Ku melihat langit-langit kamarku yang di cat coklat itu, perlahan ku menutup mataku, kejadian kecil itu terulang lagi, wajahmu menari-nari dalam bayanganku, auramu sungguh dapat kurasakan, parfum yang kau gunakan saat kau mendekapku, tatapanmu yang meyakinkanku bahwa kau benar tulus padaku, kejadian kecil itu saat kau mengajakku di sebuah taman kota, mungkin ini bisa dikatakan "kencan". Awalnya kau biasa saja, sampai sebelum kau menyuruhku menutup mataku, sejujurnya aku takut, aku takut jika ku membuka mataku, kau sudah tak ada, aku sendirian, aku takur karena ku "tak, tahu arah jalan pulang".
"Tutup matamu" katamu singkat.
"Mau apa?" aku sedikit curiga.
"Tenang, aku ga akan ngapa-ngapain ko" ucapnya dengan renyah tawamu.
"Oke, oke, tapi jangan ninggalin aku ya? Janji?!"
"Emang kenapa? Haha iya, aku janji!" katamu seolah meyakinkanku bahwa kau memang berjanji.
"Tutup ya" ucapmu halus.
"Iya" kataku ragu-ragu.
Ku menutup mataku setelah dia meyakinkanku bahwa dia tak akan meninggalkanku, ketika hitungan ketiga dia menyuruhku membuka mataku, sontak ku terkejut dengan olahnya, sehingga ku tak bisa menutup senyum gembiraku, aku tak meyangka bahwa dia melakukan ini hanya untukku.
"Kau siap?" tanyanya
"Siap!" jawabku mantap
"Satu, dua, tiga, buka matamu" katanya
Dibawah rindangnya pohon taman, dia seakan mengarahkanku untuk melihat puluhan balon warna warni laksana pelangi ada di depan ku, bulatnya balon itu melukiskan bahwa dia benar-benar bulat untuk menginginkanku, dan yang membuatku terkejut lagi, di balon-balon itu tertulis "will you be my girlfriend?" "terima aku ya" "I love you" "aku sayang kamu" .
Sore itu mungkin menjadi senja terindahku, yag tak kupercaya, kau seseorang yang sejak dulu bersamaku yang hanya dalam ikatan "pertemanan" sekarang menjadi sepasang "kekasih" sekejap aku tak percaya, lamunanku buyar ketika kau memanggil namaku, dan berteriak seakan untuk mengulang tulisan kecil dalam balon itu.
"Hey, kau! Ya kau! Yang sedang memandang balon milikku!" teriaknya "I love you!" "Will you be my girlfriend?" Teriaknya
Sontak orang yang di sekelilingnya langsung mengarahkan bola matanya tepat kearahnya, sedikit malu dan bangga yang ku rasakan saat itu, terharu juga, baru sekali aku dilakukan secara "istimewa" walau hanya dengan balon-balon gas itu.
"Aku mau" jawabku
"Apa? Aku ga denger nih, kita kan aga jauh"
"Iya, aku mau! Aku mau jadi pacar kamu!" balasku dengan "sedikit" berteriak.
Dengan sedikit berlari dia menghapiriku, tersenyum bahagia kepadaku.
"Terima kasih! Kau tahu? Aku mencintaimu!"
"Haha, iya aku tau, aku juga!" balasku.
"Jadi? Ehmmm, sekarang kita? Haha" katamu disertai tawamu.
"Sekarang kita apa? Haha" tanyaku balik menanyakan dengan tawa kecilku.
"Aku seneng, tau gitu dari dulu aja ya, aku ngelakuin ini"
"Aku juga seneng, makasih ya"
"Everything for you"
Kata terakhir yang kau ucapkan pada sore itu, suaramu yang menggelora dan membahana yang masih terngiang-ngiang dalam fikiranku, membawaku dalam mimpiku, terima kasih cinta pertamaku, kau telah melukiskan hari bahagiaku bersamamu, tapi aku tahu itu dulu, tapi tenang, tak semudah itu ku melupakanmu, kejadian awal yang kau berikan padaku sangat manis, sampai aku tak tahu jika akhir dari cerita kita adalah yang terpahit, harusnya aku tak terbuai dengan janjimu, tapi itu memang salahku, yang terlalu mempercayaimu, mungkin kau sekarang telah bahagia dengan seseorang yang benar pilihanmu, aku selalu mendoakanmu, kau pernah jadi yang terbaik, yakinku.
Untukmu,
mantan terindahku
yang pernah menjadi masa laluku
terima kasih :)
That's my feel
Desy :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar