Aku, kamu sudah tidak menjadi kita. Sudah berapa puluh kali aku katakan dan jelaskan panjang lebar ini itu padamu. Sudahlah, aku sudah muak dengan omonganmu, aku sudah muak dengan usahamu yang meyakinkanku jika bukan kamu yang salah, lalu kamu berpikir kalau aku yang salah? Aku yang menyebabkan ini semua? Aku? Tak usah lagi memutar balikan fakta, Sayang! Tak usah menuduh si ini dan si itu. Tak usah menutup tutupi kesalahanmu dengan kebohongan yang kau tambal sana sini, aku sudah tidak percaya, dan aku sudah kehilangan rasa terhadapmu, rasa cinta yang tumbuh menjalar itu, rasa cinta yang hampir membunuh pikiran itu! Aku sudah muak, berhentilah membuatku untuk mengasihanimu, janganlah kau coba untuk membuatku yakin dan jangan jelaskan alasan yang tak bisa lagi aku percaya.
Bersumpah seenak jidat, berjanji seenaknya, mengingkari dengan mudahnya, menangis air mata buaya, kamu fikir aku percaya? Kamu pikir aku akan membuat rasa? Kamu pikir aku akan kembali ke dalam jeratanmu lagi? Sudahlah Sayang, jangan membuat dirimu terlihat lebih tolol dari biasanya, jangan membuat dirimu terlihat kurang kasih sayang, sikapmu sudah membuatku muak lebih dari yang ada di benakmu sekarang, aku sudah lelah, kapan kau mau menyerah?
Aku sudah bosan melihat namamu yang membuat ponselku berdering, mau sampai kapan kau habiskan pulsamu untuk menghubungiku? Mau sampai kapan kau sisakan waktumu untuk membuang tenagamu dengan mengetik kata-kata tidak penting untuk dikirim padaku? Se-kurang-kerjaan itukah dirimu? Tak usah kau buang tenaga dengan menghubungiku lagi, tak usah berbicara tak tentu arah yang membuatku peduli lagi, tak usah berjanji sejauh angkasa untuk mengambil perhatianku lagi. Aku sudah jengah dengan bualanmu yang semuanya bohong itu!
Mengapa? Mengapa aku semuak itu padamu? Mengapa aku se-tidak peduli itu terhadapmu? Haruskah aku bercerita lagi? Haruskah aku menjelaskan dengan ribuan kosa kata agar bisa membuatmu mengerti? Kau telah tega berdusta di kala ku setia, kau hempaskan janjimu yang seindah rasi bintang di angkasa, kau bunuh perasaanku dengan cara mendua, sudahkah kau mengerti mengapa aku muak terhadapmu? Tapi kau tidak berhenti mengusik hidupku, kau datang seolah tidak terjadi apa-apa, seolah semua baik-baik saja, sebodoh dan setolol itukah dirimu? Se-tidak punya perasaan itukah dirimu? Kau pikir aku hanya wayang yang dapat di gerakan dan di mainkan seenakmu? Kau pikir se-tidak punya perasaan itukah diriku? Aku tidak sebodoh dirimu Sayang!
Iya aku tahu, aku mengerti jika aku yang paling berkesan di hatimu, aku memang banyak diam, aku memang lebih banyak bertindak, dan setelah kau lakukan itu semua aku masih terlihat baik-baik saja. Kamu tidak tahu betapa menyakitkannya itu, kamu tidak tahu berapa malam aku jatuhkan air mata tanpa sebab karenamu, kamu tidak tahu betapa sekaratnya aku saat mengetahui wujudmu sebenarnya. Tapi tenanglah Sayang, aku tidak akan menyebar luaskan tentang wujud aslimu yang seburuk itu, aku masih akan tetap seperti dulu, diam tetapi akan membunuh perlahan.
Jadi kau sudah mengerti? Aku sudah jelaskan panjang lebar padamu, aku sudah memberikan kesempatan padamu, tapi tak pernah kau gubris, kau berjalan seolah tidak peduli, tapi kini, aku sudah pergi dan kau masih memintaku kembali, tak jengahkah dirimu dengan amarahku yang selalu membara ketika berbicara denganmu? Tak bosankah dirimu dengan omongan panjang lebarku? Mengapa kau masih berharap pada kenangan yang akan kembali? Mengapa kau masih saja mengerjar bayanganku yang tak pasti? Aku lelah terus menerus berlari dari kejaranmu yang tiada henti.
Sudah aku tekankan berkali-kali padamu, sudah aku beri ribuan saran terhadapmu, tapi kau tak berubah, kau masih saja sama, kau si pembohong, si perusak kebahagiaan, dan si bermulut besar. Kau masih saja menjadi si pengarang yang mempunyai cerita seribu satu malam, seindah dongeng, kau masih saja si pemberi harapan seluas cakrawala, tapi bohong semua.
Intinya kapan kau akan berhenti mengusik hidupku? Kapan kau akan berhenti menggangguku dengan janji sempurnamu itu? Kapankah kau akan mengikhlaskanku Sayang? Aku sudah pusing memikirkan caranya terus menerus menghindar darimu. Aku bingung mengapa dulu dengan mudah aku menerima orang sepertimu, mengapa dulu aku dengan mudah terpancing cinta yang di umpan olehmu, sebodoh apakah diriku dulu dengan mudah menerimamu?
Jadi Sayang, berhentilah membujukku untuk bersama dengamu seperti dulu, berhentilah menghubungiku atau seperti yang kau bilang jika aku selalu ada di pikiranmu, aku sekarang sadar jika aku memang kau permainkan, berhentilah menyakiti orang seperti mainan yang merajuk meminta kebebasan darimu Sayang, jangan biarkan aku membunuh dirimu secara diam dan perlahan dengan menyakitkan.
Tidak usah bersandiwara, tidak usah berdusta, hanya katakan kau menyerah, itu saja.
That's my feel, D.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar