Aku lagi-lagi melihat ke belakang, kadang sampai memutar badanku hanya untuk melihatnya, aku selalu tenggelam dalam matanya, mata di balik kaca mata kotak itu mampu menghipnotisku sampai ke dasar pikiranku, aku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang memiliki mata hazel itu.
Melihatnya dari jauh saja sudah membuatku tak tahan, aku ingin memilikinya, aku ingin bersandar di bahunya, merasakan aroma tubuhnya yang meresap dengan diam dalam hidungku, tentunya yang aku ingin memiliki senyumnya seutuhnya.
"Gue belum pernah liat doi senyum." kataku tiba-tiba.
"Dia tuh orang berdarah dingin, gak mungkin senyum, tatapannya aja udah mematikan." Bella membalas dengan yakin.
"Elo emang gila Bel, dia itu gak pernah senyum, karna gak ada yang bikin dia senyum."
"Ah so tau amat sih lo. Dia itu emang orangnya misterius tau, jangan-jangan dia melihara tuyul lagi."
"Heh makin ngaco lo, gak mungkin dia kaya gitu!" Kataku sambil mendorong bahu Bella.
"Lah habis, dia itu ngobrol aja jarang, senyum kagak, dan kalo istirahat dia itu suka tiba-tiba ngilang."
Aku terdiam, Bella benar, selama jam istirahat aku tidak pernah melihatnya di kelas atau di kantin, tak tahu jika dia diam di perpustakaan di koridor sekolah.
"Tau ah. Yang penting gue udah jatuh cinta sama dia. Hehehe."
"Percuma elo tergila-gila sama dia, kalo dia kenal elo aja engga."
"Dia kenal gue kok, gue yakin dia tau nama gue."
"Cuma nama, pernah di sebut aja engga."
"Kenapa sih lo jadi temen bukannya dukung dikit malah bikin pesimis mulu."
"Gue cuma takut elo yang sakit, gue cuma takut elo yang nanti ngeluarin air mata. Gue cuma pengen yang terbaik buat lo Nis."
Aku terdiam lemah.
"Elo udah gak kaya dulu lagi. Elo berubah setelah lo tau Ryan."
"Gue udah jatuh cinta sama dia, jatuh cinta sampai berkali-kali malah, rasa gue udah jadi kaya bunga plastik buat dia, bunga yang tak pernah mati, dan tak akan berubah."
"Itu terlalu berlebihan, jangan kasih hati elo buat orang yang sama sekali engga peduli akan hadirnya elo Nis! Kecuali elo yang mulai, elo yang megang start duluan, selamanya bakal kaya gini terus, kalo elo tetep nunggu dia. Dia gak akan berubah, kecuali elo yang ngerubah!"
"Gue tau Bel, tapi gue terlalu takut untuk mulai, gue takut dia semakin ngejauhin gue." kataku pasrah.
"Lah bukannya kemaren lo bilang lo mau yang duluan mulai?"
"Iya tapi gue pikir-pikir lagi aja deh kali ya."
"Cuma dua pilihannya, elo yang duluan deketin, yang kedua elo harus lupain dia dan cari yang lain, yang lebih normal dari dia!"
Aku menghebuskan nafas pasrah, sambil melirik ke arahnya, cukup lama, ku pandangi lekat wajahnya dalam diam, dalam jarak. Dia balik menatap! Dia melihatku! Aku balik menatap lurus matanya, aku tidak tahu apa yang dia lihat dari aku, tapi tak terbesit senyum di bibirnya, dia melihatku dengan muka datar, tak ada ekspresi sedikitpun, lalu dia melempar wajahnya ke arah jendela. Hanya beberapa detik kita saling menatap, aku ingin berhenti di waktu tadi. Apa yang kamu pikirkan ketika melihatku? Apa kamu baru sadar kalo ada orang yang memperhatikanmu dalam diam? Apa baru sekarang kamu menyadari kehadiranku? Apa sekarang kamu mau sedikit saja memberikan suaramu untukku? Maukah kamu berbicara denganku?
"Bel! Dia tadi ngeliat gue! Dia ngeliat ke arah gue!" kataku girang.
"Terus elo mau ngapain sekarang? Elo masih mau diem aja gitu? Masih mau nungguin dia yang mulai. Mungkin yang tadi kode buat lo." balasnya datar.
"Gue mau nyoba, gue harus coba!"
"Semangat Nis, gue tau elo pasti bisa, semoga elo bisa melelehkan hatinya dan elo bisa jadi putri dan berakhir bahagia selamanya." canda Bella.
"Hahaha, thank you Bella, elo emang sahabat yang paling baik! Selamanya!"
"Gue cuma mau yang terbaik buat lo Nis." Bella tersenyum lemah.
Aku menatap orang yang selama ini aku puja, orang yang selama dua tahun ini mengunci diri di dasar pikiranku, aku tersenyum lemah menatapnya walau dari kejauhan. Perasaanku tidak berubah saat jumpa yang pertama, saat pertama kali aku melihat lurus ke arah matamu, dan kamu hanya diam menatap aneh diriku.
***
Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur, ku tarik selimut dan ku dekap guling erat-erat, untuk mengurangi rasa sesak karenamu seakan aku mencari kekuatan di dalamnya. Ku lempar pandanganku ke langit-langit kamar, lagi-lagi namamu yang memenuhi ruang otakku, lagi-lagi bayangmu yang mengayun lembut di atasnya, tetesan air tiba-tiba mengalir tanpa sadar, air mengalir tanpa di seka, membiarkan bantal membasah dengan sendirinya, aku tidak tahu alasanku menangis, tapi mungkin satu-satunya alasanku menangis karenamu, air mata ini untuk Ryan, seseorang yang terlalu misterius bagiku, terlalu sempurna di mataku.
Memikirkan orang yang sama sekali tidak memikirkanku. Merindukan seseorang yang tidak berbalik rindu, aku benci saat-saat seperti ini, melamun sendiri dan hanya dirimu yang ada di dalamnya, pandanganku kosong, tak ada ruang untuk lelaki lain pikirku. Aku sudah terpelosok ke dalam dirimu yang berpijar, biarkan aku menjadi bintang sirius di hatimu, bintang yang paling berpijar di antara yang lain, meski hanya sementara, meski akan cepat redup, tapi akan menjadi yang paling terang dan akan terus di kenang.
"Kamu enggak tau seberapa sayangnya aku sama kamu Yan, seberapa lama dan seberapa perihnya menahan perasaan ini sendirian, tapi aku terlalu sayang sama kamu, jadi aku tidak bisa seenaknya membuang perasaan ini. Rasa sayang aku sama kamu sudah terlalu dalam, sudah terlalu besar. Aku emang tolol yang membuang-buang waktuku hanya untuk melihatmu dalam jarak, aku memang diam, tapi pikiranku selalu berujung pada dirimu. Ryan."
Bersambung ke Sekarang atau Tidak Sama Sekali -part III-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar