25 Nov 2012

TeruntukMu

Kata yang berujung do'a,
Permintaan yang kadang memaksa
Meski amarah seringkali membabi buta
Akan do'a yang tidak menyentuh bibir kenyataan yang ada.

Derai air mata oleh dosa yang pilu,
Ku lantunkan Al-Qur'an dalam bisu
Tasbih yang kusebut selalu
Ku agungkan namaMu dalam syahdu.

CiptaanMu yang melampaui batas luar biasa
Sang bagaskara ataupun purnama
Kata syukur yang terkadang lupa
Nyatanya Kau ada, meski bias dalam mata.

Tuhan, seringkali ku berbicara akan lelah
Tentang semua perbuatan yang bermuara pada salah
Walau diri berkata kuat, ku akui aku lemah
Tak sanggup akan hidup yang membuatku jengah.

Maaf yang selalu ku ucap kini
Meski kadang ku lakukan lagi
Bertubi-tubi tangis ini membucah kembali
Akan perih yang kurasa sampai saat ini.

Selalulah bersamaku,
Kadang kumerasa tak ada yang peduli terhadapku
Acuh yang berkepanjangan selalu
Kesepian yang membuncah dalam pilu.

Aku mencintaiMu,
Ku yakin Kau tahu itu
Meski cintaku tak sebesar cintaMu
Yakinkan ku Kau memang mencintaiku.

Apa lagi yang ku lupa?
Maaf, syukur, do'a atau dosa?
Atau permintaan yang memaksa?
Sandarkan diriku pada kenyataan, bukan fatamorgana.

Semuanya ku serahkan padaMu yang lebih tahu akan aku.
Aku hanya meminta yang terbaik untukku
Bahwa itu memang yang terbaik, yakinMu
Meski kadang itu lebih dari buruk bagiku.

 Tuhan, terima kasih, maaf, aku mencintaiMu.


That's my feel, D.

4 Nov 2012

Sekarang atau Tidak Sama Sekali -End-

Silahkan baca sebelumnya di Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part III-

Aku bertemu denganmu lagi Ryan, dirimu yang sebelumnya ingin aku lupakan, dan tidak ingin lagi kuingat. Tapi kamu malah datang lagi merabah hati, pikiran yang sepi ini. Jadi, sekarang aku harus apa? Melanjutkan untuk melupakan atau mencoba berusaha menarikmu kembali untuk memelukku? Aku mencintaimu Ryan, aku sering memerhatikanmu  meski ego memaksaku tuk menyembunyikannya darimu. Sosokmu kian membutakan mata, bukan seperti fatamorgana, kamu kian nyata. Sulitku melepaskan perasaan ini untukmu, namamu kian melekat dalam memori otakku, merekat abadi dalam hatiku.

"Ryan.." kataku terbata.

Kau angkat kepalamu pelan, mencari sang sumber suara, lalu menatap, diam dalam pekat, kau tenggelam dalam pikiranmu saat melihatku. Apa yang salah, pikirku.

"Aku Anisa... Inget? Aku temen SMA kamu." Aku diam, "lo-gue seketika berubah jadi aku-kamu?" pikirku.

Kau terdiam, masih diam, masih dengan tatapan bisu.

"Oke, hmm, maaf kalo aku ganggu kamu, aku pergi aja." lanjutku pelan.

Layaknya adegan di sinetron, ketika ku berbalik dan ingin melangkah kau menarik tanganku. Dadaku berguncang hebat, seperti dentuman drum di hentakan sekuatnya. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, inikah cinta? Entah.

"Ngapain lo disini?" tanyanya. "Engga, ngapain kamu dateng ke hadapanku lagi." lanjutnya dalam hati.

"Hey aku kuliah disini sekarang. Mungkin kita akan sering bertemu." harapku.

"Jangan dateng ke depan muka gue lagi." balasnya sinis, lalu pergi.

"Benerkan, harusnya gue-lo gak jadi aku-kamu, harusnya aku gak usah nemuin dia, harusnya aku emang lupain dia. Tapi dia kenapa harus sinis gitu, aku salah apa?" camukku dalam hati.

Ku berjalan lunglai menyusuri lorong untuk masuk kelas, langkahku terhenti, aku melihat Ryan dan seketika aku terhipnotis senyumnya, seumur-umur aku belum pernah melihat dia tersenyum, sebuah lengkungan bulan sabit terpasang di bibirnya. Tuhan, ciptaanMu luar biasa, pikirku. Meski kamu tersenyum bukan karena aku, aku tetep seneng kok, aku bahagia. Tapi aku akan lebih merasa sempurna jika senyum itu karenaku dan untukku.

***

Aku berlari tergesa karena hujan telah membasahiku, aku berpikir peribahasa sedia payung sebelum hujan itu benar adanya, berkali-kali selamat dari lubangan penuh air aku semakin terburu-buru untuk masuk kelas, tak sadar aku masuk ke dalam kelas dan semuanya memperhatikanku. Aku baru ngerti saat itu, bajuku dari atas sampai bawah basah tanpa sisa, rambutku berantakan, dan yang paling fatal aku masuk lima menit sebelum mata kuliah itu selesai. Tidak ada kata-kata basa basi, aku disuruh keluar tanpa alasan langsung, mau tidak mau aku harus mematuhinya.

Jarum pendek menunjuk ke angka 20 dan yang panjang ke angka 15. Sudah jam delapan pikirku, aku tak punya kendaraan untuk mengantarku pulang ke rumah, aku juga bukan orang kaya yang punya supir pribadi, aku hanya menunggu angkot atau ojek yang lewat. "Ini hari Selasa, harusnya Ryan masih ada sampai jam sembilan, karena ada praktek. Aku punya alasan untuk pulang bareng dia." pikirku bahagia. Aku sudah mengetahui semua jadwalnya dari pagi hingga pagi, itu sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu.

Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kampus yang saat itu sepi, ku susuri lorong demi lorong untuk membawaku ke dalam labolatorium biologi. "Labnya kok kosong sih, sepi tak berpenghuni." kataku merinding. Ku lemparkan seluruh pandanganku, aku melihat sesosok pria tertidur di meja, dan tak pikir panjang aku melihatnya. Itu pasti Ryan, yakinku. 

Ku pegang pundaknya, tak ada reaksi apapun, lalu dengan ragu ku melihat mukanya, bekas darah menempel lekat di hidungnya. Sontak ku terkejut, dengan takut ku pegang pergelangannya, mengecek tiap nadinya, nihil tak ku temukan nadi disana, mungkin salah, aku meletakan tanganku di atas hidungnya berharap nafas masih menempel dalam raganya. Lututku lemas, air mataku mengalir deras, aku mengguncang guncangkan badannya berharap suatu reaksi akan dilakukannya, tapi ia tetap diam, tak bergerak. 

Aku melihat sebuah pulpen di genggamnya, menuntunku pada sebuah buku bersampul coklat tua yang berhias stiker stetoskop, ku buka lembar demi lembar dengan tangis menyertai, ku lihat secarik foto disimpan di halaman depan, mataku terbelalak, sebuah foto yang bertuliskan "You're my destiny Anisa, you completed and perfected me, i love you. Sorry." Seketika badanku lemas, seketika jiwaku pergi melayang ke negeri antah berantah yang ditangguhkan. Ku buka lembar selanjutnya, sebuah tulisan rapi tersimpan disana.

"Aku di vonis menderita kanker otak stadium akhir, Nis. Aku sebenarnya ingin memilikimu, tapi aku tahu waktuku tak lama lagi, mungkin dengan cara aku mengacuhkanmu, kamu merasa benci dan melupakanku. Aku takut air matamu terbuang sia-sia karenaku, aku tak ingin senyummu terbalik menjadi duka mendalam karenaku. Aku minta maaf, jangan khawatir aku mencintaimu, selalu."

Aku terisak, aku merasa detik selanjutnya aku akan ikut bersama Ryan menyusuri taman firdaus yang jauh disana. Dengan tangan bergetar ku buka lembar selanjutnya.

"Anisa, sejatinya cintaku milikmu, aku tahu suatu saat nanti kamu akan menemuiku tak bernyawa hanya raga. Aku yakin air mata itu akan jatuh tak sengaja, tapi ku mohon jangan terlarut dalam kesedihanmu, meski aku selalu membuatmu begitu. Tak usah khawatir cintaku akan selalu bersamamu, meski ragaku jauh. Nis, aku ingin merekam semua memoriku bersamamu, aku ingin sisa hidupku ku lalui bersamamu, tapi aku tak kuasa, aku takut kau akan sakit berlipat, sekali lagi aku minta maaf, aku munafik, tapi cintaku benar untukmu."
Ku baca lembar terakhir yang baru saja kau tulis.

"Kemarin kita bertemu lagi, senyum itu lagi, senyum yang membangkitkanku dan senyum yang selalu menjadi alasan mengapa aku harus bertahan hidup. Nis, ketahuilah aku bertahan sampai saat ini itu karenamu. Maaf bertubi-tubi maaf jika aku menyakitimu lagi dan lagi. Nis sekarang aku sedang merasakan sakitnya, tapi aku biarkan sakit ini membunuhku perlahan, ku biarkan otak ini untuk berhenti memerintahku tuk minum obat itu lagi. Maaf, ku ucapkan lagi padamu, aku tak bermaksud untuk berhenti mencintaimu, aku hanya takut kau melihat helai demi helai rambutku rontok lalu habis, aku takut kau melihatku tidak seperti ini, utuh lagi, aku tak mau membebanimu lagi Sayang. Ku katakan aku menyerah, aku sudah lelah, maaf aku kalah tapi aku akan selalu menyertaimu walau raga tak bersamamu, mencintaimu membuatku merasa sempurna, mencintaimu membuat aku memaknai apa itu hidup, terima kasih Anisa Putri Lestari kau membuatku merasa sempurna, kau melengkapi hidupku, tapi maaf bertubi tubi maaf, beribu bahkan berjuta maaf ku sampaikan padamu, ketahuilah aku mencintaimu, selalu."
Aku lemas, aku sadar mengapa kau menjauhiku, kau tidak ingin melihatku menangis, tapi mengapa tidak jujur saja, aku menerima kamu apa adanya Ryan, walau waktumu sedikit aku akan berusaha membuatmu merasa berharga pernah hidup di dunia ini, Ryan aku mencintaimu lebih. Dan..air mata lagi.



That's my feel, D.