Ini kali pertama kita berkontak mata tapi ada sesuatu yang menggetarkan dada seolah masuk ke dalam dunia fantasi yang membuat aku mengikik geli, apa ini yang mereka bilang cinta pada pandangan pertama yang katanya membuat hati mengulum logika dan adanya perasaan aneh yang menusuk dalam hati yang telah lama sepi.
Kita dipertemukan dalam ruang tanpa permisi dan saling memuja dalam hati. Hatiku, belum tentu hatimu. Ciptaan Tuhan yang aku panggil "kamu" sudah berhasil mengisi sedikit ruang hati, menambal tiap sudut yang berlubang ini dengan sedikit senyuman pagi. Hai dan selamat pagi dambaku lontarkan kepada kamu yang menjulang tinggi tapi ada gengsi yang menukik ujung otak yang sepersekian detik lalu terebut kewarasannya dan tanpa praduga, sapamu menguap di ruang kata-kata lalu seketika inginku untuk datang dan mendekap tapi apa daya kamu masih bayangan dalam nyata.
Berhari kita dalam canda membuat aku tenggelam dalam tanya apa yang kamu rasakan sama seperti yang kurasakan? Dan pertanyaan itu sukses membuatku terpuruk dalam kelam juga diam. Baru saja mengenal masa iya sudah ada rasa? Seperti di film saja. Tapi sayangnya ini yang aku rasakan saat ini. Sepertinya aku mulai mengikhlaskan dia yang telah pergi dan mencoba membuka hati dan memasukan kamu di dalamnya yang kuharap akan semudah itu tapi sepertinya kenyataan tidak begitu mendukung. Aku memilihmu, kamu memilihnya dan selalu seperti itu.
Disaat aku sudah siap membuka hati kamu yang pertama kali baris paling depan aku merasa ada binar mata yang sejatinya itu tulus tapi harus ku akui mungkin itu bukan untukku. Mengapa ketika aku berusaha mengikhlaskan dia yang telah lama pergi dan memutuskan kamu sebagai pengganti kamu malah berpikir untuk lari dan menjadikan aku sebagai titik temu ketika kamu penat dengan duniamu?
Selalu berpikir untuk menunggu tapi jika yang kutunggu enggan datang yang ada hanya luka yang semakin menganga biru penuh pilu yang akan semakin sulit untuk diobati. Yang tersisa hanya lirih juga perih, biarkan saja rindu merintih mendamba dirimu yang datang mengepis gelisah dalam diri.
Harusnya aku yakinkan bahwasanya kamu tak akan menjadi pemilik hati, sekali tatapan tidak cukup untuk menguatkan jika kamu juga sayang, belum jua memulai aku harus mengatakan kata selamat tinggal. Dan sekarang enggan kutunggu lagi dua bening mata yang menjadi awal rasa ini yang kini melengkungkan kesedihan di jejak kaki.
That's my feel, D.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar