, aku kesepian kadang hati ini memberontak memintamu untuk kembali tapi ada gengsi yang mencaci maki.
Aku hanya tak ingin menyakiti diri sendiri, tapi aku harus sadar jika memilikimu lagi adalah ketidakmungkinan yang nyata.

Kau tahu? Aku masih mencintaimu.
Andai aku bisa mengatakannya tepat di hadapanmu.



That's my feel, D.