10 Mei 2012

Aku Tak Mau ada yang Tersakiti

Setiap saat aku melihat timeline twitterku, hanya sekedar mengecek atau menulis kata-kata yang kurang penting. Saat itu aku melihat satu mention dari seseorang yang telah lama meninggalkan hati ini atau hanya sekedar mampir dalam pikiran yang kadang sibuk ini. Aku memasang muka datar-yang-beranggap-itu-memang-biasa setelah membaca kata-kata sapaan itu. Itu tidak penting, aku tidak perlu mengingatmu lagi, mengingat jika dulu kau yang selalu memenuhi inbox di handphoneku, mengisi ruang pikiranku, genggaman tanganmu yang selalu ada untukku, atau kata-kata menggelitik dari bibirmu, apa aku harus menyebut siapa namamu?

***

Beberapa menit kemudian aku balas mention singkat itu, sedikit demi sedikit  otak ini mengingat kejadian masa itu, sekuat tenaga aku menolak pikiran ini untuk berusaha mengupas memori indah yang sudah terkubur jauh itu, di saat kau menolongku jatuh dan tangan ini berada tepat dalam genggamanmu, kejadian singkat namun sulit terlepas dari pikiran sempitku ini. Tak perlu menunggu lama, balasan darimu langsung datang, tak ku duga kau membekukan bibirku ini, serasa tak percaya ku melihat dengan baik dan membacanya sedetail mungkin, aku tak salah baca, benar-benar tak salah baca, kau memang menulis kata kecil via akun twittermu itu, lagi-lagi aku terhipnotis akan tulisan kecilmu, lagi-lagi aku terbuai akan jemarimu yang membuat tulisan itu menerbangkan sayap yang telah mati ini ke negri yang tak ku ketahui sebelumnya, sebuah pertanyaan biasa yang membangkitkan energiku, tulisan kecilmu yang singkat ini "Kau kemana saja? Aku merindukanmu". Rasa ini terlalu absurd bagiku, mungkin ini hal yang biasa, sangat biasa, tapi tidak untukku, seseorang yang sudah terkubur jauh dalam ingatanku, yang kembali membuka kuburannya sendiri dan memunculkan dirinya kembali yang telah lama hilang. 
Tapi di saat ku menemukanmu lagi, di saat kau kembali, aku sudah tidak sendiri lagi, aku sudah mempunyai seseorang yang ku anggap dia memang tulus untukku. Dan kau tahu rasa ini sangat sulit untuk di deskripsikan dalam situasi ini.

Aku tidak tahu apa maksudmu, kembali ke permukaan setelah lama kau tenggelam, membuka pintu memori dalam otakku, memaksa mengingat kembali perasaan itu. Sekarang hampir seperti dulu, kau mulai mengisi inbox-ku, membagi setengah pikiranku untukmu dan untuknya, dan mengulang-ulang kata-kata yang kau kirimkan, aku takut jika aku terus menerus meneladenimu, kau beranggapan aku (masih) mempunyai rasa padamu, aku memberikan harapan padamu, atau aku (masih) menginginkanmu dan menjadi milikmu, tapi tangan ini tak sanggup jika aku mengacuhkan pesan atau mentions darimu, mata ini tak bisa jika tak mencari-cari sosokmu dalam timelineku atau dalam tumpukan mentionsku, tapi jika sehari aku tak menerima kabar darimu aku merasa....kehilangan.

Tidak, aku tidak mengkhianati kekasihku, aku tidak berniat atau bermaksud menduakan atau berselingkuh atau apalah namanya, aku hanya membagi kepedulianku, tapi jika yang aku maksud itu berlebihan, aku bersedia menguranginya, toh dia hanya bagian dari masa laluku yang seharusnya aku lupakan dan memang aku lupakan, aku memang merasakan dilema, aku berusaha menutupi dan berbohong pada diriku bahwa aku sudah tak mempunyai rasa apapun padanya, sedikit  ya hanya sedikit satu persen kemungkinan rasaku tertarikku padanya, hanya tertarik tidak lebih, ya aku akui aku memang tidak pandai menulis dengan baik, atau merangkai kosa kata dengan indah, tapi perasaanku memang susah di ungkapkan dengan kata-kata sastra.

Aku mulai terbiasa dengan keadaan ini, dengan dua orang yang berbeda yang tulus memberikan perhatiannya padaku, aku mulai menikmati saat-saat mereka dengan bergantian menarik perhatianku dengan cara yang berbeda pula, dan memasuki ruang pikiran ini dengan saat yang bersamaan, tapi aku akan tetap memilih kekasih pertamaku, jika aku pada akhirnya memang harus memilih. Walau aku memang ingin keduanya tak merasa tersakiti olehku, tapi aku tahu suatu saat nanti memang akan ada yang tersakiti.

Terima kasih. Semuanya.

Di tulis saat aku merasakan dilema yang luar biasa.

That's my feel
Desy :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar